Cerita; Kenal Jak Pitto Sipatiti Mentawai

 Tidak akan ada yang berang jika makan berdiri, tapi waktu itu cuma agak heran saja. 

Aku coba mengulik kembali ingatan yang tak asing, selepas saling kenal dengan  perkenalan yang santai, agak sedikit buru-buru di bawah langit yang senyap, aku baru ingat  ternyata laki-laki yang duduk di atas kursi panjang sambil bersender di muka dinding tepat di bawah AC itu sebelumnya sudah pernah kujampai. Menarik benang ingatan yang agak kusut di usia senja ini, aku coba mengingat dengan kerass, wajahnya sangat tidak asing. 

 Salam kenal jak, katanya. Sambil mengayunkan gerakan tangan yang tidak biasa. Pitto Gagai, tambahnya lagi. 

Temanku yang kebetulan kubawa malam itu langsung cair dapat mengobrol dengan Jak Pitto, mereka banyak bicara, bicara tentang suku bangsa, kuliahan, eksploitasi alam, dan tentang budaya. Aku juga ada bicara malam itu, tapi tak banyak, sebab kupercaya kawanku lebih mumpuni untuk bicara soalan tersebut, aku cuma mengamini setiap kali ada tanggapan dari kawanku yang satu itu. 

Dalam gamang dan bisuku beberapa waktu, aku diam-diam seperti menggamit-gamit dalam kepala, menarik memori di hipotalamus otak tentang sebuah wajah yang tak asing. Aku memperhatikan lawan bicara temanku itu, Jak Pitto. Dia anaknya suka mendengarkan, tapi omong-omong sebelumnya aku seperti telah bertemu dengan orang ini, di mana ya?

itu saja pertanyaan yang berputar-putar di otakku. Sampai akhirnya, kusut ingatan itu kembali mulus. usut punya usut, ternyata dia laki-laki gondrong yang makan sambil berdiri di belakang sewaktu hujan dua malam lalu. 

ya ampun, Jak Pitto ini rupanya orang yang sama dengan laki-laki yang menawarkan kursi malam itu. Cuma yang membuat aku agak pangling karena penampakan rambutnya yang sedikit lebih rapi kali ini. Waktu makan itu, ikat rambut Jak Pitto segan bergantung seperti ingin jatuh jadi rambutnya tak terikat ketat. Dia makan berdiri, lucunya makan pakai toples yang biasa dipakai buat simpan kerupuk. Aku tidak tahu apakah ingatanku itu valid atau tidak yang pasti malam itu aku sempat melihat Jak Pitto memegang benda tersebut. 

"Ya..Ya, itu tentu Jak Pitto," ujarku dalam hati. 

Setelah menemukan kedamaian atas pertanyaan 'angin'ku itu, akhirnya aku bisa kembali mengikuti arus perbincangan temanku dan Jak Pitto. Sampai di satu titik mereka mengobrol tentang suku. Kebetulan pula temanku ini orang batak, dan tentu saja itu sedikit menarik Jak Pitto untuk sedikit mencoba logatnya orang batak berbicara. 

Kala Jak Pitto mencoba-coba sebuah logat, ia sibuk dengan dirinya sendiri. Di waktu yang bersamaan kulihat temanku yang satu itu, ia seperti menyayangkan sesuatu, bukan suatu kesesalan, sedih juga terlalu berlebihan menggambarkan situasinya pokoknya ada sesuatu hal yang terlihat di wajah temanku, semuanya kentara dari air mukanya yang tak se-sumriah sebelumnya. 

Ia menyayangkan dirinya yang keturunan batak dari darah bapaknya itu, tak bisa bahasa batak. Waktu yang sama juga ada kelu di ujung lidahku. Sayang sekali, aku orang jawa yang kebingungan di mana kejawaan di dalam diriku. Sepertinya kami ini sedikit dari banyak orang-orang yang tak kebagian eksis soal berbahasa daerah di rumah.  

Tapi sedikit angin segar layak dirayakan,  setidaknya kami yang tak akrab dengan bahasa suku sendiri,  sedikit bisa paham ketika ada yang berbicara dan cuma terkendala bahasa bertuturnya. Diam-diam sempat tertegun,  takjub lebih tepatnya ketika Jak Pitto mengucapkan beberapa prase bahasa Mentawai, yang sama sekali bahasanya sangat tidak familiar di telingaku dan juga temanku. 

Ekspresi kami berdua seketika saja berubah, makin ntah seperti apa.  Pokoknya takjub.  Sempat mencoba mengikuti prase-prase bahasa Mentawai (oh salah satunya nama komunitas mereka, Sitasimattaoi) berekspektasi jadi nampak keren,  tapi sepertinya tidak.  Lidah kami kaku, seperti orang yang habis  dicekokin apa gitu.  Singkat saja, kupikir kali itu masih lebih mudah meniru bahasa Thailand, atau Korea ((haha becanda, jak)) 

Melihat hal lucu,  kutengok sepintas jak Pitto sempat ketawa-ketawa kecil, kurasa yang saat itu si dalam pikiran Jak Pitto adalah dia yang sedang buka les bahasa, bahasa Mentawai. Gratis berarti tidak bayar hanya cuma-cuma. Dia masih ketawa waktu itu,  sampai kelihatan lesung pipinya. 

 Tapi waktu terus berputar, tidak pernah beku seperti es krim milk shake-nya Warung Six. Kulihat jam yang melingkar di tangan kiriku, jarumnya masih di porosnya tapi lebih terasa seperti jam pasir tidak berdenting namun tetap ia akan habis. 

Entah sudah sampai mana saja pembahasan malam itu, minuman tak ada lagi di muka kami karena sebelumnya sudah habis di ronde duduk pertama sambil menyantap kuaci malam itu,  terasa rampai  percakapan malam itu usai begitu cepat.  Tendeng aling, sampai Jak Pitto di satu titik menunjukan sebuah motif tato bentuknya seperti gunting. Katanya, ada keinginannya mencari tahu makna tato itu.  Itu pula  yang menjadi motivasi untuk lanjutkan perjalanannya ke Sumatera Utara.  


Sebuah catatan diunggah di snapgram pribadiku pasca pulang dari Warung Six


Komentar

Postingan Populer