Sambat
"Woii.. Gayatri, ada yang inginku sampaikan kepadamu. Kau ingat tidak terakhir kali dari sini saat malam itu?" Tanya Toeng nafasnya terpotong-potong terdengar seperti kaingan anjing.
"Kau ingat tidak?" tanyanya lagi pada Gayatri.
Sore itu orang keamanan datang kemari menghampiriku, meringsekku dengan serbuan pertanyaan dan seperangkat tuduhan, memang dasar sialan. Dia mencoba mengeraskan suaranya ketika menanyaiku dikiranya apa aku ini tungkikan, apakah tidak bisa dilihatnya aku masih mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan instruksi, masih kuingat jelas sorot matanya nanar menjilam-jilam seperti api di tungku liat milik nenekku, membakar panas.
Begini pertanyaannya "siapa wanita yang malam hari keluar dari komplek ini?!" sontaknya, saat itu aku sudah mengerti bahwa wanita yang dimaksudnya adalah dirimu, tapi sebelumnya aku minta maaf padamu Gay, aku harus mengatakan bahwa kau bukan dari sini. Aku berusaha untuk mengelabuinya seperti asap kebakaran yang sering terjadi tahunan di kampung kita ini, tujuannya ya supaya engkau aman saja, tidakkan itu tidak jadi masalahkan?!
Panjang lebar yang kusampaikan tak lupa maaf kuhanturkan, mengapa kau tak menresponku Gayatri, apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?! bagi pasal, mana tahu ada kehendak aku bisa bantu.
"Baiklah Toeng, temanku yang baik hati terimakasih untuk keluwesan mu menghadang sorot mata yang nanar itu, karena sungguh matamu tak lebih seperti tamengnya pedang."
"Iya aku tidak ada masalah dengan semua yang kau utara kepada orang keamanan itu" Lanjut Gayatri.
Ya aku ingat sekali kedatanganku malam itu, aku mendengar kabar katanya salah satu aktivis dari pulau Bajang Sebrang bertandang kemari, untuk menjumpai rekan sejawatnya.
Aku benar penasaran ingin berjumpa langsung, tidak dapat aku menghalau keinginan hati, rasanya gusar sekali. Karena sudah lama aku mendengar kabar itu, jadi diri tak ada alasan untuk menolak.
Tak lama aku sampai di tempat ini kau izin masuk dahulu, katamu nidera menjangkiti, kau tinggal aku sendirian bersama keheningan, alam mulai terlelap pulas di tikar pandan usang , dengkuran mu beradu dengan decitan jangkrik rawa di belakang komplek, bising kearifan lokal yang tidak dapat ditemui dimanapun.
Sudah larut harapanku malam itu menunggu tak berkesudahan, dinginnya angin malam berhembus tak dapat dicekal epidermis kulit, mataku dikail beban jadi kantuk tak tertahankan, tapi aku tetap melawan lelah mata inisiatif aku berpindah-pindah terlihat ada sebat kretek, ku pantik api menyala merah beradu dengan biru hati kecewa, asapnya bergumpal membentuk layar khayal, apa yang akan ku bicarakan nanti, aku akan berjabat tangan bertanya kesibukannya, atau meminta pertemuan lain waktu, berkirim surel setiap akhir pekan, namun semuanya pencar saat asap mulai tercacah angin akhirnya aku sadar bahkan pertemuan saja belum dimulai.
Namun sayang sekali, sepertinya kedatangannya untuk ikhwal yang tidak biasa, geraknya cepat sekali jadi sulit untukku walau hanya sekadar menyapa, terlihat terburu-buru, bagai punguk merindukan bulan. Jadi pasca malam itu aku tahu benar rasanya menunggu itu tidak ada enaknya.
Akhirnya aku pulang malam itu, sendirian. Tanpa pamit enggan mengganggu tidurmu. Ternyata aku kecolongan di pos ada orang keamanan sudah mengamati dari kejauhan, untuk apa aku gegap diri, toh aku bukan maling, benarkan?
"Kau ingat tidak?" tanyanya lagi pada Gayatri.
Sore itu orang keamanan datang kemari menghampiriku, meringsekku dengan serbuan pertanyaan dan seperangkat tuduhan, memang dasar sialan. Dia mencoba mengeraskan suaranya ketika menanyaiku dikiranya apa aku ini tungkikan, apakah tidak bisa dilihatnya aku masih mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan instruksi, masih kuingat jelas sorot matanya nanar menjilam-jilam seperti api di tungku liat milik nenekku, membakar panas.
Begini pertanyaannya "siapa wanita yang malam hari keluar dari komplek ini?!" sontaknya, saat itu aku sudah mengerti bahwa wanita yang dimaksudnya adalah dirimu, tapi sebelumnya aku minta maaf padamu Gay, aku harus mengatakan bahwa kau bukan dari sini. Aku berusaha untuk mengelabuinya seperti asap kebakaran yang sering terjadi tahunan di kampung kita ini, tujuannya ya supaya engkau aman saja, tidakkan itu tidak jadi masalahkan?!
Panjang lebar yang kusampaikan tak lupa maaf kuhanturkan, mengapa kau tak menresponku Gayatri, apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?! bagi pasal, mana tahu ada kehendak aku bisa bantu.
"Baiklah Toeng, temanku yang baik hati terimakasih untuk keluwesan mu menghadang sorot mata yang nanar itu, karena sungguh matamu tak lebih seperti tamengnya pedang."
"Iya aku tidak ada masalah dengan semua yang kau utara kepada orang keamanan itu" Lanjut Gayatri.
Ya aku ingat sekali kedatanganku malam itu, aku mendengar kabar katanya salah satu aktivis dari pulau Bajang Sebrang bertandang kemari, untuk menjumpai rekan sejawatnya.
Aku benar penasaran ingin berjumpa langsung, tidak dapat aku menghalau keinginan hati, rasanya gusar sekali. Karena sudah lama aku mendengar kabar itu, jadi diri tak ada alasan untuk menolak.
Tak lama aku sampai di tempat ini kau izin masuk dahulu, katamu nidera menjangkiti, kau tinggal aku sendirian bersama keheningan, alam mulai terlelap pulas di tikar pandan usang , dengkuran mu beradu dengan decitan jangkrik rawa di belakang komplek, bising kearifan lokal yang tidak dapat ditemui dimanapun.
Sudah larut harapanku malam itu menunggu tak berkesudahan, dinginnya angin malam berhembus tak dapat dicekal epidermis kulit, mataku dikail beban jadi kantuk tak tertahankan, tapi aku tetap melawan lelah mata inisiatif aku berpindah-pindah terlihat ada sebat kretek, ku pantik api menyala merah beradu dengan biru hati kecewa, asapnya bergumpal membentuk layar khayal, apa yang akan ku bicarakan nanti, aku akan berjabat tangan bertanya kesibukannya, atau meminta pertemuan lain waktu, berkirim surel setiap akhir pekan, namun semuanya pencar saat asap mulai tercacah angin akhirnya aku sadar bahkan pertemuan saja belum dimulai.
Namun sayang sekali, sepertinya kedatangannya untuk ikhwal yang tidak biasa, geraknya cepat sekali jadi sulit untukku walau hanya sekadar menyapa, terlihat terburu-buru, bagai punguk merindukan bulan. Jadi pasca malam itu aku tahu benar rasanya menunggu itu tidak ada enaknya.
Akhirnya aku pulang malam itu, sendirian. Tanpa pamit enggan mengganggu tidurmu. Ternyata aku kecolongan di pos ada orang keamanan sudah mengamati dari kejauhan, untuk apa aku gegap diri, toh aku bukan maling, benarkan?

Komentar
Posting Komentar