Pedagogi Represif

 Setelah melewati jalan setapak ini terdistraksi aku mungkinkah seperti ini gambaran kecil sirathal mustaqim, atau seyakin inikah sosok Padmavati membuktikan kesetiaannya dan cintanya menyusun langkah ke dalam kubangan api menjilam atau membakar diri seperti Dewi Parwati atas angkara murka sebagai pengorbanan karena kesombongan ayahnya pada dewa Siwa. 

 Kali ini benar, bahwasanya aku sadar atas realitas kehidupan, dari refleksi pedagogi yang represif aku biasa menyenangi sesuatu karena tekanan - tekanan membuatku know to understood something, and why so how to! Just showing us a amusing theater, baby. It so fucking seriously.  

Kenapa masih ada perkembangan populasi tungau, hingga saat ini sudah masuk revolusi Industri 4.0?! Tapi bukan itu yang ingin ku ungkapankan.

Kusampaikan; kunci sudah kubawa kemana saja pergi, permukaannya tak lagi mulus, peraknya terkelupas karena digesek-esek pada labirin-labirin gembok. Di setiap sudutnya tumpul tak kuat menggigit pengait - pengaitnya. 
Kunci sudah kugandakan 100 kali lipat jumlahnya sebagai piranti kemawasan, kali saja kunci pertama patah atau bengkok. 

Bukan aku jika tak menulis "aku baru sadar," ternyata gembokmu. Sudah lama tak pernah ditarik, kini dalamnya pengait melekat padat dengan badan gemboknya. 



Upayaku disebut percuma, jika aku membalur minyak kelapa untuk meluruhkan padatnya lekungan besi, dan membiarkan warna kuning karat luntur dari permukaannya dan bau karat yang amis kuimbui, karena memang pada dasarnya hatimu sulit untuk dimasuki, bahkan dengan anak kunci ajaib sekalipun

Komentar

Postingan Populer