Envilate

Mezora
Betapa tidak sedapnya topik pagi hari digonyor bibir-bibir serdadu, bumbu-bumbu penyedap hasil dari spionase lalu diicip-icip satu per satu jadilah sarapan besar istimewa untuk seluruh warga kompleks perumahan. Tak ada yang lebih cekatan daripada tupai yang melompat di antara pohon-pohon natal, ataupun jaguar yang membidik mangsa di sabana kecuali kabar rumah tangga. 

Dewasa ini, walaupun terhitung muda sudah ku mantapkan langkahku untuk kebijakan seumur hidup sekali ini, menjabani bahtera rumah hidup bersama. Tak jarang jalannya pun tak selalu mulus tidak seperti yang ditawarkan pada serial film India. Tapi itu biasalah, ego kami terlalu dominan pada beberapa hal krusial bagi pribadi, masih suka lupa diri kalau sekarang hidup bukan melajang lagi.

Tapi itu yang aku suka padanya dulu, dia begitu menghargai nilai yang selalu aku idamkan, tanpa mengintervensinya sedikitpun. Dan aku juga melakukan hal demikian padanya. Namun sekarang jalan terbentang di tengah, bagaimana kami melaluinya, maka kedua ego lah yang menjadi titian itu.

Soal tetangga, suka dibuat takjub dengan investigasinya, mengalahkan sherlock Holmes dan Dr. Watson, prediksinya menyaingi para cenayang alam gaib, persepsinya menandingi ahli komunikasi.

Entah mengapa malam, kebetulan saja komplek perumahan kami senyap seperti tidak ada kehidupan, jika saja bersebelahan dengan kuburan tak mengapa karena suasana menawarkan ketenangan bahkan jangkring, curut, cicak dan segala jenis hewan yang suka membuat kebisingan sekalipun segan untuk berdecit dan merayap.

Namun keheningan itu pecah saat padatan kaca menjadi bulir-bulir beling di atas ubin mengkilap, sangking kilapnya memantulkan wajahnya "lakiku".

Kulihat di pantulan itu, mukanya berderai air mata dari sumber yang dalam tapi tak bersuara, lirih berestafet sampai ke hatiku. Hingga kutatap matanya,  baru kusadari dia mentangisiku. Setiap air yang dirintikan kelenjar matanya adalah dosa tentu saja bukan dosaku, pekatku.

"Sampai mana pembahasan kita tentang kehidupan, kapan terakhir kali hati kita saling menyapa?".

"Sepertinya kita butuh waktu esok hari untuk menghabiskan hari bersama, ayolah pergi bersamaku mengitari taman-taman bunga matahari, atau mendayung di atas condola, di parit-parit bening yang berarus tenang layaknya ciri khas Jerman yang dipilin Jembatan melintang, bersediakah?! dibukanya pembicaraan.

Aku sibuk memungut pecahan kaca, menjauh dari dekatnya, kabur dari arus pembicaraan, bagiku semua yang digambarkan rasanya hambar dan buyar. Decitan kursi kayu jati, adalah isyarat bahwa aku sudah tidak betah berlama-lama menyoal pembicaraan ini, pengalihan pu ku lakukan, saat itu jua ku sibukkan diri mencari selotip untuk memastikan tak ada serpihan beling yang tertinggal, karena kelak seandainya tak dibersihkan ia tetap membuat luka, walaupun tak dalam namun cukup merisihkan.

Komentar

Postingan Populer