Bergadai Jangan Ekstrimlah





 Sebagai anak muda kebanyakan, aku juga ingin merasakan grasak grusuk balada percintaan. Tapi kalau dipikir-pikir syarat administratif untuk jebol debutnya saja aku tak bisa penuhi. 



Semua itu butuh banyak usaha, dan aku bukan jenis orang yang berusaha mendapatkan apa yang kuinginkan terutama soal cinta. 

Tulisan ini hanya kumpulan kata amburadul soal perasaan yang tengah kalut. 

Ku ceritakan refrein yang lain, ada satu temanku prnggiat sastra, berkelindan dengan dunia perpuisian, dunia perlakonan dan sebagainya. Dia bilang bahwa orang yang mampu membuat puisi tak usah diragukan kejeliannya dalam literasi menulis, menulis apa saja mulai artikel, cerpen hingga novel. Bahkan ketika itu aksiden terpleset, semua itu bakal jadi jalan lurus bagi mereka-mereka, katanya begitu. 

Aku tercenung. 

Ada benarnya juga kata temanku itu, dan aku tak pandai membuat puisi maka tak ayal aku tak pandai menulis cerita. Dan tampaknya impianku menjadi penulis dan mencetak buku hanya jadi khayalan belaka ketika aku tersesat dalam kebuntuan soal menalanjutkan hidup. 

Terus dia, kawanku itu lanjut mengungkapkan pernyataan bahwa ia suka dengan gaya tulisanku, katanya lugas. Hah? 



Kupikir dia sedang mabuk dan tidak sadar dengan yang dikatakan. Atau dia cuma mencoba mencibir dengan satir diriku yang sedari tadi tegak dengan wajah kunyuk.  Walaupun lontaran kata itu membuatnya tampak serius dan menunjuk satu tulisan yang pernah kubuat, se-saujanahnya itu tak mengubah fakta bahwa aku tidak cukup lebih baik dengan satu bait puisinya.

Aku sedih kalau mengingat segala ketertinggalanku. Tapi entah bagaimana ceritanya, aku tetap nyaman menikmati itu. Aneh sekali. 

Diam-diam dia mengerlingkan pandangannya, dari sudut mata yang rada sipit itu seakan-akan dia menemukan wahyu dari yang kuasa yang menunjukan sebuah ilham dari tadabbur kami yang panjang menyoal tulisanku.

Dia menyambar, tulisanku sudah cukuplah, dan kurangnya soal nyawa ditulisan itu. Ketika membaca aku perlu menuangkan 'kehidupan' di sana seakan pembaca merasakan kelukaan yang dibacanya, bahkan kalau bisa mereka lebih terluka dari luka-luka yang ada. Dan lebih senang dari kesenangan-kesenangan yang ada ditulisanku. 

Aku tak berkelid sebab masih tak paham yang dimaksud lebih luka, lebih bahagia, itu yang seperti apa? Utopis. Lebih luka  lebih bahagia itu bagiku relativitas yang sama sekali aku tak paham. Akhirnya aku hanya berpikir bahwa kawanku itu hanya berbual. 

Kebisuanku sama sekali tak membuatnya berhenti menjelaskan, sampai akhirnya aku mendengus dan ia terhenti membuar kata-katanya nan filosofis. 

"Pokoknya kalau nulis itu yang jujur, Tik, sudah itu saja"

Bangsat. Bagiku tak perlu membeberkan segalanya  selempeng  itu tentang  yang kurasakan  menjadi konsumsi publik. Itu sangat tidak bijaksana. 

"Dan, kau cobalah menjajal dunia percintaan dengan nyata. Biar itu jadi kalibrasimu dan bercocok tanam di penyembaraan menulismu,".

Oh tidak-tidak, aku sudah cukup dengan rasa luka berserakan di atas halaman buku-buku yang kubaca. Itu saja sudah menyakitkan hatiku, kenapa aku harus menyicip luka yang nyata jika bacaan buku sudah cukup memilukan hati. 

Kenapa begitu banyak yang dituntut hanya untuk menulis. Masa aku harus mengadaikan rasa cukupku dan bertaruh untuk pengalaman azkaban (percintaan)?



Komentar

Postingan Populer