Cerpen *
Bertemanlah sahabat.
Jadi waktu semester satu di
kelas 1 SMA Pramuka open recruitment anggota, aku gak tertarik sama sekali buat
kegiatan ini, dipikiran aku kegiatan ini cuma abis-abisin waktu buang-buang
tenaga dan semua kelelahan jadi satu. Pada suatu saat temen aku nyaranin aku
buat ikut kegiatan ini ya buat nambah nambah kegiatan. Awalnya sih aku gak mau
dan akhir nya ada satu dorongan yang buat aku jadi mau gabung sama kegiatan
ini.
“itu loh kakak itu ganteng banget ya ampun, siapa sih nama nya?”
seru ku dalam hati. “Andai aja ya” khayal ku sambil senyum sendiri dan sampai
akhir nya berhenti karena laras.“ kamu kenapa sih, Kok senyum sendiri? Oh aku
tau kamu lagi jatuh cinta ya?” cela nya pada ku. “Gak ah sok tau kamu, aku tadi
Cuma keinget film komedi yang baru itu loh laras, sumpah lucu banget!?” jawab
ku mengalihkan pembicaraan. “Yakin kamu, jangan bohong atuh gak boleh nanti
kena marah mama” goda laras pada ku agar memberi tahunya apa yang terjadi pada
ku.
Tapi aku hanya
diam dan tak menanggapi pertanyaannya, ya aku seperti itu dan laras orang yang
harus tau apa itu. Aku selalu berusaha menutupi dunia ku pada orang lain.
Sehingga itu membuat batas antara aku dan orang di sekitar ku tapi hukum itu
tidak berlaku untuk laras. Aku berharap ada yang selalu bisa memahami aku.
Ku coba pikirkan tawaran yang kemarin, buat gabung di pramuka
walaupun sebenarnya aku gak tau ini bakalan bertahan lama atau gak, tapi kalau
dipikir-pikir gak ada salah nya kalau aku coba dulu, tapi sebelum aku gabung
organisasi ini aku banyak tanya sama laras, temen dekat yang paling mengerti
aku.
“ras pramuka itu gimana sih?” tanya ku. “Emang kamu mau join, atau
tanya doang?” tanya laras balik, “ih sebel deh, jawab aja kali ras, Resek kamu.
Jadi gimana sih pramuka itu?” tanya aku balik. “Yang aku tau, kalau pramuka itu
seru tau apalagi kalau...” laras memberhentikan pembicaraan nya. Tanya ku “
kalau apa ras?” rasa penasaran jadi bertambah. “Apalagi kalau disana ada banyak
cowok ganteng nya, hahaha” lanjut laras sambil ketawa puas.
“Duh yang benar aja deh, apa
keliatan ya kalau aku lagi suka sama orang, kok bisa sih padahal aku dah
berusah semampu mungkin buat nutupi ini dari orang lain” umpat ku dalam hati.
“Kamu tidak apa-apa kan, kok muka kamu merah sih” tanya laras. “Gak ah biasa
aja, disini kok panas banget ya cuaca nya. Pindah tempat yuk” ajak ku kepada
laras.
Pengalihan topik pun berhasil, laras sudah lupa sama cerita
yang tadi. Jadi aku sudah putusin bahwasanya aku bakalan join ikut kegiatan
pramuka tahun ini. Tanpa ragu dan yakin bakalan seru kaya yang dikatakan laras
pada ku.
Aku mengajak
laras mengantarkan semua persyaratan dan
berkas untuk jadi anggota baru di organisasi pramuka, kami berdua segera menuju
sekre tempat pendaftaran. Dari kejauhan lorong kelas aku melihat anak itu.
Benar sekali penglihatanku tidak salah itu anak itu, kok aku jadi salah tingkah
begini serasa kaki ku berat sekali dan langkah ku berubah menjadi lambat rasanya
tanah berisi lumpur padat dan lengket untuk melangkahkan kaki seakan ditarik
gaya magnet yang bersatu antara kutub nya.
Dan aku hentikan
langkah kaki, menarik laras kembali yang sedikit lebih maju kedepan dari ku,
dan berkata untuk kembali lagi kemari nanti sore setelah pulang sekolah. Laras
terus melihat dan memperhatikan aku setiap saat, suatu waktu dia tarik wajah ku
menghadap wajah nya heran dan kebingungan.
Bel berbunyi tanda
pelajaran hari ini berakhir, laras langsung menarik ku keluar dari kelas dan
kembali melihat wajah ku memperhatikan ku dari kepala sampai ujung kaki sambil
mengerutkan keningnya dan berkata
“aku bingung deh sama kamu, tadi aku liat kamu salah tingkah terus
ini kamu jadi tenang, kok jadi aku yang tidak tenang ya?” tanya laras pada ku.
“Tidak ah, itu perasaan kamu kali ras” sahut ku pada laras. “ Sudah yuk temenin
aku anterin berkas ini buat daftar, keburu tutup tuh sekre nya malah ini hari
sudah mendung lagi”
Setelah kami
selesai antarkan berkas pendaftaran, kami berdua segera menuju rumah
masing-masing. Keadaan cuaca hari itu mendung sekali angin berhembus kencang dan
membuat rambut ku melayang menghalangi pandangan ku, suara riuh nya
menggoyangkan dedaunan, burung-burung terbang mencari tempat berteduh seperti
nya hujan akan turun deras. Aku mempercepat langkah ku menuju gerbang sekolah, air
tuhan dari langit pun membasahi bumi ini.
Dan aku terus
berjalan, berusaha untuk tetap berada di bawah gerimis dan sengaja menanti
hujan membasahi tubuh ku dan menikmati sejuknya. Saat di tengah deras nya hujan,
seseorang berlari menghampiri ku
mengajak ku untuk berteduh sebentar dihalte bus dekat gerbang sekolah
kemudian dia bertanya siapa nama ku, aku hanya diam seribu kata. Aku begitu
menikmati suasana hujan sore itu dan hanya mendengarkan suara rintikan hujan.
Saat aku terbawa
suasana, ku berusaha untuk melihat orang yang
menyapa ku tadi, tetapi saat aku membuka mata ku pandangan ku menghilang,
aku sudah sampai di rumah, aku bingung dan
berusaha bangkit dari kasur ini
tapi badan ku lelah sekali serasa mengangkat 10 karung beras di pasar. Aku
tidak mampu berdiri dan kembali berbaring di kasur.
“kamu ngapain toh hujan-hujanan, mbok yo teduhan loh nduk” tanya
ibu pada ku. Aku hanya menganggukkan kepala ku. Bahkan untuk menjawab
pertanyaan ibu aku merasa rahang ku sangat berat, aku kembali beristirahat dan
memutuskan pembicaraan ibu.
Hari pun berlalu
aku tidak masuk sekolah hari ini, aku sudah periksa kerumah sakit ternyata ini
hanya demam biasa, tapi masih terasa sekali badan ku lelah.
Selama sakit aku banyak menghabiskan waktu di rumah, sesekali ku
pandangi jam dinding berputar mengitari angka angka besar garis-garis menit,
dari detik menjadi menit berganti jam. Akhirnya jam sekolah berakhir dan laras
datang menjenguk ku yang tidak hadir ke kelas hari ini. Dia bertanya banyak
apakah aku baik-baik saja, aku hanya menganggukkan kepala ku dan senyum kepada
nya.
Tiba-tiba laras memeluk erat diri ku dan mencucurkan air mata
karena merasa bersalah meninggalkan aku sendiri di jalan saat pulang sekolah,
karena laras menangis aku jadi terharu terbawa suasana, aku berusaha berbicara
bahwa aku baik-baik saja dan jangan khawatir. Tapi laras tidak mendengarkan
perkataan ku dan malah menangis terisak-isak, aku tak terbiasa menangis.
Setelah beberapa saat aku coba mencairkan suasana nya menjadi lebih
ringan aku menceritakakan kelakuan kami berdua di sekolah.tidak mengerjakan pr,
izin dari kelas cabut ke kantin, izin
ekscholl main ke warnet, kenangan bersama sahabat yang sulit di lupakan.
Setelah beberapa saat laras mengeluarkan sebuah lembar kertas
kecil, dan memberikan nya kepada ku, katanya laras dia menemukan kertas itu
terletak di atas meja ku, dan aku mulai membacanya.
“Assalamualaikum wr.wb. hay salam kenal saya dari sesama pencinta
hujan. Jaga kesehatan ya sekarang lagi musim penghujan,jangan lupa sedia
payung...”. “ Siapa sih ini
ras pakai inisial segala??”. “ emang apa inisialnya”tanya laras. “Ini huruf A doang
ras” jawab ku. Ya sudahlah paling juga fans kali ya canda ku pada laras.
“jadi besok kamu sudah bisa masuk sekolah?” tanya laras. “Ya iyalah besok aku sekolah, bosen tau dirumah seharian” jawab ku, “ aku kangen nongkrong dikantin, ngutangnya juga hahaha...“ tambahku, laras tertawa setengah mati mengingat perkataan ku tadi seraya berkata ” jangan lupa neng itu utangnya pakai bunga 10% loh”, “ hah masa iya ras? Tanya ku balik, “ ya gak lah aku becanda aja” jawab nya, hampir saja aku tanggapi serius.
Setelah beberapa lama aku dan laras berbagi cerita dirumahku, keadaanku semangkin membaik dan tidak terasa waktu berlalu cepat, dan laras harus pulang walaupun masih banyak yang ingin kami bicarakan bersama secara langsung.
Akhirnya aku sendiri lagi bersama ibu dirumah, karena aku anak sematawayang yang dibesarkan ibu seorang diri, ibu dan ayah ku bercerai saat aku masih berumur 1 tahun aku bahkan tidak tau bagaimana wajah ayah ku. Karena ibu akan marah saat aku bertanya tentang ayah. Ibu tidak suka mengenang orang yang tidak bisa memilih kepada siapa mesti dia kembali. Sesekali ibu menitikan air mata saat aku bercerita tentang orang tua teman-teman ku disekolah, dan aku hanya bisa melihat dan memeluk nya. Aku tidak tau apa yang sedang dirasakan ibu aku sangat merasa asing dengan air mata.
Malam pun datang, ku pandangi langit gelap bintang tak menampakkan diri nya bulan meredupkan cahaya nya, semua terasa kaku, hujan datang lagi menemani hati yang kelabu. Aku rasakan rintikan air hujan jatuh di telapak tangan ku sesekaliku cipratkan air hujan mengenai wajah ku. Aku senang sekali hujan turun kata kata itu yang selalu aku ucapkan sedari tadi.
Aku baringkan tubuh ku, menarik kertas kecil yang tak beralamat yang ditujukan pada ku, dalam hati aku terus bertanya siapa yang mengirim surat ini, rasa penasaran ini mulai memenuhi hati ku. Aku langsung melompat dari kasur dan berlari mencari ibu, aku baru teringat sesuatu.
aku lupa tanya sama ibu siapa yang anterin aku kemarin waktu pingsan, ku coba dekati ibu dan bertanya,” ibu siapa yang anterin aku balik ke rumah waktu pingsan?” tanya ku pada ibu”, “ oh iya nak ibu lupa menanyai pemuda itu, kemarin ibu khawatir banget sama kamu ibu langsung ngurusin kamu dulu. Ibu saja tidak sempat bilang terima kasih sama dia?”.” Serius bu? Kok bisa?” tanya ku lagi.” Iya kalau ibu perhatikan dia pun buru buru pergi nak” jawab ibu. “ Ibu ingat gak ciri-cirinya gimana?” tanya ku balik. “ ibu gak ada perhatikan pula nak” jawab ibu. “Ya sudah lah bu I love you, good night” ku pergi kembali ke kamar ku.
Aku kembali kesekolah pagi ini, aku dan laras bareng lagi, kami menghabiskan Banyak waktu bersama. Setelah kami dari kantin kami melihat pengumuman bahwa ekschool pramuka di mulai nanti sore setelah pulang sekolah. Dan Aku sudah siap dengan itu.
Akhirnya, jam belajar pun berakhir hari ini, aku bersiap siap untuk pulang dan menyiapkan segala kebutuhan pramuka dan harus kembali kesekolah tepat waktu untuk kegiatan pramuka. This my first time, i am ready semangat ku tiba tiba muncul semangkin membara karena aku akan berjumpa dengan kakak itu. Aku semangkin tidak sabaran untuk cepat sampai ke sekolah ungkapku dalam hati, sambil menyemangati diri sendiri
Aku sampai di sekolah, ku lihat keadaan sekitar sepertinya tidak ada orang yang datang. Tetapi saat ku lihat jam,ini sudah telat dari waktu pengumuman nya tanya ku heran dalam hati.” Kemana pergi nya semua orang ya?” aku keheranan. Aku berputar- putar mengelilingi hampir seluruh lapangan,dan hampir berputus asa. Ternyata mereka berkumpul di Aula sekolah. “Ya ampun aku sudah telat” umpat ku dalam hati aku terus menambah kecepatan ku berlari. Dari kejauhan aku melihat beberapa orang berbaris terpisah dengan barisan lain nya, seperti nya itu yang telat kena hukuman. “Gimana ya cara aku biar tidak ketahuan telat??” pikiran ku berputar mencari ide sambil mengambil langkah langkah kecil.
Saat aku hampir tiba di barisan, Tiba tiba seseorang memanggilku dan bertanya pada aku,” anggota baru pramuka?” pertanyaan yang mengejutkan ku,” spontan aku berkata iya, gimana nih padahal tadi kan mau bohong kok jujur banget sih, pasti kena hukuman ini” pikiranku kacau balau. Dan setelah beberapa saat terdiam dia menarik tangan ku, mengajak ku berkumpul dengan barisan lainnya.
Dia memisahkan aku dengan yang lain, berdiam seperti memikirkan apa hukuman yang pantas buat ku, aku tau kalau dia menyusun niat buruk saat dia senyum senyum sendiri melihat ku. Ya benar sekali kata ku dia menyuruhku lari berputar 3 kali lapangan bola basket sambil berteriak “i’m late”. Malu tak terbendung wajah Hitam ku tiba-tiba merah padam sesekali ku tutup wajah ku menggunakan kacu pramuka ku.
“Dasar laki-laki jahannam” umpatku, “ lihat saja pasti kau akan dapat balasan nya”. baru saja sehat sudah disuruh lari keliling lapangan, kan badan aku masih lesu” rasa kesal ini tak bisa di sembunyikan.
setiap orang yang ada di sekitar lapangan sesekali melihat ku sambil tertawa saat aku berteriak i’m late. Setelah hukuman hampir selesai ada yang datang mendekati laki-laki jahil itu, kemudian berbisik padanya, seperti rahasia tapi tidak umum.
saat aku hampir menyelesaikan hukumanku dan mendekati laki-laki jahil itu, dia menyuruh ku berhenti dan tidak melanjutkan hukuman ku, aku tidak tahu apalagi yang mereka rencanakan. Dalam hati ku, aku meyakinkan kalau aku tidak akan mengikuti kegiatan ini lagi.
Pada saat itu aku yakin kalau kegiatan pramuka sama seperti yang kubayangkan pertama kali, dan apa yang pernah di katakan laras tidak ada benar nya sedikit pun. Aku lelah sekali. Dengan wajah lelah aku mencari botol minum ku, ternyata botol minum ku tertinggal di rumah “ ya ampun gimana sih, sial sekali aku hari ini” umpat ku sambil terdiam sendiri dan termenung. “Dimana ya kakak itu kok dari tadi tidak ada keliatan ya, apa dia tidak datang ya” terpintas di benak ku sambil senyum tak menentu. “Eh ngapain aku cariin dia, kenal juga enggak” jawaban dalam hati ku.
“Gimana tadi lelah ya, jangan telat lagi ini pramuka kita harus siap jadi orang disiplin, disini anti banget sama yang nama nya telat” sarannya pada ku.” Resek ini orang, aku lagi butuh air bang, bukan minta di ceramahin” ungkapku sebal sekali, aku hanya diam dan meluruskan kaki ku yang lelah berlarian. Dia mengulurkan sebotol air mineral pada ku, spontan aku melihatnya ternyata dialah orangnya.
“Gak usah kakak saya tidak haus kok, minum aja sendiri makasih” jawab ku gelagapan tidak karuan. “ Yakin kamu, tapi seperti nya kamu tidak ada bawa minum” tanya nya balik. Aku hanya senyum kecil tidak percaya diri. Tiba tiba dia membuka tutup botolnya dan langsung memberikan nya pada ku, aku merasa bersalah jika menolak pemberian nya dengan muka yang datar ku beranikan mengambil botol minum itu dan mulai meminumnya. Dia hanya diam dan sesekali menatap ku, seperti Ada yang lain.
Dan kegiatan pramuka hari ini berakhir, rasa lelah ku sedikit berkurang karena minum air mineral yang diberikan kakak itu aku tersenyum, sesampai di rumah. Dan aku langsung memberitahukan kabar bahagia ini kepada sahabat ku laras. “Ras kamu benar ya kalau ikut pramuka itu seru” kataku, “emang kenapa kamu?” jawab nya.”sudah besok di sekolah aku bagi tau”, “oke oke aku tunggu ya” jawab laras.
Pagi pun datang aku bergegas pergi kesekolah, sesampai nya di kelas laras langsung menyapaku “Neng gimana?” tanyanya, “apanya gimana?” tanyaku balik pura pura lupa. “ih kamu lupa deh!!” jawab nya.” iya begini ceritanya, kemarin waktu aku datang pramuka aku telat terus aku di hukum suruh 3 kali mengelilingi lapangan basket, tapi waktu hampir selesai mengelilingi lapangan ada yang suruh untuk menghentikan hukumannya, waktu itu aku bersyukur banget, dan setelah itu berita lebih baiknya kakak cogan(cowok ganteng) kasih aku minum” jelasku pada laras. “emang siapa sih nama kakak cogan tuh??” tanya laras pada ku, “yaitu masalah nya aku kan telat, jadi yang aku dengar dari teman temen yang lain nama kakak itu Alan, dan dia juga baik jawabku, “ oh iyaya” sahut laras sambil tersenyum.
Setelah melalui banyak hal di pramuka, aku mulai di sibukan dengan kegiatan ini aku semangkin jarang menghabiskan waktu bersama laras, pada suatu waktu laras meminta ku untuk menemaninya pergi kesuatu tempat tapi aku tidak bisa, dan menolak untuk menemaninya pergi bersama karena aku di sibukkan dengan kegiatan ku, hubungan kami pun mulai berjarak. Aku rasa ada yang berbeda dengan hubungan persahabatan aku dan laras, laras mudah menjauh sangat aku coba untuk mendekati nya, aku ingin berbagi tentang apa yang aku alami, tapi semua semangkin berat saat aku tau laras tidak akan mendengarkan aku lagi. Akhir akhir ini aku jarang melihat laras masuk kelas, aku cari tahu dan bertanya kepada wali kelas kenapa laras jarang masuk kelas, ibu guru hanya mengatakan bahwa laras sedang izin kemudian ibu guru bertanya pada ku” bukannya kamu teman dekat nya laras, kok tidak tau kabar teman nya seperti apa?” aku hanya diam menundukan wajah ku. “Ibu guru tau pasti kalian mulai lostcontac kan?” tanya nya pada, kemudian ibu guru memberikan ku saran jika kalian dalam masalah selesaikan, dan jangan sampai memutuskan hubungan persahabatan ya nak katanya pada ku. Aku sangat sedih dan khawatir akan kehilangan teman seperti nya. Tapi apa yang bisa aku lakukan.
Karena aku sering sendiri, akhir akhir ini aku menghabiskan waktuku pergi keperpustakaan. Aku kemari karena tidak ada tempat yang senyaman ini, aku duduk ditempat yang langsung berhadapan dengan taman yang indah, dimana biasanya aku dan laras sering duduk berdua disini menghabiskan waktu membaca buku sastra, tapi untuk sekarang seperti nya hal itu mustahil bila terjadi.
Pada waktu yang lain, ketika aku kembali seperti biasa menghabiskan waktu kesendirian ku diperpustakaan aku sering menemukan surat kecil dengan tulisan sandi pramuka, aku mulai mengumpulkan nya dari hari kehari dan saling bertukar cerita melalui sandi pramuka ini, karena aku kira ini sudah yang kebeberapa kali nya aku menerima sandi seperti ini, aku meminta kepada nya untuk langsung menghubungi lewat handphone saja. Tetapi dia malah menolak nya dan berkata “aku lebih suka menulis dan bercerita dilembaran kertas, karena saat aku menulisnya otak ku berpikir hatiku merasa jari ku berbagi”. Pada saat dia membalas seperti itu aku malu karena penolakannya, tapi tersentuh saat membacanya. Dan komunikasi seperti ini terus berlanjut.
Pada saat aku kembali keperpustakaan seperti biasa nya, ditempat yang sering aku menghabiskan waktu membaca, aku melihat seorang laki laki duduk disana, dan aku menghampirinya” maaf ya kak saya biasa nya duduk disini” kataku sinis pada nya, dia menoleh padaku. Aku terkejut ternyata kakak alan yang di tempat ku. Langsung aku berkata “silahkan saja kak duduk disini, biar saya cari tempat yang lain maaf kak sudah mengganggu,” dan aku bergegas meninggal tempat tersebut dan kakak itu menarik tangan ku dan menyuruhku kembali, seraya berkata “ kitakan bisa berbagi kursi, kenapa cari kursi yang lain?” tegasnya.” Hah duduk berdua?? Yang benar ajh, aku lagi gak mimpikan” kataku sambil meyakinkan diri. “ oh oke deh kak” sahut ku, aku geser kursi yang ada di dekat kak Alan sedikit jauh dari nya, mencoba cari posisi nyaman. Tiba-tiba semua kertas keramat bertuliskan sandi pramuka berserakan. “Duh kenapa harus sekarang sih, gak enak banget “ sergap dan cepat jari-jari tangan ini mengutip selembaran-selembaran kertas keramat orang yang jatuh cinta. Beberapa saat ketika aku mengutip kertas itu kak Alan dengan siap membantuku, dan berkata” Emang masih zaman ya pakai surat-suratan?” tanyanya heran, “ hehehe...” jawabku cengingisan gak jelas, rasa pengen lari dari kenyataan, “ gak kok kak Alan nih Cuma kertas biasa, Cuma coretan-coretan kecil” jawab ku ragu. “ oh gitu ya, kok ada kata-kata,” langsung ku alihkan kejadian konyol ini, kecerita yang lain. “ Gimana kak, ada kumpul keanggotaan Pramuka gak minggu ini?” tanyaku, “ oh ya ada nih, jangan lupa ya datang hari sabtu ini” jawabnya, “ok kak” sahutku.
Setelah kejadian konyol itu, Sepanjang waktu kami hanya diam tak bersuara, aku bingung mau mulai pembicaraan dari mana, walaupun kami sudah lama dalam satu organisasi yang sama tapi kali ini suasana nya berbeda dari biasa nya.
Dan akhirnya kak Alan memulai pembicaraan dan bertanya” hem kok kita diam aja” aku hanya tersenyum kecil merasa sedikit kurang nyaman. Kak Alan spontan bertanya “bukannya biasa nya kamu disini selalu duduk berdua?” aku hanya diam menjadi heran dan berpikir kenapa kak Alan bisa tau, aku sering duduk berdua disini ?” ucap ku dalam hati. Aku langsung menundukan wajah ku dan memberanikan diri untuk menceritakan semua nya apa yang terjadi antara aku dan laras. Kakak Alan merespon dan mendengar dengan baik segala yang aku ucapkan, pembicaraan panjan terbuka tiba tiba terbesit dalam hatiku merasa nyaman ketika berbagi cerita kepada kak Alan padahal ini baru pertama kali nya aku berbicara empat mata bersamanya dan rasanya sama seperti aku berbagi cerita dengan Laras. Aku dah janji sama diri aku sediri dan laras, gak ada yang bisa menggantikan posisi laras di hidup ku. Aku coba pegang kata-kata itu.
Tapi aku gak bisa seperti ini terus, aku gak bisa menahan semua nya sendiri aku butuh orang yang mendengarkan aku, aku butuh laras tapi hubungan ku masih belum membaik, aku butuh laras tapi aku malu untuk memulai nya, rasa bingung, sedih, berkecamuk menjadi satu. Tiba tiba kakak Alan mengirim pesan singkat kepada ku dan menuliskan” kalau butuh pendengar hubungi saja nomor ini” aku terkejut dan berulang ulang membaca pesan singkat nya. “Kok kakak Alan tau semua” hatiku semangkin heran dan kebingungan dengan keadaan ini ku coba untuk memahaminya dan kurasa ini semua hanya kebetulan saja.
Keesokan hari aku kembali keperpustakaan, mencari lembaran kertas berisi sandi pramuka yang biasa nya di selipkan di bawah meja, berkali kali aku memeriksanya di bawah meja tapi aku tidak menemukan nya, saat aku mulai mengangkat kepala ku tiba tiba kak Alan sudah berdiri di hadapan ku, aku terkejut dan kepala ku terhantuk meja membuat sedikit goresan di kening ku, langsung kak Alan menolong ku dan membawa ku ke UKS, dan dia berkata” maaf ya sudah buat kamu terkejut, apa yang kamu lakukan di bawah meja, mencari sesuatu ya?” sambil menempelkan hansaplas dikening ku. “gak ada kakak cari pena saya jatuh tadi” jawab ku sambil menahan perihnya kening ku. “Oh gitu ya” jawab nya singkat. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, tapi kamu tidak apa-apa kan?” tanya nya pada ku. Aku hanya menganggukkan kepala dan dia mulai bercerita bahwa dia lah orang yang sering mengirim kan selembaran kertas berisi sandi pramuka kepada ku, dan melakukan itu demi kebaikan ku, dia mengatakan bahwa yang menyuruhnya melakukan ini adalah Laras yang tak lain adalah Sepupunya kak Alan dan Sahabat terbaik ku sendiri.
Tapi yang membuat aku heran mengapa laras melakukan semua ini pada ku. Aku bertanya pada kak Alan “mengapa laras lakukan ini?” air mata begitu deras mengalir, hati sesak tak tertahan kan. Kembali kak Alan menjelaskan bahwa laras takut kamu tak terbiasa menjalani hari tanpa diri nya, jelasnya. “Kenapa dengan cara ini, Laras gak perlu pergi tinggalin aku supaya dia jadi berarti, aku punya Laras yang udah berarti banget buat hidup ku” jawab ku terisak isak. Kak Alan berusaha menenangkanku dengan keadaan seperti, kemudian dia menyarankan ku untuk pergi bersama nya menemui laras kerumah nya.
Sepulang sekolah kami Langsung menemui laras, ternyata laras sedang pergi keluar kota untuk beberapa hari. Aku langsung menghubungi nomor handphone nya tetapi nomor nya Laras tidak bisa dihubungi. Aku sedih sekali dalam keadaan seperti ini.
Kak Alan mengajak ku kembali dan pulang kerumah, saat sampai di rumah ibu heran karena tidak biasanya melihat diri ku murung dan sedih mata sembab karena menagis sepanjang waktu. Ibu coba bertanya pada ku, aku malah kembali menangis tersedu sedu aku tidak sanggup berbicara dan menerangkan semuanya pada ibu. Kemudian ibu bertanya pada kak Alan yang mengantarkan aku pulang dan ibu kata” Kenapa anak ibu menangis nak??” tanya ibu pada nya, “dia menangis karena ada sedikit masalah sama sahabat nya bu” jawab kak Alan. “ Oh sama Laras, pantesan sudah lama Laras tidak pernah main kerumah, anak ibu sama Laras dekat banget. Anak ibu itu lebih dengerin katanya Laras daripada mama nya, tapi tidak apa-apa Laras juga anak yang baik, seperti nya ibu pernah melihat kamu nak?” tanya ibu pada kak Alan. Kak Alan hanya tersenyum dan menundukkan wajah nya malu. “ Terima Kasih ya Nak kemarin sudah nganterin Anak ibu sekarang tolongin Anak ibu” ucap ibu. “iya bu sama-sama” jawab nya. banyak hal yang di bicarakan antara ibu dan Kak Alan mengenai aku dan sangat akrab sekali. Akhirnya kak Alan izin pamit karena hari mulai petang.
Dengan keadaan yang seperti ini, aku di sibuk kan sekali sebagai delegasi untuk acara perlomba pramuka tingkat Nasional di salahsatu ibukota besar di Indonesia, yang merupakan impian dan hasil dari kesungguhan ku mengikuti Oganisasi ini Akhir nya tercapai, aku berusah bersahabat dengan keadaan ku. Aku merasa senang dan bersyukur sekali dan ingin memberi tau Laras kalau usaha ku selama ini tidak sia-sia, walaupun aku tidak tau dimana Laras berada,kemudian ku coba terus berusaha walau Laras tidak pernah menjawab panggilan ku dan aku selalu mengirimnya pesan singkat setiap saat.
Hari berganti hari kabar Laras masih belum di ketahui berkali kali aku dan Kak Alan ke rumah nya , tapi tidak ada yang mau memberitahu keberadaan Laras. Hari H perlombaan semangkin dekat tapi aku belum juga bisa menemui Laras. Tiba tiba ibunya Laras yang menelpon, memberitahu ku bahwa Laras berada di rumah sakit ibukota sedang melakukan perawatan penyakit yang idap nya, ibunya Laras menangis tersedu sedu memberitahu pada ku bahwa Laras tidak ingin sahabat nya tau kalau dia sedang sakit parah, Laras takut mengganggu sahabatnya yang berhak meraih impiannya. Sewaktu aku mendengar ibunya Laras berkata seperti itu dada ku sesak tidak tertahan kan dan airmata mengalir deras dipipi ku suasana sepi pecah dengan tangisan ku.
Saat itu hati ku memilih segera menuju ibukota tempat Laras di rawat di Rumah Sakit dan memutuskan untuk membatalkan diri sebagai delegasi kegiatan Pramuka Nasional, sesampai di bandara aku menolehkan pandangan ku dan melihat ternyata kak Alan sudah menunggu. Dan dia berkata” jangan pernah sendiri, aku bakalan temenin kamu kesana buat Jumpa sama Laras dan kita pergi bersama!!” kata kak Alan pada ku. Saat itulah aku semangkin yakin Kak Alan bukan temanku, tapi dia sahabatku.
Kami berangkat dan sampai pada di tempat tujuan kami, aku berlari menangis sepanjang lorong rumah sakit dan ibunya Laras sudah menunggu ku di depan pintu dan memelukku berusaha menenangkan ku saat itu, dan menceritakan semua yang terjadi pada Laras selama ini.
Saat aku masuk ke dalam kamar Laras, aku coba menguatkan diri ini melihat Laras yang terbaring lemah dihadapan ku. Aku tidak sanggup air mata menetes jatuh di wajahku, aku lihat tirai panjang menutupi kasur tidur laras, ku coba geser perlahan-lahan suara desisan tirai terdengar halus, bunyi nadi bergerak dilayar komputer, botol infus tergantung di penyangga besi dengan selang yang terhubung ke tangan laras menembus kulit tipis tak berdaya, aku mengelus wajah nya mencoba membentuk lingkaran dimatanya. Matanya inilah yang selalu memberiku kepercayaan yang selalu menguatkan tak pernah mengecewakan dan sumber harapan setelah ibuku, dan ia membuka matanya, segera ku hapus air mata ini kelemahan ini.
Nafasnya tersengal-sengal, sesekali menarik nafas yang panjang diselang oksigen dan berkata” kamu datang Neng?” sambil tersenyum hangat menyapa kehadiran ku. Langsung aku memeluk erat tubuh nya yang tak berdaya menangis terisak isak dan meminta maaf, sama saat dia merasa bersalah meninggalkan ku di bawah hujan saat kejadian itu.
Banyak cerita hari dan hati yang kami ulang saat itu, mengingat kejadian lalu suka duka dan rasa kecewa berada dalam satu tema persahabatan berarti, laras mulai tersenyum bahagia, sesekali menyeritkan dahi nya merapatkan kedua matanya melihat kearahku. Dan aku bertanya” kamu gak apakan Laras? “ tanya risau tak karuan.
Tiba-tiba Laras memintaku untuk mendekatkan telinga ke wajah ku, suaranya semangkin buyar tak jelas terdengar tapi ku cona memahami apa yang dimaksudnya, ternyata Laras minta maaf kepada ku karena gagal menjadi teman yang baik, karena terlalu lama membuat aku menangis, tidak pernah ada saat aku membutuhkan nya, keadaan saat itu begitu menyedihkan bagaiman orang setulus laras bisa mendapatkan ujian seperti ini, memaki dalam diri berkata tuhan tidak adil, betapa bodoh dan tersumbat otak ku, naluri tak ambil andil dalam hal ini opini ditabrak oleh realita, 60 menit berarti pelengkap cerita hari dan diri, Di pelukan itu ia pergi selama nya.

Komentar
Posting Komentar