Cerita di Balik 2020 Lebih Baik
Aku pernah menulis harapan pada awal tahun 2020 di sini, aku kira semua akan seperti yang aku bayangkan. Jadi sebelum kalian membaca tulisan ini selanjutnya aku harap kaian baca tulisan yang sebelumnya, terima kasih menyempatkan baca tulisan itu.
Awal mula narasinya saja aku memang sudah terlihat frustasi, walaupun di beberapa paragraf lain terdengar seperti optimis yang berlebihan. Ini berawal saat aku mulai kembali memeriksa beberapa tulisanku di blogku, ternyata tulisanku itu membuat aku sadar bahwa kehidupan ke depan tidak akan jauh-jauh berubah dari biasanya.
Untuk memulai semua cerita panjang ini, aku akan komentar soal judul yang aku sematkan pada tulisan itu,"2020 Lebih Baiq," kesedihanku mencuat kali harapanku tak sesuai dengan yang aku inginankan, bersamaan dengan tahun ini aku dan dua orang yang turut aku ceritakan dalam tulisanku menjadi pimpinan di organisasi pers kampus, dan tahun 2020 ini lah masa pengabdian. Tentu saja di masa-masa pengabdian ini aku pribadi berharap bisa membawa perubahan yang lebih baik, dan lebih progresif, ternyata semua yang ku inginkan pupus begitu saja, aku belum melakukan apa-apa sejauh ini. Katakan lah aku melakukan kegiatan sesuatu, tapi bagiku itu tak berarti sebab hal tersebut memang sudah biasa dilakukan jauh dari pengurus-pengurus sebelumnya. Ditambah lagi kejadian kemalangan yang menimpa organisasiku, itu kadang benar-benar membuat aku terpuruk dan menyalahkan diri sendiri padahal kalau dipikir waras kejadian ini tak akan dapat satu orang pun mengendalikannya. Soal evaluasi program kerjaku, aku bercerita soal sejauh apa manfaat yang sduah aku lakukan itu belum cukup, tapi temanku menyakinkan kalau aku sudah cukup baik denga semua yang pernh aku lakukan. Dia hanya saja-saja membuat aku yakin semua yang sudah aku buat, aku sadari itu, dan itu sedikit membuat aku lega.
Aku kira juga tahun kepengurusan kami akan baik-baik saja, aku kembali mengulangi narasi yang begitu terdengar menyebalkan, kemalangan yang menimpa organisasi adalah kehilangan inventaris. Apa yang membuatnya begitu sesak sekali jika dipikirkan?! Ya, proses mendapatkannya. Aku sadari bagaimana kekecewaan kepengurusan seblumnya untuk mendapatkan barang tersebut, banyak menguras pikiran dan tenaga, proses birokrasi yang panjang dan terbelit-belit jelas tidak efisien, tetapi mereka kerap mengulang narasi itu lagi dan lagi, dan lagi-lagi aku sendiri membenci diriku sendiri karena tidak dapat berusaha seperti mereka, bahkan hanya untuk persoalan menjaga inventaris. Oh tuhan kata "andai saja" belakangan ini selalu mengingan di gendng telingaku, dan beberapa percakapan menyesal dengan teman-teman yang membantu pengurusan laporan ke pimpinan baik kampus maupun kepolisian. Aku benar-benar tak menyukai situasi di mana aku membenci keberadaan diriku, dan di masa-masa yang sangat sulit itu aku kerap mimpi buruk yang berarti, Aku ceritakan satu mimpiku soal kehilangan inventaris tersebut, terbangun jantungku berdegup sesak, terasa begitu nyata mimpinya. Keesokannya aku mimpi, sekalian tangis teseduh-seduh. Bangun tidur aku berkaca mengasihani diri sendiri, aku kembali bercerita dengan pantulan diriku di sana, kesalahan apa yang sudah kubuat, apakah aku pernah lalai dengan janji-jani yang kubuat, atau aku tidak pernah bertanggungjawab dengan perbuatanku, hah?!
Setiap pagi aku harus bangun dengan kenyataan banyak urusan yang belum selesai, aku harus bergegas berjumpa dengan teman yang lain, dan mereka mungkin juga menghadapi masalah yang sama denganku atau bahkan lebih sulit.
Sejauh ini kami sudah melakukan upaya terbaik untuk membantu kondisi, ya walaupun tidak menunjukkan kemajuan yang jauh, satu persatu pasti kami lalui.

Komentar
Posting Komentar