Jurnalis Gak Boleh Cakit, Chandya, BersYandahhh!!!
Belakangan kondisi tubuhku sangat tidak fit. Setidaknya selama sebulan ini. Di pertengah Agustus, tubuh sering terasa demam, sesekali perut mual. Tapi aku tak terlalu ambil pusing menaruh fokus untuk perasaan-perasan itu, yang menurut bagian dari gejala kemalasan.
Aku menjalani hariku biasa saja. Malam mengusulkan liputan, melihat proyeksi, ke lapangan, bertemu narasumber, menulis berita hingga penuhi kuotanya.
Tapi satu malam di tanggal 15 Agustus, aku liputan di DPR RI. Seharian liputan sempat kayak mau pingsan. Mata berkunang-kunang, melihat kayak berkabut. Mau lihat layar hape pun udah silawwww nya minta ampun.
Akhirnya aku beranikan diri untuk izin tidak turun lapangan lagi meliput agenda parpol malam itu. Aku bilang ke editorku, aku izin. Menyusul lampirkan surat dokter.
Syukurnya editorku mengizinkan. Pulanglah aku ke rumah naik motor dengan kondisi tubuh yang beneran loyo. Aku sedikit khawatir, takut tumbang ketika menyetir. Tapi aku ingat, aku Tika, ku Strooooong!.
Sebelum akhirnya aku mau pulang ke rumah, ketika di parkiran DPR RI aku nangis cuma karena perkara geser motor, haha. Tapi benaranlah, karena udah gak enak kali perasan hati dan badan nih, udah gak sanggup lagi rasanya mengeluarkan tenaga. Mau ngomong tolong pun udah gak mood.
Pas kucoba geser motor, Ya Allahurabbi. Motor yang mau kugeser ini beratnya minta ampun lah. Gak sanggup aku, tenaga tukang dodos yang ada didiriku mendadak lesap menghilang tak berbekas.
Aku gak sanggup. Teriak minta tolong pun gak ada orang. Susah kali.
Nangislah. Nangis senggugukan, hik..hiks. Enggak malu, gak ada yang dengar. Lucu sebetulnya kalau diingat-ingat, tapi ya itulah menagis juga bikin hati lega, walau tak banyak, tapi boleh lah, itu sangt baik. Ekspresif.
Akhirnya pulanglah aku naik motor. Dan sampai di kosan.
Sesampainya di kosan, aku ingat aku mesti sampaikan lampirkan surat sakit. Tapi, aku sadar, puskesmas malam hari biasanya juga ramai, ngantri berobat pun udah gak sanggup. Jadi aku putuskan untuk istirahat langsung. Memang kudambakan memburu diri supaya tenggelam di pulau kasur. Tempat yang paling ideal di kepalaku. Ditambah dengan sedikit angin sepoi-sepoi kipas. Aku cuma mau istirahat.
Besoknya barulah aku berobat. Selama kurang lebih 7 bulan di Jakarta baru sekali lah aku berobat ke puskesmas. Dari berobat itu, aku mendapatkan 4 paket, berisikan kaplet vitamin, obat-obatan parasetamol, radang dan lain-lainnya.
Agustus akan berlalu, kondisi tubuh sempat membaik. Mencuatlah gencar kabar polusi udara Jakarta sangat buruk.
Tak dinyana, ada dehem dan sediikit uhuk-uhuk yang mendera tenggorokanku. Betuk kecil itu berubah jadi mimpi buruk. Aku sakit batuk. Sampai sekarang masih batuk. Batuk yang buat kepalaku tengah malam terantuk, dan pagi terkantuk-kantuk.
Dampak batuk ini gak cuma itu saja. Kemrin aku liputan di Parpol. Aku dapat kesempatan bertanya. Ketika bertanya, aku berupaya mengeluarkan suara yang paling apik, dan menahan isofaringku supaya tak batuk-batuk.
Temanku yang bertanya, kenapa bertanya seperi mau nangis. Aku tertawa sambil terbatuk-batuk.
Kubilang, aku menahan batuk, bukan menahan tangis.
Aku tidak pernah batuk sampai 3 minggu lebih. Jadi ada curiga ini batuk karena infeksi saluran pernapasan. Tapi ini dignosa amatir ya. Aku perlu cek lab untuk pastikan hal ini.
Kata Dokter, jika dalam kurun seminggu pengobatan tidak ada progres, aku baru akan dirujuk untuk pemeriksaan rotgen. Tapi, tadi siang aku malah overthingking. Aku takut didiagnosa kena kanker paru-paru. Hahaha. Ada-ada saja kan, pikiran seliar itu cuma perkara paru bakal di rotgen.
Jurnalis tidak boleh sakit. Apalagi tidak punya Jaminan Layanan Fasilitas Kesehatan. CyandAhhh. BerCyaNdahhh, candaahhh berChandyaaaa. Maksudku tentu kita tidak ingin di posisi-posisi yang sulit seperti ini
Teman-teman, jagalah kesehatan. Pakai masker ya kemana2. Apalagi teman2 jurnalis yang seharian dengan mobilitas padat di luar, di lapangan. Paparan udaranya lebih intens dengan polusi.

Komentar
Posting Komentar