Persona Terlalu Utopis
Satu Bulan berlalu, Purnama sudah setengah tak ubah bentuknya hanya warnanya yang kini agak menjorok ke dalam, menjadi Sabit. Seribu purnama tak satu pun ada yang ku rindukan. Rasanya, jikalau mengingat beberapa pertanyaan-pertanyaanku yang sok patriotik dan sok anti-diskriminatif itu, kok aku kesal sendiri. Ceritanya, satu tahun lalu seorang kakak tingkat sedang sibuk kegiatan pengabdian masyarakat. Setiap cerita pengabdiannya, ia tak pernah lupa membaginya di panel daring, dan tentu saja aku membacanya.
Pada semua cerita yang dia bagikan, aku menyimpulkan bahwa pengabdiannya di Masyarakat terlalu dominan untuk masyarakat agama mayoritas, semua itu tentu terlihat dari jenis kegiatan yang dia dan teman-temannya buat, tempat pelaksanaan kegiatan itu berlangsung. Tentu saja itu merusak euphoriaku, yang baru saja selesai mengikuti Pelatihan Jurnalisme Keberagaman. Dengan sok Okenya aku bertanya "Kok kegiatannya Bla.. bla..., Jadi yang non-muslimnya gimana?" tanyaku, dia jawab "Di sini kami gak ada non-Muslim" Sebelum menyela "Masa" kataku, dia membalas "Maksudnya lingkungannya jauh dari Non-Muslim" tambahnya. Dan Aku sepanjang itu dua harakat berkata "Oohh". Sungguh menyenangkan berbalas pesan dengan topik seperti itu, padahal aku berusaha terlihat pintar padahal terlihat begitu bodoh, dan silahkan isi sendiri. Aku berbohong atas nama Persona. Akhirnya percakapan itu berakhir dengan " AWOKWKWK".
Aku masih ingat betul bagaimana isi pesannya, sayangnya sudah Aku hapus dari draf pesan masuk.
Datanglah Bulan Sabit, giliran Aku yang merasakan bagaimana menjalani masa Pengabdian. Aku bingung dengan program kerja pengabdian kami, ta tahu sendiri Covid-19 datang tanpa permisi. Aku merasakan mengabdi di Masyarakat yang majemuk budaya, agamanya.
Aku terasa tertampar berkali-kali jika mengingat drama sok anti-diskriminatifku itu, sialan aku rupanya gak jauh beda dengan dia. Aku punya program belajar bahasa Inggris, aku kumpulkan seluruh anak-anak yang sekolah, ternyata yang lebih punya Privilege buat ikuti kelas Bahasa Inggriaku ya Anak-anak mengaji di Masjid, aku gagal menggaet Anak-anak non Muslim yang sama bertanya buat tahu informasi ini. Jujur, sebenarnya aku takut sekali dapat penolakan dari kelompok yang berbeda, atau apalah motifnya, aku kurang berani. Maknyabkusebut aku gagal!! Kalau dipikir-pikir, setidaknya hari itu aku berusaha dulu baru mengalah. Ini tidak.

Komentar
Posting Komentar