Evaluasi dan Harapan: 2023 pada 2024

Selamat datang 2024, yang ramai karena euphoria pemilu bukan karena menyambut kekasih baru.

Semoga tahun ini, kalian tidak macam-camm ya. Boleh ada kejutan, tapi semoga itu kejutan yang asyik dan menyenangkan. Januari ini, aku merasa kembali di suasana Januari 2023. Ada ketakutan, bingung dan khawatir yang tidak bisa dijelaskan. Ini tentu persoalan pekerjaan.

Walaupun Januari ini suasananya seperti Januari tahun lalu, aku berharap Februari hingga Desember yang akan datang, suasananya tak sama. Aku mau suasana yang lebih baik, lebih tenang, lebih progresif. 

Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan selama 2023 dan aku bangga bisa di titik itu. Pertama, aku bisa merilis buku walalupun itu projek bersama. Buku ontologi yang bil khusus diniatkan buat almarhum ibuku.

Kemudian, aku punya dua teman dekat dari sirkel kerja. Mereka anak yang seru, terbuka dan lumayan bisa saling mengerti.

Aku bersyukur kalau aku bisa mendaki gunung untuk pertama kali dengan pemandangan yang luar biasa indah, aku juga tak sendirian, ada sepasang senior yang juga dekat denganku.

Aku juga senang karena berani membangun hubungan interpersonal romantis dengan orang baru, walaupun banyak perbedaan, lalu naasnya baru seusai jagung hubungan itu kandas. Tapi itu bukan masalah, intinya aku tahu bahwa aku adalah manusia yang siap untuk membangun hubungan romantis.

Lalu dalam waktu berdekatan, angin  dari selat Jakarta mengirimkan aku satu anak manusia bongsor, tinggi besar, lucu, baik juga pengertian. Senyumnya  manis punya kumis tipis-tipis. Dia seperti betadine atau cairan hcl buat orang sakit. Aku banyak bertukar pikiran dengan manusia itu.  Dia sangat terbuka terhadap perbedaan. Tapi menuju awal 2024 aku tak menyangka bahwa manusia itu mulai menghilang dari radar. Sepertinya masa bertugas mengobati pasien sakitnya sudah habis.

Ada hal yang melekat betul di sukma, dalam perbincanganku dengan manusia itu. Kejadiannya berlangsung di Bulungan, Jakarta Selatan. Malam yang dingin diisi bising suara klakson, dia merapikan mulutkan, mencuil daging ayam dua potong di depannya.  Dia mengatakan bahwa “Setiap kita ditemukan dengan orang-orang yang serupa. Seperti magnet yang menemukan kutubnya”.

Pada dua eskrim yang teronggok saat itu, aku termangut-mangut. Berpikir ada benarnya, tapi juga ada sialnya. Dalam hening persekian detik aku berpikir jika benar seperti magnet menemukan kutubnya, sial sekali orang baik yang bertemu dengan orang tidak baik. Sebab ada banyak contoh orang-orang tulus selalu disakiti orang-orang terdekatnya.

Tapi di lain sisi, aku adalah orang yang beruntung. Aku bertemu dengan manusia yang baik. Berarti benar istilah seperti magnet menemukan kutubnya.

Manusi bongsor itu lebih sering melucu, tapi kelucuannya sejak 2024 memudar. Kadang menjadi perawat tapi sepertinya kesehatannya juga sedang tidak baik makanya dia tidak merawat pasiennya. Tapi jujur, saya juga rindu kata-kata filosofisnya yang kadang ndakik-ndakik seperti harapan ibu. Buktinya kutipan “Seperti magnet menemukan kutubnya”.

Setelah manusia itu, aku senang karena aku bisa mengkuti ritme pekerjaanmu. Aku mulai berkenalan dengan banyak orang. Teman-teman mulai menyapa diriku, walaupun kadang aku masih sering mencuri-mecuri melihat whatsapp siapakah nama sosok yang menyapaku tadi.


Komentar

Postingan Populer