Budaya Dengar Rawan Hoaks

Tak banyak yang ku lakukan di libur semester ini, ya kalau tidak bertandang ke sekre paling balik ke rumah sekadar leyeh-leyeh tidur lalu bangun, atau membaca buku. Atau biasanya aku pergi ke rumah tetangga yang kiranya meminta tolong padaku untuk beberes rumahnya, ujug-ujugnya diberi uang untuk beli bakso katanya. 

Hahaha hati kecilku pun bahagia, terimakasih atas kemahfumannya menelaah keadaan anak kos-kosan yang setiap akhir bulan begitu menggetirkan. Aku mau bercerita sedikit.

Aku, menyadari beberapa waktu lalu kalau aku itu tipe manusia dengan kebudayaan endonesiah sekali. Memang tak semuanya seperti aku, tapi kebanyakan pada umumnya seperti ini. Semua dimulai saat aku hanya duduk membatu mendengar orang diskusi karena tak mengerti materi pembahasan mereka, dan juga lebih suka mendengar spoiler buku yang diceritakan teman-temanku. Lalu keadaan ini diperparah dengan memanjakan belajar mengajar di kampus cenderung satu arah.

Tentu saja aku berkata 'tipe manusia budaya endonesiah' demikian bukan atas intuitif pribadi, tapi karena serasa dicubit setelah menonton sesi wawancara Soesilo Tour dari yutub.

Sastrawan bergelar doktor lulusan Unisoviet itu, di menit pertama wawancara eksklusif yang dibungkus ciamik berkata "budaya Indonesia itukan budaya dengar" kurang lebih seperti itu redaksinya, maka tak ayal Hoaks di Indonesia ini subur seperti kata pepatah bagai cendawan di musim penghujan. Hanya saja pada masa itu, istilah hoak belum dikenali.

Memang pada masa Orde Baru semua pemberitaan 'bebas' hoaks, karena kendali pemberitaan sepenuhnya dikuasai pemerintahan otoriter, sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan. 

Bagaimana masyarakat dapat percaya, dari buku dan artikel yang pernah dibaca pada masa itu media menjadi representatif negara, atau katakanlah penyambung lidah kepada masyarakat, dimana seperti yang dikemukan oleh Soesilo Tor tentang sebagian kebudayaan masyarakat endonesia itu budaya dengar maka cenderung untuk Enggeh-enggeh bae.

Masih dimenit yang sama beliau menimpali "itukan budaya dengar. Bukan budaya baca, dengan mencari bukti yang otentik" ujarnya. 

Namun di sisi lain, kediktatoran pemerintahan terhadap media-media justru menciptakan Eufimisme para penggiat pers, yang sebenarnya juga terbebani dengan tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Karena tidak dengan terang menyampaikan keadaan yang sebenarnya, dalam buku Rezim media menyebutkan tujuan Eufimisme adalah untuk menghindari sikap Represif negara, kemudian penghalusan bahasa tersebut pilihan moderat antara menampilkan realitas sebagai fakta dan menghindarkan kehidupan pers yang berkonfrontasi langsung dengan kekuasaan pemerintah. 

Makanya saat pemberitaan gencar menyebutkan komunisme, itu disematkan kepada rakyat yang suka mengkritisi Pemerintah, karena dituduh menimbulkan kegaduhan seumpama riak-riak air di kolam, membuat keadaan tidak kondusif katanya.

Mudahnya masyarakat dipropagandakan dengan Legitimasi bar-bar tanpa ada bukti, karena buruknya efek budaya dengar ini,  sehari-hari hanya dicekoki informasi yang tidak tahu ushulnya. Semoga kita menjadi Masyarakat yang lebih baik,  terutama saya pribadi yang juga sering menjadi korban - korban berita hoaks. Mari membaca. 

Komentar