Ayolah Koreksi Tulisanmu, Bisa Ya Bisa!
Setelah berbulan-bulan tak lagi memenuhi beranda blog, aku kira banyak cerita yang pupus begitu saja tanpa diabadikan. Bukan karena apa, sebab menurutku jika cerita sehari-hari hanya lumat di dalam pikiran saja, siapa tahu risiko penyakit skizofernia atau alzaimer menyapa di usia muda, kemudian semua cerita pupus begitu saja, bersama sel-sel otal yang tak lagi mengait rantai-rantainya. Lalu orang sekitar kebingungan proses pemulihan juga demikian diri ini sendiri yang kian sama bingungnya memulai soal diri.
Setelah berbulan-bulan, tak lagi
kulihat di beranda statistik ada yang sudi membaca cerita anekdot kehidupanku
pada laman daring bermodalkan domain gratis peruntukkan amatiran seperti aku
ini, lagi pula tulisan di laman itu memang kurang layak untuk dinikmati, banyak
kesalahan mulai dari ejaan hingga penulis yang suka kebingan menggambarkan ide
ceritanya yang dia sendiri padahal merasakannya.
Mulai sejak dulu ada satu prinsip
yang aku yakini untuk tidak mengubah direksi kata pada blog itu, tapi mulai
ejaan, kata dan printilan tata bahasa lainnya begitu kacai, jadi bukan heran
kepalang orang enggan untuk membaca. Saat membaca tulisan di blogku orang akan
merasa dihujami batu krikil dan pasir sungai di permukaan bola matanya, sebab
itu tadi, tulisannya sangat kacau.
Setelah aku maraton baca seluruh
artikel yang aku kirim di beranda blog itu, ya ampun rasanya ingin memaki diri
sendiri, tulisan amburadul, kacau. Ada keinginan untuk mengedit 30 artikel di
sana, tapi saat membukanya saja, mata sudah nyut-nyutan.
Dari pada aku misuh-misuh saat tak
ada kerjaan, kayaknya bukan masalah bila aku koreksi semua koleksi tulisan di
bloger amatiran itu.

Komentar
Posting Komentar