Rindu Itu Jangan Cuma Dikhayalkan, Datangi Dia
Ingin membunuh kebosanan di akhir pekan, aku pikir berkunjung ke kediaman bude masak di asrama dulu, sepertinya ide bagus. Ini sebetulnya merupakan wacana jadul yang terus tak kesampaian, dan waktu ini merupakan waktu yang tepat.
Dalam 35 menit lebih kendaraan bermotorku berpacu, menebas angin dan tentu saja dangan berbagai krasa-krusuknya motor bebek di tengah padatnya jantung kota. Kunjungan yang cenderung mendadak ini sebetulnya juga untuk menunggu jadwal ujian Kompre yang tak penuh di gayung penantian.
Rupa-rupanya sudah hampir 1 dekade, tepatnya 9 tahun, waktu yang lama kami tidak saling bertemu. Sebelum sampai di kediaman bude, di sepanjang jalan Panam hingga Jalan Nangka, aku banyak overthingking soal bude, apakah ia masih sehat, panjang umur, atau kah beliau sudah pindah dan berganti dengan orang baru, ataukah bude sudah lupa banyak hal soal anak-anak asrama angkatan 2011?. hal itu saja yang selalu terproyeksikan di dalam pikiranku, kutahu itu berlebihan tapi menurutku aku hanya sedang bimbang saja soal kunjungan mendadak ini.
Setelah akhirnya berlomba cepat dengan mobil-mobil orang kaya, aku sampai di depan gerbang sekolahku yang sangat berkesan dalam hidupku. Aku menagmati kondisi sekitar, sesaat sebelum masuk ke dalam, sempat ada kegundahan. Bisakah alumni yang sudah lama tak pernah berkunjung mampir ke dalam, lebih-lebihnya aku tak berpakaian cukup muslimah saat itu. Ditambha lagi, aku tak dapat menyebunyikan perasaan insecureku ketika melihat bangunan-bangunan yang berdiri megah lagi kokoh menyambut kedatangan setiap orang, pilar-pilar gedung yang hampir menyentuh langit itu bagai tentara yang berjaga-jaga.
Setelah melirik-lirik kondisi di sekitar, aku akhirnya berani masuk ke dalam sekolahku.
Sesaat sebelum masuk, ada sebuah pos satpam, seorang sedang tegak berdiri, berjibaku dengan gagang sapunya yang ditempeli sarang laba-laba dari permukaan dinding bangunan. Karen aia sibuk dan aku kikuk, jadi orang itu tak kusapa, aku langsung menerobos gerbang cream susu.
aku yang mengendarai sepeda motorku hanya melihat pemandangan yang berantakan, daun-daun ketapang berserakan, juga sisa material renovasi seperti triplek, pecahan semen, remah-remah cat yang terkupas bertumpuk di satu titik dekat gedung. Kalau kuduga ini gedung utama.
Suara mobil berdesing cepat, karen atepat di pinggir pagar ini, jalan raya terbentang luas. Dalam kebisingan jalan kota, aku berusaha menarik untaian benang yang tergulung dalam rol kepala. Tepat di atas gedung gagah ini berdiri, dahulu halaman utama sekolah, seluruh civitas akademika dan satriwati di Yayasan Diniyah Puteri berkumpul, baik dalam prosesi upacara atau kegiatan ceremonial lainnya.
Dahulu, aku pernah berdiri tegak di sini, seorang diri saat hari upacara sebagai pimru. Itu boleh dikatakan sebuah pengalaman yang sangat luarbiasa. Omong-omong saat kegiatan itu berlangsung, aku sempat menddengar sebuah cerita miring soal fisikku. Mungkin kalian tak akan menduga dengan fisikku saat ini, dahulu aku sangat mungil dan kecil, kalau boleh dibilang di tengah ratusan kepala siswa-siswa yang tegak, aku bagai tungau hitam di jarik batik. Bukan berarti parasit, itu perumpamaan diriku yang kecil namun cukup menarik banyak perhatian orang.
Setelah mengamati aku lanjutkan perjalananku, aku mulai medekati dapur asrama. Tapi aku terhalang pagar. Pagar besi bercat minyak putih kusam juga karat di pinggirannya itu sedikit terbuka, jadi kau dorong supaya makin luas ruangnya. Aku mulai merapat dekat rumah Bude masak, pelan-palan dan sopan menyapa orang yang ada di sana.
Bude yang Comel
Setelah beberapa menit sampai di teras dapur asrama, di balik daun pintu muncul seorang perempuan dengan perawakan kecil tapi berisi. Rambutnya dipenuhi uban, tapi hanya terlihat sebagian karena tertutup songkok merah jambu yang posisinya tak simetris.
Akhirnya aku bertemu dengan si Bude masak. Dulu dan sekarang bude tak banyak berubah, masih cerewet dan tidak menua rupanya. Ia masih tampak seperti lima tahun lebih muda dari usai sebenarnya.
Tak dinafikan bahwa Bude terkenal dengan marah-marahnya. Satu waktu, santri nyeletuk pada Bude, sebuah pribahasa "Jangan marah-marah nanti cepat tua". Bude dulu suka marah. kupikir, setelah apa yang kulihat dan kudengar. Pribahasa yang bilang kalau marah-marah nanti bikin cepat tua, tidak lagi relevan.
Kuberitahu, Bude suka marah karena kenakalan anak asrama yang tak ada habisnya. Satu kasus, Bude marah sangat meledak-ledak ketika ada satri yang memfitnahnya masak dengan sayur-sayur busuk. Padahal menurut klarifikas Bude, beliau hanya ditugasnya memasak tidak untuk belanjanya. Jadi lebih tepatnya Bude membela diri tidak ada campur tangannya memilih bahan-bahan yang hendak dimakan oleh para santri.
Lalu kemarahan Bude membuncah ketika tahu santri cuci tangan menggunakan air minum. Dan yang lebih parahnya, santri termasuk aku juga pernah, hahah, cuci tangan langsung dari dispenser tradisional itu. Bude sering dengan nada tinggi mengingatkan kami, cuci tangan dengan air dispenser mubazir air minum, tentu kebiasaan jelek itu membikin dapurnya banjir. Itu sangat bahaya bagi santri dan tentu keluarganya yang juga tinggal di sana.
Setelah berbincang-bincang, aku beranjak sebentar dari samping Bude, dan mulai pedar dari pandangan. Aku merapat di lain sudut, mengamati banyak gedung baru.
Aku banyak menemukan tranformasi yang jauh berkembang di bangunan-bangunan pesantren satu-satunya khusus puteri di Provinsi Riau itu. Dengan bangga kusebut inilah sekolah Emansipasi Perempuan.
Diantara puluhan ruangan baru, yang paling mencolok ada di bagian depan, yakni pintu gerbang. Dahulu gerbang di sekolahku ini model teralinya sangat jadul, berpola bunga dan besi mengerucut menunjuk langit.
Ada kenangan yang paling melekat dengan gerbang. Ia bagaikan batas surga dan neraka. Setiap satu langkah kaki tak berizin bagai meniti di atas bara, sirotol mustaqim. keluar gerbang sama dengan menegangkan. Aksi tak berizin itu digadang-gadang bagian dari cabut dari sekolah.
Untuk penjahat kelas teri seperti aku ini, alasan cabut biasanya didorong urusan kampung tengah. Bukan yang lain-lain. Bertemu dengan ikhwan sama sekali tidak. Satu dua kali, cabut dari asrama karena bosan, pelariannya berkunjung ke swalayan atau mall sekadar mecuci mata.
Tapi untuk penjahat kelas kakap tentu persoalan cabut dari asrama itu jauh dari daftar aksi yang menegangkan.
Menurut mereka aksi yang paling menegangkan adalah mereka cabut tapi pulang ke rumah orang tua. Tidak itu saja, hal yang menegangkan lainnya adalah aktor kelas kakap ini berani membawa handphone ke asrama.
Tentu para aktor kelas Kakap ini melakukan aksi menegangkan membutuhkan persekongkolan yang ciamik. Mereka bergeram macam sindikat. Berteman sangat selektif, kepercayaan adalah kunci. Bahkan dunia hitam di baliknya, aktor kakap ini berkolaborasi dengan pengurus asrama bekerjasama dalam aksi penyeludupan ini, bagi santri senior ini lagu lama.
Simbiosis mutualisme ini akan terbukti bila masuk masa razia, percaya atau tidak, aktor kakap ini sudah pasti dapat bocoran. Sehingga mereka bebas dari cengkraman razia handphone.
Kuberitahu di mana para santri menyimpan handphonenya, pertama di Boneka, Deterjen, di sela papan kasur. Paling safety dititip ke teman yang tidak tinggal di asrama.
Dari sudut pandangku, santri yang membawa handphone ke asrama juga tak buruk-buruk amat. Pasalnya satu dua kali mereka sangat membantu teman yang butuh menelpon keluarga di kampung. Santri yang membawa handphone ini, tak pernah sekalipun menagih biaya atas jasa yang mereka berikan.
Inilah angin segar buat santri yang home sick. Di asrama akses informasi sangat terbatas, untuk ratusan satri yang tinggal di asrama, hanya tersedia satu handphone saja. Apakah itu masuk akal? kupikir tidak. kalaupun telpon itu tidak diperebutkan santri dalam antrian panjang, tentu karena tidak ada pulsanya. Makanya ia terabaikan. Menyedihkan.
Oh ya setiap santri yang menggunakan handphone asrama dikenai biaya. Hitungannya setiap menit yang dihabis dikali berapa ratus rupiah.
Kembali ke santri yang membawa handphone, setiap peminjam selalu dalam pengawasan. Tentu mereka tak ingin telponnya jadi bahan amukan ustazah di asrama. Itu akan berbuntut pada pemanggilan orang tua, scoresing, atau proyeksi paling mengerikan adalah handphone itu remuk tak berbentuk di tangan ustazah menjadi satu karya seni abstrak hasil pahat dan bogem palu kuli jawa.

Komentar
Posting Komentar