Hai Aulia Ini Ceritaku Bandar Ganti Kepercayaanmu Bercerita Soal Cinta
Hai Aulia. Sudah lama tak melihat kamu beraktivitas. Aku ingin memujimu, sebab jauh kamu bisa menjalani kemisteriusanmu. Kamu sangat tertutup dengan banyak hal, mulai dari keseharianmu, kekasihmu, keluargamu. Mugkin itu jalan terbaik untuk menikmati hidup. Mungkin kamu takut hal- hal buruk terjadi padamu jika kamu terlalu membuka diri dan kehidupanmu.
Tapi bolehlah aku mengklaim, sedikit banyaknya aku sudah tahu secuil ceritamu.
Cerita ini kutulis untuk membalas kepercayaanmu untuk bercerita padaku beberapa waktu lalu di bawah Pohon Ketapang di sudut warung sore itu. Aulia, sekarang aku akan bercerita soal kisah karut marut cintaku.
Cerita ini negasi dari cerita yang pernah kamu bagi padaku. Tapi aku coba maklum, bahwa kamu berusaha menjadi anak yang baik, kamu menuruti apa pendapat yang baik itu.
Sekarang aku tahu percis seperti apa rasanya tinggalkan orang yang disukai. Apalagi ditinggal menikah. Ibaratnya hubungan itu sudah tak ada harapan lagi, temboknya sangat tinggi, tak bisa dijangkau.
Jadi begini ceritanya, memang aku tak pernah berusaha untuk mendekati orang yang kusukai itu spontan langsung di kehidupan nyata. Tapi aku percaya kekuatan doa untuk mendapatkan cinta yang kuinginkan, namun lihat hasilnya tak seperti yang diharapkan. Silahkan tertawa jika ingin.
Dia mengawini kekasihnya. Seorang wanita yang dipacarinya selama 4 tahun belakangan ini.
Tapi aku tak juga salah
sepenuhnya karena tak berusaha, aku pikir dia orang yang idealis. Jadi kejatuhcintaanku
padanya mendorongku untuk mencari tahu
tentang dirinya melalui banyak media, salah satunya tulisannya. Ku menemukan
laman daring yang isinya seperti journaling kehidupannya. Aku bersyukur dengan
keberadaan laman daring tersebut sehingga aku tak susah-susah mencari infromasi
dari mulut ke mulut yang berisiko menjadi gossip.
Singkatnya, dalam satu
tulisan aku menemukan bahwa dia tidak setuju dengan hubungan pacaran. Tentu jelas hukumnya, bahwa itu haram.
Hal-hal yang mendekati zina. Tak perlu berkelid tentu itu sesuai dengan
perintah Alquran.
Membaca hal tersebut aku menjadi senang, dia tipe-tipe lelaki yang kucari. Dia idealis. Walaupun kadang dia tak segan untuk menunjukan sikap konfrontasinya terhadap apa yang diyakininya.
Dari tulisan-tulisannya itu
seakan aku merasa sudah dekat dengan dia, aku tahu kisah hidupnya. Masa kecilnya yang tinggal
di lingkungan rumah makan dan para supir lintas provinsi, tentang rumahnya yang hampir ambruk,
renyot sebab diterjang badai. Cerita dia yang haru biru membaca novel Dilan.
Cerita KKN, dia disebut
anak lelaki yang kurang perhatian ayah karena tampilan yang acak-acakan. Tak hanya itu aku juga tahu cerita surat
kaleng meneror sekolahnya, kemudian sebongkah mayat yang dikira janin anak manusia
sempat juga menggegerkan sekolahnya dulu.
Cerita perjuangan dia untuk
bisa kuliah. Dia bekerja di sebuah pabrik, ketika kuliah ekspektasinya tak
seperti apa yang di kepalanya. Barang kali itu sebab ekspektasinya melihat
iklim perkuliahan di pulau Jawa. Karena teman-temannya juga membentuk bagaimana
dinamika perkuliahan itu muncul. Dan rambut gondrong itu sebuah lambang perlawanan
sistem kampus yang masih keOrbaan. Juga jadi barang kali menyisakan dendam karena dosen mengatainya seperti tukang parkir di pasar.
Ada lagi banyak hal yang
ku baca, tapi garis besarnya seperti itu yang kuingat.
Aku tak tahu percis, apakah
aku benar-benar nisbi dalam radarnya waktu itu, ketika dia belum menikah. Aku
sampai sekarang tak pernah tahu dengan jelas, apakah dia tahu aku pernah suka
padanya. Semua informasi yang kudapat hanya dari mulut ke mulut.
Aku pun bertanya tanya sendiri ke diriku, kenapa dia harus tahu aku suka padanya. Tapi yang pasti, ini semua katerna aku melompati fase cinta monyet-monyetan ke cinta yang terlalu serius. Tapi entah apalah namanya, aku banyak memborong dan berinvestasi waktu itu.
Pertemuannya sangat
sederhana.
Dimulai saat debat
konsentrasi jurusan yang berlangsung di Plantaran Kantin Fakultas Ilmu
Komunikasi tahun 2019 silam. Waktu itu tampilannya sangat menonjol, rambutnya gondrong sekali. Dia
mengenakan kemeja kotak berlis biru dan keputihan. Dan juga celananya yang gantung. Aku
tahu di laki-laki no isbal-isbal club.
Dia tampil di depan
berdiskusi bersama sejawat perempuannya yang kutahui punya pikiran visioner kala itu.
Aku duduk di sudut dekat pintu kantin penghubung ke fakultas. Aku mengamati dia dari jauh, alasannya sangat canggung untuk melihat dia dari dekat. Sungguh itu pengalaman paling indah yang pernah kujalani.
Aku memang sering melihat
lelaki dengan paras yang indah, tapi keindahan dia waktu itu tak bisa
dibandingkan dengan hal-hal lain. Dia sangat
berbeda.
Aku sesal sekali, bahwa pemandangan
hari itu mesti cepat berakhir. Waktuku tercekal pasalnya waktu belajar tiba. Aku terseok-seok meninggalkan tempat dia
membagikan pemikiran dan kritiknya. Dalam kepalaku pemandangan indah ini akan segera berganti dengan layar tancap
silandia materi perkuliahan.
Pertemuan pertama
berakhir, aku menulis cerita itu di sini.A. B.G
Kulihat sosial medianya, dia beberapa kali pamerkan kemesraan dengan kekasihnya. Hal yang wajar kupikir. Sepasang anak muda yang sedang diterpa sejuta rasa. Dia hidup bergelimang dengan kasih sayang, dia menikmatinya dan tentunya karena dia juga mencintai gadis berdarah bugis pilihannya itu. Makanya jadilah romatisme yang kupikir adalah sudah jadi lagu lama bagi dia.
Apakah aku cemburu? Tidak
sama sekali, aku hanya berpikir bahwa dia
sangat beruntung dengan cinta itu. Sedangkan aku masih menanti-menanti sebuah
harapan yang dikutip dari keyakinan, sabar dan apa kita menyebutnya optimisme? Haha
terdengar hipokrit. Tapi itulah, aku masih juga percaya kekuatan doa.
Waktu berlalu, hati
berganti hari, semester berganti semester. dia mendekati masa tamat. Aku senang
akhirnya dia bisa merampungkan perkuliahan. Sebab tak jarang kudengar dia
terbebani dengan biaya kuliah yang dia tanggungnya sendiri, sedangkan pekerjaannya
tak lebih jauh dari gaji seorang guru honerer. Jurnalis. Apalagi media tempat
dia bekerja sangat amburadul sistematikanya. Namun entah apa, dia tetep
menjalani pekerjaan itu. Akhirnya dia mendapatkan pekerjaan yang lebih proper lagi.
Hidup terus berjalan, kami
tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Satu waktu kami berkesempatan untuk
duduk bersama di sebuah kafe. Kedatangannya bikin aku sedikit syak, tak menduga
rupanya dia akan datang di diskusi ringan malam itu.
Dia tentu tak datang sendiri, ia bersama kekasihnya. Mereka muncul seperti biji kenari muda. Hal ini pernah aku doakan dalam tulisanku, dan itu terwujud. Momen ini aku percaya doa punya kekuatan.
Pertemuan berlangsung santai, beberapa sejawat melirik-lirik padaku. Mereka orang-orang yang tahu bahwa aku suka pada dia. Mereka melirik kepadaku seakan memastikan bahwa aku baik- baik saja. Ya aku baik-baik saja, sebab sudah lebih bisa menerima kondisi. Lagi pula kita sudah dewasa, bisa bijaksana menyikapi hal-hal tak terduga.
Aku pulang. Pertemuan itu aku memahami bahwa dia anak yang sangat percaya diri dengan nilai-nilai di kepalanya. Sedikit bernada congkak, dia percaya diri dengan romantismenya.
Dari pertemuan itu aku sebetulnya bisa menilai seperti apa reaksinya dalam berbicara, menanggapi. Tapi ya namanya juga sudah buta karena cinta, selalu ada maklum yang kubuat-buat.
Jadi Aulia, usai pemandangan itu sebetul ada keinginan menjajaki percintaan duniawi ini. Dia saja bisa berdialektika soal keputusan yang dulu begitu ideal sekali hukumnya di kepalanya. Kemudian ingkar. Tentu aku yang tidak pernah ekspos soal keyakinan itu, bisa lebih geliat tentunya. Tapi perlu aku tegaskan, soal keyakiann itu satu hal yang tidak bisa diganggu guat. Tapi karena sedikit kesal, boleh lah aku untuk membela diri.
Tapi entah kenapa, dalam hatiku bilang, mesti dia-lah orang yang pertama jadi di hati ini. Itu anggapan gila sebetulnya, sebab mustahil yang niscaya itu kuanggap bisa tergapai. Mengutip pribahasa lama masih ada peluang sebab janur kuning belum melengkung. Jadi aku diam-diam masih menunggu dia kala itu.
Makanya ketika ada upaya bujangan yang mendekati dara ini, aku hanya anggap itu angin lalu. Aku tak bisa menangkap keseriusan dan main-main. Karena selama ini, soal percintaan kabanyakan berdiri di tengah ambang itu.
Dan begitulah ceritanya mengapa aku tidak mendapuk satu, dua cinta di usai 20 an tahun. Karena aku menunggu-menunggu hal yang bahkan di luar radarku.
Padahal aku tak perlu se
visioner itu yakan? untuk merasakan balada percintaan itu. Kalau ditawarkan tinggal diterima, jalani.
Jadi atau tidak itu bukan urusan kita.
Tapi ya itulah masalahnya, aku ini kerap seret praduga yang membabi buta kemudian kuamini sebagai realitas. Merongrong logikaku untuk sadar diri.
jika kamu ingat, dirimu pernah bertanya kala itu, mengapa aku tak punya kekasih? sorot matamu nanar tak percaya, kalau boleh kuduga kau anggap aku yang supel ini tidak ada kekasih? tatapanmu menaruh curiga.
Aku hanya menjawab, bahwa aku merasa belum perlu. Dan kau tak berkomentar apapun. Hanya membalas dengan senyum.
Padahal apa yang di benakku, lihatlah aku, anak perempuan biasa, tidak cantik, tidak jago bahasa inggris, dari keluarga biasa-biasa, tidak miskin dan tidak kaya, tidak broken home mungkin satu hal yang mesti kubanggakan.
Atas semua yang pernah aku alami. Aku pasrah saja. Aku memang tak buat apa-apa.
Aku bilang aku percaya doa, jadi aku masih berdoa. Serius aku masih berdoa. Aku mendoakan baik-baik, Jga kesehatan selalu. Semoga kali ini doaku maqbul.


Komentar
Posting Komentar