Sapih Misoginis di Seri Buantan On Framework
Tampilan ciamik, gradasi warna panggung, tektokan musik dan tentunya tataran penonton yang tak biasa sepertinya cara Rumah Budaya Tengku Mahkota membuat jalan baru menampilkan Seri Buantan on Framework yanh diselenggarakan saat Pekan Budaya di MTQ Riau pada 26 September lalu.
Dapat disebut demikian lantaan Sutradara yang asyik menenggelamkan pikirannya mencari sisi berbeda bagaimana pegelaran Buantan yang tak pernah sepi peminat ini, jadi berbeda dari yang sudah-sudah. Tentu insan-insan penyuka Seri Buantan dapat ingat betul setiap scane yang ada di dalamnya. Dan bijaknya, sang sutradara tak salah langkah, dari sekian banyak scane- scane menarik Seri Buantan yang layak dihighlight jadi serupa thiller, pemilihan scane Tengku Mah Bungsu dan Encik Kecil Putri Adipati beserta Sang Raja bukan pilihan yang amatiran.
Pada scane yang spontan kemunculan Tengku Mahbungsu dan Encik Kecil Puteri Adipati di panggung saat penjelewatan scane komedi sempat mendistraksi, pasalnya banyak penonton terkecoh jika inti drama sudah dimulai, ternyata tidak demikian, itu bagian dari scane komedi satir belakang panggung yang menampilkan bagaimana proses wirasa, wiraga, wirupa seorang artis membawa perwatakan tokoh di Seri Buatan.
![]() |
| Scane sutradara mengajarkan wirasa pelakon Seri Buatan on Framework. |
"Actionnya mana, begitu orang sedih? Ekspresinya dong," peraga salah satu aktor menirukan seorang sutradara. Walau suasana tampak serius, gelagat sutradara mengundang cekikan penonton.
Apiknya bukan main, bukan hal mudah mengubah atmosfir suasana yang semula riang mendadak hening dan hawa nelangsa terasa. Lantunan syair nan mendayu-dayu tak daya serta keluh sang Tengku Mahbungsu berhasil memforsir keriuhan sebelumnya.
Kembali ke scane Tengku Mahbungsu, Encik Kecil Putri Adipati. Selepas kelakar-kelar dan keadaan hening, ajib betul Tengku Mah Bungsu membawa narasi seorang perempuan yang menderita lantaran status kehadirannya disebut sebagai sumber perpecahan dan keributan di dalam istana yang dikenal Masyarakat Riau sebagai Kerajaan Buantan.
![]() |
| Tengku Mahbungsu meratapi nasib dikandung badan. |
Dalam scane yang terpampang, Tengku Mahbungsu bercerita tentang keributan batinnya, menyadari bahwa kehidupan yang dijalani di dalam istana laiknya gerbong-gerbong penderitaan bagi perempuan-perempuan yang ada di dekatnya; Pertama kakaknya, dan kedua Encik Kecil Putri Adipati sendiri yang merupakan istri pertama Raja Kecik.
Ungkapan yang dituturkan Tengku Mahbungsu menumpah ruahkan segala nestapa bagaimana posisi perempuan dahulu yang dianggap sebagai kelompok manusia kelas dua itu tak berdaya, tak memiliki kuasa menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Dan itu disampaikan dengan jujur oleh Sutradara melalui skrip cerita, sehingga memberi gambaran sudut pandang baru bagaimana sebetulnya banyak gundah gulana dan keriusauan ntah berantah berumbai-umbai di benak perempuan masa itu. Pada beberala fenomena serat inti masalah di atas masih begitu relevan.
Namun tak dinyana, bisa kita sebut posisi Tengku Mahbungsu merupakan momok mengerikan dalam hubungan romantisme, dan tentu dalam pernikahan, ia merupakan 'musuh-musuh' tim istri pertama. Secara tak sadar keyakinan yang bercokol dalam benak banyak orang ini melahirkan semacam pandangan untuk membenci antar wanita, atas kebencian terhadap wanita itu dikenallah istilahnya sebagai misogonis. Bukan salah lagi, itu merupakan hasil dari hegemoni patriakal yang begitu kental di masa lalu hingga sekarang.
Hal ini dibuktikan bahwa balasan interaksi yang dihadirkan saat momen kemunculan Tengku Mah Adipati dihadapan para dayang kerajaan lalu dihadapan Raja.
Sedangkan sosok Tengku Mah Adipati yang dikenal dengan karakteristik tegas dan lugas itu membrodongi sejumlah kecaman tak suka pada Tengku Mahbungsu. Belum lagi narasi yang berbunyi tentang perebutan raja dihubungan mereka (Tengku Mah Adipati dan Tengku Mah Bungsu), hal itu menyaratkan seakan perempuan tak dapat hidup tanpa lelaki dan perempuan membutuhkan lelaki sebagai pelindungnya.
Jadi boleh dikatakan bahwa pemilihan highlight scane Tengku Mahbungsu, Raja Kecil, dan Encik Kecil Puteri Adipati seperti sebuah pisau dengan dua bilah mata. Artinya ada sisi sisi di dalamnya.
Selanjutnya, kata sapih kiranya punya makna korelasi yang pas. Sapih dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan lumpuh sebelah badan, atau mari kita seperti kelumpuhan. Kemudian Sapih dalam versi KBBI lain diartikan pula menyarak (menghentikan anak menyusu) seperti ibu yang berhenti menyusui anaknya sudah berumur dua tahun.
Bagusnya istilah sapih ini ditautkan dengan istilah misoginis ini mencoba memberikan pandangan baru bahwa misoginis itu merupakan suatu hal yang pincang. pincangnya itu dilemahkan secata struktural.
Jika studi kasusnya berdasarkan cerita Buantan, tentu kebencian yang timbul di antara tokoh utama Seri Buantan on Framework ini ditarik benang merahnya karena sikap tak adil raja kecik pada istrinya.
Yang sulit untuk pulih karena semua kepincangan cara pandang itu dikaitkana dengan lemah tak daya, menyulitkan menyusahkan dan tentu tak disukai banyak orang karena tak sebagaimana orang normal secara normatif.




Komentar
Posting Komentar