Hidup Ini Bundir
Kegelisahan saya sedikit demi sedikit mulai terkuras, tenaga saya memang belum seberapa dalam sumbangsih kegilaan ini. Tapi cukup melelahkan beberapa saat ketika mentraking tanjakan-tanjakan perjalanan ini. Saya pernah bilang, bahwa saya sering tidak adil membagi suatu porsi di kehidupan. Ketika sampai di puncak di mana saya menyadari kelalaian-kelaian, dan kesempatan-kesempatan yang pupus begitu saja-saja, lalu muncullah di hati dan pikiran saya kembali, "betapa bencinya Aku kepada diri. Skut Bundir. Tapi itu juga terlalu mengerikan untuk dilakukan, apalagi ketika eksekusi mendahului takdir itu tak berjalan mulus, pasti di menit-menit sebelumnya, masih ada kesempatan untuk menyesali keputusanmu buat Bundir. So jangan bundir ya.
Saya pernah bercerita soal Bunddi post blog saya sebelumnya, di lingkaran pertemanan, terpaan media sosial, kerap menjadi pelumas pilihan mendahului takdir itu, apalagi seorang teman yang "mungkin" sudah benar-benar berasa di fase membutuhkan tenaga ahli untuk membantu kecemasan yang itu, selalu menuangkan kekesalannya di Media Sosial, lah saya pun selalu terdorong ingin tahu apa yang di post oleh kawan tersebut, walupun saya sudah menerka apa isi postingan itu. Jujur itu buat metal breakdown tapi juga mencandukan. Rasanya saya juga tidak sendirian di dunia ini, tapi saya kadang sadar, keluh-keluh saya tidak akan merubah apapun bahkan setitik cerita ke depannya.
Permasalah yang silih berganti, ribut dan runyam sesuka kehendak ia ingin timbul kepermukaan, dan bagi setiap individu yang tidak siap akan kejutan-kejutan itu, ada yang memilih Fight or Hand Over. Tergantung si Individu, let them chosen their own way. If just that we can do, to do. give their support when their wanna you give some advice, and just keep your mouth event their just wanna your heard what was they said about.

Komentar
Posting Komentar