Safar

"Kenapa tidurmu gusar." Setidaknya seperti itulah setiap malam pertanyaan mengiyang di batok kepalaku, otakku tak habis pikir. Gelagat tidurmu tak meyakinkan bahwa kau kelelahan.

malam-malam aku habiskan berpangku tangan menghadap wajahmu, tertidur ayam; setengah sadar, mulai terlelap, bangun lagi dan terjaga. Hampir setiap malam aku membatin apakah kau sakit tapi tak mengatakannya padaku, atau ada suatu hal yang kau sembunyikan dariku. Karna hal ini sukar, hanya menambah beban pikiranku saja, sampainya mengganggu tidurku.

Tiap kali aku mengejamkan mata, tak terasa memasuki fase deep sleep segera, hingga ngigau setengah sadar. Andaikan aku tinggal di Jawa, pasti si Mbah esoknya akan mandikan aku dengan kembang tujuh rupa, tapi sekarang beda persoalan aku sudah pindah ke Sumatra, mengikuti Lakiku mandah karena tuntutan pekerjaannya. Sudah tujuh tahun aku di sini, di perumahan asri dan tertata, hidupku terjamin karena Lakiku pekerja keras dan cerdas.

Menyoal deep sleep, mengigau atau ketindihan orang biasa menyebutnya adalah hal yang tak mengenakkan, rasanya terkungkung sesuatu dan ada rasa tak sampai dipuaskan, teriak. Tapi untung saja semuanya berakhir karena kegusaranmu tiap kali tidur. Bisa kau bayangkan bagaimana hebatnya kegusaranmu bisa menyadarkan aku dari tidur sialan itu.

 Jantungku masih berdegup kencang, seluruh ototku mengetat laiknya kabel listrik di siang bolong, kaku. Atau lebih persisnya seperti senar gitar, jika dipetik bunyinya melenting. Nafasku terpotong-potong, mungkinkah paru-paruku dipenuhi belukar, tetap berhendus tapi tak lembab. Untungnya setiap kali hendak terkulai di kasur ini, Lakiku selalu menyajikan seceret air, kalau saja malam hari haus, jadi tak perlu jauh ke dapur untuk melegak kesegaran.

Hal sederhana tapi bermakna, sudah kubilang Lakiku orang yang cerdas. Bahkan tak sulit untuk membaca beda kecerdasan ada kemalasan.

Segera kutangguk air minum, membasahi faring, laring, tenggorokan dan hati yang tentu saja perlu dibasahi. Karena setelah itu aku salat singkat dia rakaat menyapa Tuhan di malam yang panjang, sekadar munajat. Tak banyak-banyak, hanya meminta semoga kami selalu sehat, dan berkecukupan juga segera punya anak, itu saja sudah cukup, selebihnya biar Tuhan yang mengatur dengan segala ke Maha Tahuan-nya, dan ke Maha Kuasaan-nya.

Ternyata berkulak dengan air di malam hari cukup buat badanku merasa dingin, apalagi telapak tangan dan di kedua ujung kakiku. Segera mungkin kutarik selimut yang hampir terkapar di pojok kasur, terselip mengait di antara sepasang kakinya lakiku. "Lihatlah ini, selimutnya bukannya menutup badanmu, tapi malah keranjangmu," desisku mencacah keheningan.

Aku terlentang memandangi langit-langit kamarku, tak ada yang aku lakukan, hanya menitik fokuskan bohlam yang ramah lingkungan, katanya. Dan itu baru saja diganti, karena sebelumnya bohlamnya tak lagi menderang terangnya dan tak hemat daya. Hidup berdua, dan berhemat adalah kaya, mungkin ada benarnya pelajaran di sekolah dasar dulu, setiap sabtu tugas seni menyalin kata-kata mutiara di buku halus kasar dengan gaya font Dancing Script "Hemat Pangkal Kaya" mengulang bait yang sama sampai di baris terakhir.

aku hanya tertawa-tawa kecil mengingat ketengilan masa bocah di sekolah dasar, yang masih benar-benar bisa menikmati kehidupan normal tanpa beban berarti dan bahagia suatu konsep sederhana, tidak seperti orang dewasa ini, terlalu memikirkan bagaimana caranya bahagia terlihat begitu menyedihkan.

Tapi ya sudahlah memang seperti itu, sudah hampir satu jam aku terjaga tapi mataku masih enggan untuk terlelap. Kuperhatikan, kini tidurnya Lakiku tak segusar seperti jam-jam yang lalu, punggungnya meringkuk membelakangiku, jelas menonjolkan tulang-tulangnya yang kuat. Warna kulitnya yang tidak terlalu putih kurang-lebih seperti warna kuningnya langsat, bersih dan mulus.

Seperti inilah yang kudapat konteks tampan pada setiap doa yang terselipkan. Berkali-kali ia mengulet meregangkan ototnya, dan sekarang tubuh kami saling menghadap, tapi tidak saling memandang; aku yang terjaga, dan Lakiku terlelap.

Jaraknya tak terlalu jauh, sepanjang tanganku bisa menggapai. Telapak tanganku masih saja dingin, ku dekatkan hadapan wajahku dengannya, ada keindahan di depan mataku dan akan terus indah sampai kapanpun. kulekatkan telapak tanganku dingin di permukaan wajahnya.

Tak ada yang lain kurasakan selain kehangatan, kulitnya benar-benar hangat. Padahal Lakiku tak berlapis sehelai kainpun di badannya , dan itu berlaku sejak di sini, kami pindah ke Sumatra. Bulir keringat timbul dari pori-porinya, bening dan segar, seperti model iklan sabun yang baru saja mandi, teringatku.

Saat telapak tanganku sudah mendarat di wajahnya, saat bersamaan ia mengeliat seperti anak kucing yang manja kepada tuannya, kutarik sedikit telapak tanganku ke bawah menyusuri lekuk wajahnya. Lihatlah garis rahangnya yang tegas, dan bahunya yang bidang menyisakan jurang yang nyaman mendaratkan diri, aku berani bersumpah aku tidak akan mati kalaupun jadi terjun ke jurang itu, larik pembuluh arteri menyilangi vena membujur sumber darah segar, di sana jua aku bisa mendapatkan buah adam bergelayut lambat ketika ia menelan ludahnya, tentu saja aku tak bisa memetiknya tapi aku bisa mengjilatinya ketika aku hendak, karena tubuh itu milikku, sebuah nikmat yang tak bisa ditolak.

Seperti Vampire, haus darahku menjadi aktif bergejolak, ingin sesegera mungkin mendaratkan gigi taringku di antara jurang itu dengan lembut, merekatkan sepasang bibirku dengan tepat agar darahnya tak mengalir dan bermuara, jika saja sepercik darah bertebaran akan kususuri lembah-lembahnya dengan lidahku, tapi aku harus cepat, bersembunyi dari terik yang bisa membakar tubuhku, bahkan sebelum terik itu muncul ada hasrat yang tak terelakkan datang mengerjap.

"Oh Tuhan ....tidak, tidak sekarang". Tapi telapak tanganku sudah menjamahnya bahkan sudah sampai di lereng-lereng jurang. Jurang ini tekuknya begitu indah.
segera kuurungkan hasrat itu, tidak perlu sampai ke puncak. sudah cukup puas sampai di disini, tidak minta lebih, tapi kalau hendak diantar ke puncak aku pun tak menolak. Setelah sekian jam aku tatap keindahan di depan mataku dengan terang cahaya yang ramah, aku balikkan tubuhku, giliran membelakanginya. Kini aku akan menyamainya, Sama-sama terlelap.

Breb....

Setelah beberapa saat tubuhku hangat seperti terpapar cahaya senja di pantai beberapa tahun lalu, saat aku dan lakiku berlibur ke Ubud, Bali. Tapi aku sadar ini bukan ketindihan, ini kenyataan. Bahkan aku belum sempat mengejamkan mata. Ini nyata.

"Hendak kemana? " bisiknya, suaranya merambat di antara rambutku yang sedikit menutupi daun telingaku, kini rambatan gelombangnya buat aku menggedik geli dan mengernyitkan kulit karena hawa yang menyisir.

Aku hanya terperangah dan diam saja. Kini tubuhnya semakin rapat, serapat lembaran kertas-kertas di map tebal dan tak menyisakan sedikitpun ruang, nafasku tersekat. Bingung dan tak teratur.

"Apakah sudah sampai?" bisiknya lagi, "Bukannya kau sudah berhasil menyusuri Jurang terjal, dan kau sudah menaklukkannya. Tapi mengapa kau merasa sudah terpuaskan, bagaimana bisa merasa puas bahkan kau saja belum mendulang air segar dari sumbernya di lereng lain,? cetusnya padaku.

"Hua...." aku coba menguap dan melebarkan mulutku, isyarat bahwa nidera sudah sampai di jam ini.
Tapi sebentar, tangannya sudah melilit tubuhku, lebih tepatnya tangannya terhimpit tubuhku dan kini ia sudah memiting dengan pasti. kucoba mengapai tangannya yang nakal itu, menariknya sedikit ke atas untuk aku amati. Memang ia punya jari yang indah, bahkan kuakui lebih indah dari jemariku, Lima jari yang letik yang siap menggerayangi daging-daging sintal. Dan ia masih meracau soal menaklukkan, sembari lima jarinya telah menyusuri lekuk lembah di tubuhku.

"Ku jamin kau tak bisa menolakku,ini hanya karena kau membelakangiku sayang," ujarnya.

"Ne... singkirkan tangan nakalmu dari situ"gerutuku.

"Apa puan bilang, tangan nakal? tanganku nakal? bukannya tangan puan yang nakal dan telah berhasil menakluk jurang?" jawabnya.

"Jadi apa salahnya kuberhasil menaklukkan jurang?" lengosku.

"Kau telah bertubi-tubi menghujamku dengan pertanyaan sayang, dan satu pun pertanyaanku sebelumnya belum puan jawab?! engkau hendak kemana?" jawablah, tantang lakiku padaku.

"Aku tunda dahulu pengembaraanku di jurang itu, karena waktunya yang tak tepat, sepertinya" elakku dengan hangat.

"Teganya puan sudah datang, tapi tak menyisakan buah tangan, dan sekrang pemilik jurang minta pertanggung jawaban!" bisiknya lirih semakin lirih dan bibirnya sengaja menyentuh cuping telingku, lembut dan berpindah-pindah.

"Tapi tidak ada yang aku lakukan di sana, aku hanya melihat-lihat saja" ujarku, "Apa kau yakin puanku sayang, tidak melakukan apa-apa?!" yakinnya padaku.

"Iya" jawabku meyakinkanya.

"Oh baiklah puan telah berbohong dua kali, pertama tangan puan sudah menjamah lereng-lereng jurangku tanpa seizinku, kedua puan sebut puan sudah puas hanya melihat sebuah jurang padahal pun puan belum sampai meneguk air dari sumbernya langsung."

Saat itu, aku hanya terdiam mengernyitkan dahi sedikit membenarkan walaupun tak sepenuhnya mengiyakan. Secepat kilat badannya sudah meneduhkan aku dari cahaya bohlam yang ramah, ramah lingkungan dan keuangan. Kini di dekat dinding menyisakan siluet kami saling bertatap pandang.

Tangannya yang memiting tubuhku dan jari lentiknya sedari tadi sibuk menyusuri lembah, mengkontraksi kembang kempis paru-paru tak beraturan dan kini telah beralih menahan bahuku agar terlentang seperti aku meyoroti cahaya bohlam.

"Kenapa tak sampaikan bahwa puan belum puas melihat keindahan di jurang itu, kalau saja puan tak terburu-buru aku dengan lapang hati mengantarkan mu ke puncak, ya puncak. Puncak kenikmatan. Namun puan terburu jadi terkesan tak sopan, sudah bertamu tak izin pula berbalik".

" Jadi, kau mau stt... " telunjuknya sudah sampai di bibirku, menahanku hendak bicara. kini ia berpangku pada satu tangan, tangan yang lain mendekat ke wajah dan menyisir rambutku. Jurang yang kusebut-sebut itu semakin dengan dengan bibirku, dekat sekali. Yang kulakukan hanya berkali-kali menelan ludahku, karna belum kudapati darah segar dari jurang itu.

"Silahkan puan, sudah ku hantarkan kau ke puncak itu dan kau tak dapat menolaknya. Sampaikanlah penyembaraanmu ke puncak, dan merdekakanlah dirimu, puaskan!"

Sungguh ini keajaiban, aku tak pernah meminta lebih, dan ini sebuah kenikmatan ditawarkan tak mungkin aku tolak, secepat lakiku menelentang tubuhku dan merapatkannya. Secepat itu pula kujamah kembali lereng-lereng yang kusinggahi, kugapai lagi. kulucuti kulitnya, rasanya ia ku koyakkan  pembuluh venanya, lalu aku hisap perlahan-lahan manisnya darah itu.

"Kau terbukti nakal puan" sergahnya padaku.

"Aku tak peduli, kenapa bisa Tuhan ciptakan daging yang selembut ini."

"Karena aku orang pilihan..." jawabnya singkat.

Semuanya terjadi begitu.

Komentar

Postingan Populer