"Hanya" Orang Dewasa, Hanya Segalanya Bagi Anak
“Hanya” bagi anak kecil bukan sekadar hanya seperti yang diejawantahkan orang dewasa. “Hanya” bisa jadi segalanya bagi anak kecil.
Satu pekan lalu aku menulis sebuah koronologi anak kecil
menangis karena tertinggal. Aku mendapatkan balasan dari pembacaku yang juga
merupakan penulis role model bagiku. Dia menanggapi cerita itu dengan
bijaksana. Komentarnya membuka mata dan ingatanku.
Bahwa tak semudah itu
anak kecil memahami hal-hal yang dinggap orang dewasa sederhana dan remeh
temeh.
Aku tertegun. Aku teringat bahwa sebetulnya aku juga pernah
berada di posisi anak kecil berusia 6 tahun yang dalam ceritaku sebelumnya
tertinggal di sebuah taman luas ketika aku berlari-lari dengan anak-anak
lainnya.
Dahulu, ibu dan ketiga saudaraku pulang berlibur merayakan
Cap Go Meh ke kota besar di daerahku.
Mereka mengenakan baju kompak berwarna merah, saling merangkul tangan hendak
menyebrang.
Aku waktu itu berdiri tegak tepat di seberang mereka.
Kondisinya sangat berbeda. Mereka mengenakan stelan necis
sedangkan aku pakai baju compang camping. Aku tak bisa menangis saat itu, sakit
hati anak kecil yang tak tersalurkan lagi dengan bunyi-bunyian dan tantrum.
Aku hanya memelototi mereka yang segera menyeberang jalan.
Aku pastikan berkali-kali, aku tak bermimpi, itu memang. Mereka
kembali dari perayaan Cap Go Meh.
Amarah anak kecil ini menjilam-jilam, merah seperti baju
yang mereka kenakan,. Tapi kemarahan
yang tak bereaksi apa-apa. Aku mematung. Hanya kepalaku yang berputar mengikuti
langkah ibu dan saudaraku perlahan-lahan pedar hingga benar-benar lenyap tak menyisakan
bayangan.
Apa aku menangis? Tidak. Aku hanya menitikan air mata. Hanya
setitik.
Tapi selama kemunculan mereka, jantungku ingin meledak,
meledak berulang. Hancur terbentuk kembali. Hancur terbentuk kembali. Hancur,
hancur, hancur terbentuk kembali.
Mungkin dulu ibuku juga punya pemikiran “hanya” ditinggal
sebentar. Tapi Tika kecil tak paham konsep hanya. “Hanya” ibu adalah segalanya
bagiku.
Pembelaanku, Ibu yang orang kaya mestinya bisa menjemputku
di rumah si Mbok yang tak jauh jaraknya. Tidak ada alasan “hanya” pergi
sebentar sehingga aku tak perlu dijemput. Ibu punya banyak pekerja, jika ia
sibuk mengurus kesiapan tiga saudaraku, maka dia bisa suruh pembantunya yang
lain menjemputku.
Begitu. Tidak ada konsep “Hanya”. “Hanya”.
Aku jadi belajar, menjadi orang yang adil. Aku tidak mau
menjadi ibu yang mendang-mending dengan prinsip “Hanya”.
Tapi aku beritahu, ibuku tak seburuk itu juga. Dia wanita
hebat, pekerja keras, optimis dan mandiri. Mungkin dulu yang dulu saja. Manusia
selalu berkembang dan belajar. Menjadi orang tua adalah Pendidikan yang tak ada
batas semesternya.


Komentar
Posting Komentar