Protokol Kematian

 



Setiap hari yang terbayang kematian. Jadi selalu ada keinginan menulis cerita kematian sesuai dengan diskripsi yang ada di kepala. Tidak ada protokol kematian yang valid, sebab kematian lebih dekat daripada darah dengan urat nadi. 

Aku tak sehebat itu menuliskan cerita yang runut apalagi soal protokol kematian. Aku hanya mengulang sepotong-sepotong penderitaan anak manusia yang kulihat selama 3 tahun, yang sama sekali tak pernah berharap  cobaan dan menderita.

Dalam menceritakan protokol kematian, aku menangkap semuanya  dengan panca inderaku. Bagaimana  penderitaan dan rintihan kesakitan itu muncul dari sudut mata, erangan tersiksa berganti bunyi desis putus asa.  Tak ada harapan, hanya terimbui nestapa.

Tak berkelip mataku melihat sudut bibir anak manusia  komat-kamit menuturkan doa-doa, satu dua kali berubah menjadi rampalan protes kepada tuhan. Apakah itu kurang ajar? Jangan tanya aku. Aku bukan tuhan.

Aku hanya bisa mematung melihat tragedi besar dalam takdir satu anak manusia. Aku merenungkan entah  apa perjanjian yang disepakatinya dulu dengan Tuhan ketika di zaman Azali.

 Konon, menurut pemuka agama, sebelum jadi satu bibit manusia, tuhan membuat kesepakatan dengan hambanya. Jika sepakat, hidup itu dihembuskan ke ruh. Saat kehidupan masuk ke ruh, bersamaan terlupakan lah bunyi-bunyi kesepakatannya. Makanya manusia tidak ada yang ingat dengan apapun, termasuk ujian dan cobaan. 

 Hingga tiba di kehidupan dunia, mau tak mau anak manusia itu harus menyanggupi perjanjiannya.  Terwujudlah perjanjian itu dan mungkin salah satunya sakit  yang menderanya. 

Bicara ihwal kesakitan anak manusia. Aku punya mata yang merekam kesakitan anak manusia tersebut dengan baik. Semuanya.  Caci maki, permohonan, keputusasaan, pasrah dan pengorbanan, nestapa, juga senyum ketika membaik, ikhlas, semua berkumpul di satu jiwa anak manusia.

Setelah pengamatan yang panjang, hingga kini aku tak bisa melupakan semua penderitaannya. Penderitaannya  berserak di dalam hipotalamusku, ditayangkan jelas. Maka aku menulis cerita itu sebagai sebuah pelampiasan mengurangi ketularan dari penderitaannya. 

Hasilnya,  tak terduga tulisan  soal kronologi kematian anak manusia  itu menjadi tambak  memanen banyak cerita, termasuk cerita kehilangan yang tak terperikan.   Ada sedikit rasa bersalah, sebab aku seperti mengobral cerita sedih. 



Komentar

Postingan Populer