Ketika Mentari Muncul Sejajar di Garis Busur Langit Wonosobo
![]() |
| dokumentasi Tika Ayu, Prau, Juni 2023. "Sunrise" |
Gunung Prau merupakan gunung yang berada di kawasan Dataran Tingg Dieng, Jawa Tengah. Sebagai orang Sumatera yang kampungnya jauh dari pegunungan dan suhu yang dingin, untuk merasakan atmosfir Wonosobo sungguh satu pengalaman yang layak untuk dibanggakan.
pertama kali, ketika aku sampai di lapangan yang luas tempat biasa pendatang memarkirkan kendaraan dua pasang mataku disajikan dengan gumpalan-gumpalan kabut tebal. Kulit badan langsung mengerat karena suhu dingin menyentuh jaringan epidermis.
Aku dan rombongan mulai menyebrangi jalan, pelan-pelan menyusuri jalan petak yang semakin lama mendakik. Dalam radar sekitar 100 meter titik awal keberangkatan kami, rombongan mampir sebentar di sebuah pondokan yang biasa disantroni oleh pendaki untuk rehat sejenak sembari memenuhi persyaratan administrasi pendaftaran.
Waktu itu kami menunggu untuk mulai mendaki hampir dua jam, alasannya, kami menunggu porter rombongan untuk mendaki bersama. Jujur waktu menunggu itu agak kesal, karena lama sekali. euforia pendaki pemula tak terbentdung, tapi menurutku kesalku beralasan, pasalnya aku khawatir, semakin lama mulai mendaki, akan semakin lama pula untuk sampai.
Selang berapa lama aku menunggu, akhirnya intruksi dari kawan pendaki lainnya sudah turun. Rombongan sudah boleh memulai mendaki.
Menjelang perjalanan menuju pos satu, aku memandangi tiap lahan garapan palawija milik masyarakat lokal. Penampakankannya seperti anak tangga raksasa. Semakin ke atas semakin mengecil. Padahal ketika didekati, garapan yang didominasi sayuran akar serabut di kaki gunung Prau itu, sangatlah luas.
Hal yang terbayang di kepalaku ketika mengamati pemandangan itu adalah bagaimana cara petani-petani ini membawa hasil garapannya ketika masa panen. Pasti petani-petani ini mesti bangun lebih awal untuk mulai berladang, karena untuk bisa sampai ke ketinggian seperti ini bakal memakan --waktu. dan juga dalam kepalaku saat itu, petani-petani di sini pasti masyarakat dengan ekonomi kelas menengah ke atas.
Naik Ojek Gunung
Terlepas dari bayangaku soal pertanian dan petani itu, aku juga membayangkan sepertinya memulai mendaki untuk bisa sampai ke pos 1 dengan berjalan akan banyak menghabiskan tenaga. Akhirnya aku memilih untuk menaiki ojek.
Tepat di depan pondok, motor-motor keluaran tahun lama dengan merek yang hampir didominasi Honda itu berjejeran dengan rapi. Bapak-bapak dikisaran usia 40-60 an tahun itu semuanya mengenakan jaket tebal dan kupluk. Sesekali mereka berteriak, menawarkan jasa antarnya ke pendaki-pendaki. termasuk aku.
Setiap satu orang biaya untuk ojek gunung dikenai 15 ribu. Harganya terjangkau, dan tarikan motor yang gaspol sangat layak untuk dihargai sebesar itu.
Saat di perjalanan menuju pos 1, bapak ojek bercerita padaku bahwa sering pendaki-pendaki menaiki ojek untuk sampai ke pos satu. Menurut si Bapak Ojek, kehadiran mereka sangat membantu, biar energi ketika mendaki ke pos selanjutnya tidak terkuras habis.
Bapak Ojek cerita, kalau jalur yang dilalui pendaki yang berjalan dengan ojek gunung berbeda. Bagi pendaki yang berjalan kaki, mereka menyusuri puluhan anak tangga yang tersempil di antara gang perumahan warga sekitar.
Sedangkan pendaki dengan Ojek Gunung, menyusuri jalan bagian barat dengan jalan sepetak yang terbuat dari batuan sungai, terbentang di antara ladang-ladang milik warga lokal. tak terasa perbincangan pembukaku dengan Pak Ojek telah sampai dipenghujung. Aku melihat di dekat blok sayuran ada puluhan meter selang membawa air. satu waktu seperti gerigi yang mememuncratkan air menyirami sayur-sayuran tak henti-henti.
Pak Ojek menginjak rem, dan membantu aku membawa carierku. "Udah sampai neng," kata Pak Ojek.
Aku turun dan menunggu kawanku yang lain sampai di pos 1.
Perjalanan menuju pos selanjutnya dimulai, usai Pos 1 yang indah, menuju pos atas kami langsung disuguhi jalan dengan ratusan anak-anak tangga. Luas jalannya hanya cukup dilalui 1-2 orang saja. Ruang gerak sangat terbatas.
Selama perjalanan ini, kami masih sering menemui kedai-kedai penjual gorengan, cemilan dan juga buah. Namun semakin naik, dan naik, trek perjalannya berubah, yang terlihat hanya hamparan pemandangan, pohon yang tinggi dan juga banyak akar-akar pohon besar. sebagian penyusun jalan adalah krikil kecil dan sedikit tanah kuning berdebu. Syukurnya, hari itu cuacanya teduh cerah.
Kami terus berjalan maju, sesekali berhenti jika punggung mulai nyeri karena membawa barang, atau kami berhenti ketika paru-paru mulai berebut oksigen untuk terus hidup. Sebuah hal yang aku pelajari ketika mendaki, tatapan mata jangan pernah melihat kedepan. Itu menimbulkan kelelaha dan mata letih.
rombongan berpacu dengan trek, aku lupa tepatnya di pos berapa, terdapat sumber air. Air itu mengalir dari pipa plastik yang sebagian disambung bambu berongga. Airnya sangat dingin dan jernih. aku sudah merasakannya sendiri. Pos ini terdapat semacam kursi panjang yang sering diduduki para pendaki, beristirahat juga mengambil air untuk persediann di puncak nanti.
Perjalanan berlanjut, kami saling menunggu, jika di belakang ada rombongan yang tertinggal. Dan lalu berjalan lagi, sesekali melempar candaan dan semangat. Ketika naik gunung, aku jadi lebih ramah. Orang yang tak kukenal kusapa, begitu juga mereka yang asing juga saling menyapa orang asing. Membagi semangat.
"Puncaknya di depan itu, sedikit lagi," kira begitu bunyinya.
Terseok-seok dalam 2 jam, sepatu sudah kelat dengan debu, pundak makin kifosis. Nafas yang semulanya tersengal berganti menjadi nafas paling segar seperti disuplai tabung 1 kilo oksigen baru. Kesengan membuncah. kau sampai di basecamp pendaki. Di sinilah tempat biasa pendaki mendirikan tenda. Dan ya, tempat itu sudah di depan mata.
Menilik waktu tempuh, katanya itu waktu yang cukup cepat untuk sampai ke puncak Prau. Rasanya senang sekali.
Menunggu Sunrise Prau
Tidak ada ayam berkokok, maka bangunlah lebih cepat, lebih dini. Seperti lebah yang rajin berterbangan di pagi hari mencari madu yang manis dan indah, kira-kira begitu metamorfosanya. Siapa yang pernah membayangkan matahari bulatnya presisi, memancarkan warna orange yang kental lagi dibalur kabut-kabut tipis seperti gulali. Lebih lagi, matahari itu berkelip di setangah garis busur yang tidak penuh.
"Bayangkan" itu satu kata lama yang sejak dulu kuendap dari waktu ke waktu. Ketika keinginan aku mendaki gunung tak pernah kesampaian. Tapi sekarang itu bukan lagi imajinasi belaka, pemandangan itu tepat di depan mataku yang minusnya sampai 2 disertai silinder pula.
"SUNRISE di Prau" kataku dalam benak yang terkagum-kagum. Aku tentu tak ingin kehilangan momen persekian menit ini pupus begitu saja, dan hanya tersimpan di kepalaku sendiri. Aku harus menagbadikannya di hape dan tentu sosial media. Supaya momen ini juga tersimpan di kepala kawan-kawan yang melihat unggahanku. Dan hasilnya jadilah seperti ini.
Beginilah Hasil Dokumentasi yang ingin aku bagikan ke pembacaku!
tampaknya puncak gunung itu berdekatan, saling sesak seperti anak catur di papan hitam putih, saling geser ingin menyingkirkan, padahal tidak demikian. Mereka tertancap, paku bumi, tetap diam tak berpindah. Dari puncak Prau ke sana, butuh puluh-puluh kilometer. Juni, 2023.
Dari Prau, kita bisa lihat puncak gunung Sindoro, puncak gunung Slamet, puncak Merbabu.







Komentar
Posting Komentar