Menjadi Orang Tua Tidak Ada Silabusnya

 Aku mencintai setiap proses yang berjalan dalam hidup. Walaupun ketika di tengah perjalanan proses berlangsung ada marah, lelah, benci, sakit hati atau apapun yang tidak enak dan tidak indah, tetap akhirnya aku mencintai proses itu. Ketika proses  itu sudah usai aku sering baru sadar, oh begini ya maksudnya,  oh jadi seperti ini hasilnya.  



Gambar hubungan anak-orang tua, orang tua-anak, di kompleks Stadion Gelora Bung Karno, Ahad, 15 Oktober 2023. 



Aku sering menanggapi proses sebagai pembelajaran. Sampai temanku tahu templateku itu. Dan dia hapal hal apa yang aku sampaikan ketika membicarakan suatu proses. 



 Hidupkan emang gak pernah lepas dari yang namanya belajar. Hidup dinamis dan cair. Haha. Sama halnya menjadi orang tua. 



Menjadi orang tua itu pilihan, bukan hukum alam. Jangan  reproduksi bila tak sanggup menjadi orang tua. Tidak semua yang orangtua tepat menjadi orang tua. Aku selalu camkan itu baik-baik. 



Suatu keegoisan besar, ketika manusia dewasa memilih  menjadi orang tua tapi enggan belajar bagaimana menjadi orang tua. Karena dinamisnya  pelajaran menjadi orang tua, sering luput kalau pemberi materi belajar orang tua adalah anak. Ya anak-anak kita. 


Aku belum pernah dengar menjadi orang tua ada silabus pakemnya atau kurikulum. Bab 1 begini, bab 2 begini, bab 3 dan seterusnya. Setiap anak memberi stimulus berbeda kepada orang tua, jadi reaktif orang tua juga berbeda, tidak bisa sama. 



"Jangan pernah memaksakan standarmu pada nilai-nilai yang diyakini orang lain" aku  dengar kata itu dari temanku.  



Masih Yakin Menjadi Orang Tua Walaupun Tidak Mudah


Ada kata yang menurutku pantang disampaikan dihadapan ibu-ibu ataupun perempuan yang sudah menikah atau punya anak. 


"Kok anaknya lebih akrab dan dekat dengan tantenya, atau kok anaknya lebih sering main sama bulek atau paman, atau neneknya", nah itu pamali menurutku. 



Aku sebagai anak muda yang belum menikah dan punya banyak keponakan, menjadi paham bagaimana rasanya jika ada yang mengutarakan hal begitu. 


Mungkin sebagai orang yang disinggung dalam pernyataan itu merasa tersangjung, kalau seorang tante atau sanak saudara bisa merawat hubungan baik dengan keponakan, tapi harus ingat, si tante, si paman, si nenek tak melulu ada dalam situasi tak terduga bersama anak. Sehingga gak perlu naif, kalau kesan kejenuhan itu tidak ada dalam hubungan keponakan dan tante, paman atau nenek. 




Namun menggunakan POV si Ibu, ketika seseorang mengutarakan pernyataan seperti itu memang kesannya gak kasar, dan bertanya. Tapi sadar atau tidak pernyataan itu menggerogoti eksistensial si Ibu. 


Mungkin orang lain atau bahakan sekelompok ibu bakal mengklaim, gak lah begitu pengaruh pernyataaan-pernyataan begitu. Tapi ingaglah, tak semua ibu itu jenisnya sama. Ingat itu, ingat itu baik-baik. 



Seorang ibu sudah sudah dibebani banyak aktivitas, kelelahan fisik, psikis dan mental, ibu mesti memikirkan hal-hal yang membuat dirinya merasa didiskriditkan. Ibu orang penting kemudian merasa tereleminasi hanya perkara penampakan-penampakan sesaat, kira-kira begitu. 



Memang ibu dalam konteks orang dewasa bisa memilah mana topik yang mau dipikirkan daripada pernyataan di atas, apakah itu mrmikirkan menu masakan malam, stok sabun dan gas atau deadline pekerjaan, tapi tetap saja hal-hal yang menyentil eksistensial ibu juga menggangu isi kepalanya. 



Menurutku sekali saja sudah cukup mengganggu. Apalagi ritme sering dan berulang. Mungkin hari yang menyatakan hal tersebut uwak-nya, besoknya tentangga kedai sebelah lusa lagi ntah siapa lah. 



Maka akhirnya skema terburuk adalah ibu jadi mempertanyaan manfaat dirinya, lalu rendahnya penghargaan dirinya, rendahnya kepercayaan diri, merasa tertinggal dan lain sebagainya.



Aku sebagai anak muda, dan kemungkinan juga bakal menjadi calon ibu (dari anak-anakmu, eakkk) juga belajar, belajar menjaga cangkem men mingkem ra keakehan cocot soal hal-hal di luar kendali kita. Kan hubungan itu gak ada yang bisa mengendalikan, semua terjalin murni tanpa paksaan. Nah samalah seperti yang sedang kubicarakan sebelumnya.

Komentar

Postingan Populer