Friend #1

"KOPI" No Thanks, No Sorry **


 Setelah selesai perkuliahan ku lihat dibalik jendela kelas, awan tebal menggumpal seperti Gulali tapi berwarna kehitaman mengambung di langit yang biasanya cerah kelihatan gelap. Satu per satu bahkan infinif  rintik air hujan jatuh membasahi bumi. Oh tidak luput pula angin barat berhembus dengan lembabnya menggerakan daun-daun di pohon, ini bulan Desember. Akhir tahun telah berjalan musim penghujan sejak Oktober lalu, setelah musim pancaroba yang telah dilewati, kini jelas bahwa aku harus selalu sediakan mantel hujan di Jok Motor ku.

Kau engganku ajak pulang bersama, dengan Vespa tahun bawah ini, kau malu dan tidak mau. Sudah bukan yang pertama bagiku, penolakan mu sudah menjadi hal Klasik di sore hariku. Tapi aku hanya mencobanya lagi, lagi, dan lagi. Mana tau keberuntungan berpihak padaku.

Menuruni anak tangga, menyusuri lorong kelas dan ucapkan sampai jumpa besok hari di akhir kelas sudah menjadi kebiasaanku. Ku rogoh ransel mini warna maroon kesukaan ku, mencari kunci motorku segera berangkat sebelum hujan deras turun, ya walaupun aku membawa mantel hujan, bukan berarti aku mau hujan-hujanan.

Tapi setelah penolakan ini, aku coba untuk tidak melakukannya lagi besok dan seterusnya, kau mengertikan maksudku?!. Ya..maksudku, aku berhenti untuk mengajakmu pulang bersamaku, dengan motor rongsokan ini. Mungkin esok hari kau sudah bisa pulang dengan tenang tanpa menjumpai curut bodoh sepertiku lagi yang berteduh dibawah pohon kelapa yang menakuti mu  bak hantu di Film Conjuring yang bersembunyi dibalik lemari.

Aku pakai langsung setelan mantel hujanku, walaupun hujan masih rintik-rintik. Jauh aku di perjalanan hujan semakin deras menghalangi jarak pandangku. untuk berhati-hati bawa motorku dengan lambat. tak lama dari itu tarikan gas motorku tak berdaya, ku pasang lampu sen kepinggiran bibir jalan, oh tidak motorku ini.

Untuk yang pertama kali, memang aneh rasanya ketika harus pergi begitu saja tampa harus mampir, memohon kepadamu untuk pulang denganku, walaupun ku tau kau pasti akan menolakku. Ini  karena aku sudah terbiasa, terbiasa menjadi laki-laki bodoh dengan hal biasa yang aku kira akan jadi hal  luar biasa, dan terus bersikap biasa-biasa saja.

Di tengah derasnya hujan, perempuan sepertiku hanya bisa menekan tombol stater sambil menarik pedal gas, mengayuh gagang engkol berkali-kali, hanya membuat betisku bengkak, tapi tetap  saja motorku tidak menunjukan tanda kehidupan. Dan  hujan tidak toleransi, dia tetap turun seperti adanya. Namun  upaya untuk motorku hidup tetapku lakukan, sampai saat ini tidak menunjukan kemajuan.

baiklah aku coba menguatkan diri, dan mencoba melupakan hal ini, mulai mengganti rute perjalanan pulangku. Dengan diriku yang apa adanya ini, yang tidak ada apa-apanya di matamu bisa apa?! ok fix.

Namun apa daya semangatku sudah beku diterpa dinginnya air hujan, aku lelah...
Huft... aku hela nafasku dalam-dalam , memperbaiki niat dan mengumpulkan sisa tenaga yang ada, itu telah dibantai Matakuliah. Dengan percaya diri dan yakin aku kembali mengulang menekan tombol stater, menarik pedal gas, sambil meng-engkolnya berkali-kali, Brum...Brum.. motorku hidup, aku kegiranga luar biasa, usahaku tidak sia-sia. " Pantanglah menyerah Ferguso, hidup kadang tak sesulit itu" tambatku dalam hati. saat yang bersamaan itu langsung aku menarik gas, segera mungkin untuk sampai kerumah dan langsung menghangatkan tubuh ini. Ternyata itu semua hanya khayalan fiktifku. Saatku tau asap tebal menggumpal dari knalpot motorku, sambil mengeluarkan suara, seperti batuk berdahak, tapi kesulitan untuk dikeluarkan, tersangkut  di pangkal kerongkongan yang bingung memilih antara mau dimuntahkan atau tetap ditelan. "Dasar motor butut" makian sadis untuk benda yang sudah 3 setengah tahun mengantarkanku kesana-kemari.

Dengan lambat aku membawa motorku, menikmati hujan yang melengkapi bunyian telingaku dari kehampaan, maksudku; yang membasahi rambut ikal ku, luruh; maksudku hatiku luruh, bukan rambutku. luruhnya masih segar dan hangat. Bagiku tidak mudah menjalani rute perjalanan pulang yang baru, walaupun sebenarnya rute ini yang pintas. Tapi apalah daya aku bisa apa. Hujan semangkin deras, angin berhembus kuat dinginnya sampai menusuk tulangku yang ringkih. sambil sekali-kali telapak tanganku mengusap kacamataku yang berembun dikalap air.

Aku menyerah, aku dikalahkan oleh hujan aku hanya bisa berdiri sandaran dengan motorku yang mogok, menanti orang baik yang sudi membantuku melewati jalan ini, kemudian aku minta tolong untuk membawakan motorku berteduh di Bengkel dan aku, aku semangkin ragu apa masih ada orang yang belum pulang dari kampus, sedangkan awan makin gelap. dari kejauhan aku melihat ada orang yang menuju kemari, saat aku perhatikan akhirnya dia berbelok arah dan tidak jadi melewati jalan ini. dan tetaplah aku sendiri ditemani suara kodok di danau, menantang suara hujan yang bergemuruh deras . Hampir putus asa aku relakan mendorong motorku seorang diri.

aku kesulitan melihat dengan baik, jalanan kurang penerangan,  air hujan tepat jatuh di kaca mata ku, aku sibuk memperbaiki penglihatanku sedari tadi, aku melihat wanita, melambaikan tangannya kepadaku sambil loncat-loncat dan berteriak tapi suaranya buyar ditelan Hujan, aku tidak mengacuhkan nya aku pikir dia anak kecil yang kegirangan lagi main hujan, aku lewat saja tanpa mempedulikan nya, aku lurus dan mulai menjauh tapi dari kaca spionku dia menunjuk kearahku seakan memberi isyarat untuk kembali lagi, sudah lumayan jauh aku dari wanita itu, wanita yang berdiri tadi semngkin kecil dan kecil, akhirnya hilang dari pandanganku.

Ku rasa dia orang yang terakhir lewat, memang sudah nasibku harus kehujanan, dan mendorong sendirian motor ini. benar-benar kenikmatan yang HQQ. Mimpi apa aku tadi malam ya. hari yang panjang lelah tak terbayangkan

Kok sepertinya aku keberatan untuk lurus terus, meskipun logis aku sudah kedinginan tapi hati nuraniku menyeret-nyeretku untuk putar kembali melihat wanita tadi. Gas nge-rem, gas nge-rem keraguan datang, tiba datang rasa iba, "Seandainya kamu melambaikan tangan tapi kamu tidak di terge bagaimana rasa?!" seperti itulah kira-kira dan tidak ada bedanya dari hal bodoh yang ku lakukan setiap sore. "kenapa aku menolak untuk membantu orang yang memang butuh bantuan ku" dan " kenapa aku selalu menawarkan bantuanku untuk orang yang selalu menolak bantuan ku" gulat didalam hatiku. langsung aku putarkan stang motorku, berbalik arah dan kembali.

Sampailah dengan wanita tadi, kulihat kepalanya merunduk, menuntun berat motornya, sampai akhirnya aku sapa dirinya, " dek ayok saya bantu", dia berhenti lalu  menegakkan tulang belakangnya yang sedari tadi membungkuk dengan tenaga seadanya. kemudian memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri sampai mengeluarkan suara Krepek, meregangkan pergelangan  tangannya, sambil mengaitkan jemarinya dan menekuk satu per satu jari-jarinya, ku sadar dia melakukan  pemanasan. aku menahan tawa dan nyaris terserit bibirku menampakan barisan gigi, geli dengan bocah ini.

"Ayok" terangku kepada laki-laki yang datang membantuku, langsung aku menaiki motorku dan dia mendorongnya dari belakang, disepanjang perjalanan kami tak bisa banyak bicara, karena hujannya terlalu deras. aku hanya bisa melihatnya dari kaca spion ku, kulihat dia menggigil kedinginan tapi aku tidak  iba melihatnya, karena hal yang sama juga terjadi dengan ku, aku juga menggigil kedinginan mantel tak begitu berarti bagi bocah yang motornya berjam-jam mogok di pinggir jalan, "Sialan" umpatku. Sudah lama diperjalanan, sampailah kami di bengkel, sampai disana laki-laki itu terus menggesekan kedua telapak tangan dan meringkuk badannya di sudut bengkel sambil sesekali menggosok kedua bahu lalu menyelipkan jemarinya diantara ketiaknya mencari kehangatan, aku hanya memperhatikan laki-laki itu, sambil melipat mentelku yang basah. Dan berpikir sepertinya dia tipe orang yang penuh kepolosan. Dia melihatku, aku alihkan pandangan ku dan pergi.

Sampai di bengkel aku terus menerus mencoba menghangatkan tubuhku, dingin yang menggigilkan. Rasanya kalau saja aku sudah sampai dari tadi, betapa nikmatnya membentangkan badan ringkih ini di kasur kapuk dan hujan menggiringku ke mimpi yang indah, bukan malah membasahi badan ku. Aku duduk di sudutan bengkel dan terus menerus mencoba menghangatkan tubuh. Aku mencari pemandangan dan melihat bocah tadi terus melihatku, langsung memalingkan pandangannya dan berlalu. 


Aku datang membawa dua cangkir kopi, satu untuk ku dan satu untuk laki-laki yang telah membantuku, laki-laki itu langsung menggapai cangkir itu dan perlahan-lahan menghabiskan kopi. melihat laki-laki itu minum kopi begitu nikmatnya, aku sampai lupa untuk menikmati kopi yang ada di genggaman ku.


"Kenapa kamu dik" ku tegur bocah itu yang dari tadi memperhatikan ku, dia langsung tertegun dan memalingkan wajah nya. Sesekali  menganguk kecil dan memberi senyum ramah pada  ku. Ku tanyai dirinya "Kenapa gak diminum kopinya, dik?! kamu gak mau sini tuang aja di cangkir ku, biar tak abisi" pintaku kepadanya.

"Dia langsung menuangkan secangkir kopinya penuh ke cangkir milik ku, dan kembali mengangguk kecil dan tidak ketinggalan senyum ramah itu", sampai saat ini dia pun tidak mengeluarkan suaranya. Dan aku berkata sedikit "Ingat dik kopi itu di seruput bukan dipilosopi in, kesuwen selak kopi ne adem" Tapi itu tidak penting. ku tanya lagi bocah perempuan itu "kamu gak suka kopi, kok malah beli kopi?!" 

Aku beli kopi karena pingin minum kopi, sesekali meniup Uap panas yang membawa aroma khas Sidikalang dan rasanya sedikit lebih pahit dari kopi biasanya. Aku terhenti, kembali melihat laki-laki itu yang sedikit lebih tenang dari pertama berteduh. Dia menatapku, dan menyodorkan sebuah pertanyaan tapi nadanya lebih percis seperti pemalakan, bukan harta apalagi tahta, hanya saja secangkir kopi pahit. Aku terima palakan nya dan menuangkan kopi ini ke cangkirnya.


laki-laki itu terus menghujani ku dengan pertanyaan, dan aku menjawab spontan " Hidup saya sudah terlalu pahit Mas, dari secangkir kopi" aku menyeka hidungku,  sambil mengayuh ke depan dan  ke belakang kedua kaki ku di kursi bengkel dan menenggelamkan kepala ku malu, sambil myeritkan alisku. 


Bocah itu menjawab pertanyaan ku spontan, dan gaya bicaranya yang tak biasa sangat mengocok perut. Aku langsung tertawa lepas bahkan dingin pun segan untuk menyapa, suara tertawa pecah dari kedua mulut kami. Tawaan kami berdua mengisi kebisingan air hujan yang menjatuhi seng-seng di bengkel. ternyata bocah satu ini orangnya receh, aku kira dia diem-diem bae.


Kami tertawa bersama, cukup kuat untuk melawan suara hujan, dan aku mulai menikmati waktu dan berkata " Terimakasih mas, sudah mau bantuin saya ke bengkel dan maaf sudah direpotkan" ucapku. Tapi dia masih saja tertawa kalau melihat wajahku. dan sampai saat ini masih tetap tertawa.


aku tidak bisa berhenti tertawa kalau terbayang wajah bocah tadi berkata serasa Nelangsa sekali hidupnya, dia tidak tau padahal yang menertawainya, hidupnya juga rada Nelangsa. dan aku berhenti sambil kembali menyeruput Kopi yang hampir kandas bersama ampasnya. " Yowes dik, gak usah di pikirin yang penting gak sepahit secangkir kopi" ucapku dan kembali mengoloknya.


"Mas yang ini saya serius loh mau bilang Terimakasih sudah membantu dan maaf sudah direpotkan" tegasku, tapi laki-laki itu tidak mendengarkan kata-kata ku dan melanjutkan tawanya. Dan aku cuma bisa cengingisan.


"Ingat Dik mulai kopi ini habis, sekarang sama saya Never Say Thanks  and No Sorry kita sekarang jadi konco, cela ku dari penegasannya itu. Dia tertawa dan kami berdua kembali tertawa. 


Aku tertawa parah, baru kali ini ada laki-laki membuat labelisasi  Koncoan sama perempuan, sangat langka. Ok Fix jadi teman.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer