Bucin Buah dari Talbis

Helaan nafasku kali ini lebih dalam dari biasanya, ditemani hembus angin sepoi tak semangat seperti mengerti subtansi hati hari ini.

Aku termenung di dekat jajaran pohon ketapang berteduh dari paparan terik mentari, namun tetap saja aku tak bisa meniadakan teriknya siang itu, beberapa cahaya matahari menembus kisi-kisi daun ketapang yang tak terlalu lebar dan tak terlalu kecil, membentuk bayangan payung-payung daun.

Duduk di bawah pohon pada saat terik memang cocok dijadikan pilihan, selain terasa teduh nyatanya pada siang hari pohon-pohon memproduksi oksigen lebih banyak sangat cocok untuk diriku yang lagi sesak-sesaknya, supaya dapat mensirkulasikan oksigen karena rasanya akhir-akhir ini otakku hanya dipenuhi karbondioksida yang membuat aku tak mampu berpikir dengan baik.

Dari layar gawaiku tertulis 30°c terpampang besar pemberitahuan suhu di ibukota, sambil bergerak horizontal beberapa kalimat tertulis "Jauhi Paparan Sinar Matahari langsung Sinar UV sangat tinggi hari ini," Aku tak peduli dengan hal itu, yang lebih penting aku dapat pasokan oksigen lebih untuk hari ini,  sambatku.

Sebelumnya, aku duduk di kelas sendiri memikirkan beberapa pesan-pesan yang disematkan kepadaku setelah beberapa kali mereka menegur.

Dan beberapa saran lagi yang sulit sekali aku ingat. Terkadang di hati ini kuat meyakinkan untuk mengatakannya kebenarannya saja, biar "lempeng" bahasa Dutchnya, tapi karena saran-saran itu yang lebih berkonotasi defensif, lah aku bisa apa.

Ini yang pertama kalinya, makanya saran sangat diperlukan, bertanyalah pada orang yang lebih tau beginian, kalau istilahnya "orang dulu lebih banyak makan garam." Terlintas di otakku seklebat angin segar, aku hidup di zaman yang tak hanya tersedia garam tok, zaman sekarang zamannya micin. Berarti aku bisa memilih sekadar rasa asin, atau  yang umami.

Soalnya aku ini orang asing, kalau aku diam-diam aja ya apa dia tau aku ini siapa, awkwkwk. Bukannya punya nama, jabatanpun tiada, keahlian pun tak ada hiks mirisnya.

Semua hal baru hanya perlu dilakukan dengan keberanian, hanya ada dua pilihan ditolak atau menolak. 

*Bucin long Or
                                 
                                 
                                 *****
Akhirnya...

Kemarin malam aku menitipkan karet berbenang sulam, dan beberapa kertas pembatas untuk penanda juga demikian  diberikan kepadanya untuk memenuhi sela lembaran buku bacaannya melalui temanku.

Di balik  yang memikat hati dan keindahan serta kecerdasannya itu semua  tersemat segala tipudaya. Bagaimana bagusnya Talbis yang dimainkannya yang dikemas dalam sebuah kebaikan merujuk pada standar manusia impian??  

Tak ada habisnya waktuku terluang untuk memikirkannya, dan semua itu hanyalah sebuah kesia-siaan.  Dan satu lagi menurutku dia bukanlah tipe orang yang akan menghabiskan waktu untuk hal bodoh seperti ini,  dibuai kasmaran lagu lama baginya.

Kadang terpikir apakah tidak berlebihan jika, tapi ya sudahlah. Itu bukan masalah, yang masalah ada ketika kisahmu hilang ditelan masa dan sejarah. 

 Good Bye Bucin

This is mine *btw ini handmade yak,  kalau ada waktu,  aku bagi tau Tutorialnya.  

Komentar

Postingan Populer