Begini Pengalaman Pendaki Pemula Naik Gunung Bareng Open Trip

 

Mendaki gunung merupakan pengalaman yang setidaknya dirasakan sekali lah dalam seumur hidup. Kata-kata itu sering kudengar saat aku menjajaki bangku kuliah, ketika umurku masih sekitar 18 sampai 20 tahunan. Sebetulnya siapa sih yang tidak ingin menikmati keindahan Tuhan melalui penciptaannya? Apalagi sudah dibarengi niat, tentu tak perlu banyak berpikir.

 

Naik gunung bukan sekadar perkara naik lalu turun. Tapi di momen itu kita diajarkan untuk menjadi orang yang penuh perencanaan dan kematangan rencana, penuh kalkulasi.  Alasannya mudah saja, summit memang indah, lebih indah kembali pulang tidak kekurangan apa-apa.

 Di usiaku 24 ini aku jadi pendaki pemula, jadi mesti mencari tahu bagaimana kondisi gunung yang hendaki dikunjungi. Mulai dari tingkat ketinggian gunungnya, cuaca saat muncak, trek, dan tentu saja aturan-aturan yang berlaku di gunung tujuan.

 

Gunung pertama yang aku naiki adalah Gunung Prau dengan ketinggian 2565 mdpl, yang terletak di  Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sebagai pemula tentu aku tak berangkat seorang diri, dengan minim pengalaman, aku berangkat bersama pelayanan Open Trip.

 

Seperti yang sebelumnya aku bilang, sebelum naik gunung mesti banyak hal yang kita cari termasuk, pilihan open trip. Kita mesti verifikasi pelayanan open trip, dengan melihat jejak sosial medianya, jejak komentar pelanggannya dan tentunya estimasi pembiayaan yang ditawarkan open trip tersebut.

 

Kenapa kita mesti tricky memilih open trip ini? Pasalnya, mau tidak mau mereka ini yang berjasa menunjukkan jalan, menyiapkan pelayanan sandang dan pangan selama muncak. Tentu kita enggak mau kelimpungan dengan pelayanan yang buruk karena sedari awal tidak selektif memilih open trip.

 

Dari yang banyak aku banyak di google, tidak sedikit pengalaman buruk yang dirasakan pendaki dengan open trip. Misalnya saja ditinggalkan rombongan, kemudian soal makan yang pas-pas. Itu yang aku highlight selama aku mencari informasi mendaki gunung.

 

Tapi syukurnya pengalamanku ikut dengan rombongan open trip justru sangat baik sekali, walaupun ada beberapa kekurangan seperti waktu keberangkatan terlambat. Tapi ya itu masih dimaklumi dan tidak fatal.

 

Menyoal ditinggal rombongan? Syukurnya aku tidak merasakan hal tersebut. Teman-teman dari open tripnya sangat supportif, buktinya saat sudah di pos  Patak Banteng, salah satu anggota open trip menunggu rombonganku dan temanku yang terakhir baru mulai naik.

Tidak ada desakan untuk cepat-cepat sampai ke puncak, beliau menyarankan kalau lelah untuk berhenti. Lalu lanjut jalan kembali. Jadi begitu ya, kalau soal menunggu rombongan.

 

Kalau soal makan? Wah kalau ini gila sih.  Teman-teman dari open trip sangat siap sekali menyiapkan makanan. Tidak ada satu momen pun,  peserta open trip yang menggigil karena lapar. Benar-benar di luar ekpektasi. Ya seperti yang diketahui, aku sejak awal sudah tidak ekpektasi tinggi kalau pelayanan open trip akan sebaik ini.

 

Menu makanan yang sering dijajakan oleh teman-teman open trip adalah pisang goreng coklat keju, lalu es buah, potongan buah segar, teh, kopi. Dan soal lauk makannya mulai dari sambal lado, mie goreng, bakso-baksoan, sop, telur gulai.  Memang semuanya proper. Mantap.

 

Dan satu yang  pov aku soal open trip ini, mereka gak pernah pandang buluh sama siapa memberikan pelayanan. Apapun itu. Mau kamu cowok atau cewek, kamu cantik, ganteng atau burik sekalipun. Semuanya diperlakukan adil. Sekalipun kamu adalah langganan lama open trip itu. Yang kulihat semuanya dilayani  sama baiknya.

 

 

Dan satu lagi, keuntungan kita ikut open trip ketika naik gunung adalah punya relasi baru. Tak dipungkiri teman-teman yang muncak ke Prau kemarin adalah orang yang  punya banyak pengalaman terutama dalam pekerjaan.

 

Aku kenal sama perempuan asal Cikarang, kerja sudah mau tiga tahun di baian administrasi di perusahaan kapal. Tugas dia, memantau kapal sampai pelabuhan, kapal yang masuk perbaikan dan  beberapa hal teknis soal kondisi kapal.

 

Aku juga kenal  perempuan asal Palembang tapi stay di Jakarta sudah lama. Kita satu tenda btw. Dari cara dingomong sih ketara kalau anaknya well educated. Kenapa aku bisa tahu? Karena satu perbicangan ramai-ramai, mbak itu ngomong istilah psikologi, contohnya “Nah, teman kayak kamu ini, sanguinis banget ihh,” itu potongan kata yang dia ucapin pas penyampaian kesan menjelang turun gunung.

 

Loh kenapa aku anggap dia well educated, cuma karena ngomong istilah gitu? Ya secara ya, jarang banget orang-orang secara umum diskripsikan satu kondisi dengan istilah ilmiah gitu. Lebih-lebih ini ngomongin soal psikologi kepribadian. Mantap, mbak. Dan tahu gak? ternyata mbaknya  seorang dosen ekonomi bisnis, bergelar Phd.

 

Jadi kayaknya semua teman-temna open trip sepakat deh, kalau semua orang di rombongan Prau kemarin sangat baik-baik banget. alhamduulillha. Jika ada kesempatan lagi, aku mau coba naik gunung lainnya, aamin.

 

 

 




Gunung Prau 2565 mdpl. 2023. 




 

 

 

Komentar

Postingan Populer