Yang Merah Kesumba Keling

 

Orang suka lupa bagaimana menutup toples krupuk yang benar. Tahunya makan dan menghabiskan, menggorengnya pakai api besar sampai minyak kelapanya muai. Syukur-syukur pakai minyak kelapa, kalau pakai pertamax apa ya tidak nyambar menjilam-jilam.

Tapi kata temanku, kadang menjadi orang bodo itu ada enaknya, merasa hidup lebih mudah dan tidak pusing cuma harus kuat dengar cacian dan kejulidan yang luar bias. Ia katakan malas dengan kenormalan yang dituntut.

Dia cerita, selama berbulan-bulan tidak keluar rumah, bukan karna tak ada teman atau terhalang kendaraan, tapi karna tak  ada uang. Plesetan yang keluar dari kepalanya kadang terdengar lebih berisi dari kebanyakan presentasinya di depan dosen. Sebelumnya, waktu aku mau menyambangi omah kosnya,  aku gak boleh datang karena  aku sering bawa setan. Jujur saja waktu itu aku gak ngerti apa maksdunya. Sampailah di rumah kosnya justru aku yang merasakan aura beda. Ceritanya dimulai  pas baru sampai depan rumahnya, baru satu langkah kakiku pijak lantai rumahnya yang tak berkeramik itu, tiba-tiba  aku langsung disemburnya pakai air kembang, tujuh rupa? Bukan, cuma tujuh daun satu rupa. Bukannya marah aku malah ketawa, aku bilang padanya  "kau gila ya HAHAHA". Sudah sampai situ saja lelucon gilanya, tak pernah ada lelucon berakhir dengan kata penutupan makanya hilang sudah semua lawakan di waktu yang sama. "Aku kira ada yang salah dengan temanku ini, kelakuannya makin hari makin aneh" pendamku dalam hati, tapi itu pun tak terlalu jauh untuk aku pikirkan, masih sedikit  kesal sama kelakuan bodonya, wong jelas aku gak bawa baju ganti, baju yang nempel di badanku teles jebes kena air kembang, lah temanku mangguk di atas kasur melanjutkan tontonannya.

Temanku, tinggal di kondo yang harganya miring pas  budget untuk anak kuliahan minim keuangan, tapi ya begitulah fasilitasnya agak mengerikan. Tapi ini satu hal yang layak dirayakan untuk seorang yatim anak pertama dari tiga saudara. Di sini pemandangannya lumayan asri, jauh dari keributan jalan, teduh karna pohon-pohon besar di ujung-ujung jalan sana, kalau dilihat lama-lama jadi tampak pagar rumah berjejer rapi. Satu hal ini masalahnya, kamar mandinya di luar jauuuh sekali. Waktu aku tanya sama temanku katanya  itu cuma perasaanku. Masih sibuk mengamati pemandangan di luar, dia teriak suruh cepat masuk ke rumah karena hari sudah gelap.

Baru sampai di depan pintu belakang rumah, dia timbul tiba-tiba di balik pintu sambil melempar sehelai baju kaosnya. “Koe mau aku siram pakai air kembang lagi? ngapain sih di luar udah gelap juga. ndeso banget lihat pohon gede” semburnya. “kalau iya, kenapa aku ndeso emng masalah buat kamu” ketusku. Semua pohon  yang tadi masih tenang sekarang daunnya saling bersalaman, angin perlahan-lahn berdesir di  kisi-kisi ruang kosong ini, tampaknya malam ini akan hujan. Debok pisang yang bergempetan daunnya berkeok-keok letik laiknya jemari  penari,  yang muda meringkuk hampir menyentuh tanah. Anginnya begitu kuat, kami berdua  masih berdiri di depan pintu mengamati semua yang terjadi di belakang rumah, hanyut tapi sadar sedang tidak di air, suasananya ribut tapi membesuk tenang. Lihatlah  Burung-burung Balam bersiul ke kawanan mencari tempat perlindungan.

“Hey, buruan ganti baju, di sini malamnya dingin nanti koe masuk angin, itu sekalian tutup pintunya. Aku gak mau daun-daun kering masuk ke dalam rumah”. Suaranya bergema di ruang kecil ini berpacu dengan keributan angin.  Sambil dengar celotehannya ku lakukan saja sesuai perintahnya, tak tak cukup diam, tentunya terus menjawab “yo ndak mungkin  masuk anjing tanpa penetrasi?!” ku jawab begitu. Mendengar jawabanku seperti itu, matanya langsung mendelik dan bibirnya mengernyit sinting. Tak panjang kata, dia langsung ambil sapu lantai yang ganggangnya kelat oleh daki, usang dan sabuknya hampir botak. Tak pakai aba-aba kepalaku hampir kena toyor sabuk aren, mau disapunya otakku karna ngeres katanya, kami tertawa sejadi-jadinya. 

Orang lain selain aku, sering berpikir bahwa temanku ini adalah orang yang tak banyak bicara, nyatanya dugaan mereka salah, temanku ini sering marah kalau lihat hal yang sesuai di hatinya. Tapi bisa ngomongnya cuma samaku, jatuhnya ngedumel sih. Memang laki-laki bangsat ini, kami kenal di kelas, fakultas yang sama, kami masuk kuliah di tahun yang sama, cuma lelaki  ini kesayangan dosen makanya lulusnya lama, hahaha. Bukan, bukan seperti itu  ceritanya. Tapi aku sering begitu meledeknya, saat berbicara soal kuliah. 

Satu tahun aku sudah lulus dan bekerja di perusahaan start up, jangan bicara soal gaji, cuma cukup untuk bayar rumah dan makan sepekan, masih sering pusing soal isi minyak untuk mangkat kerja kadang aku mesti rela gak makan pagi supaya bisa isi bensin, gak pernah mau kalau diajak nongkrong makan Kaefci yang gak jauh dari tempatku kerja. Kalau andaikan aku masih nurutin gengsi mungkin aku hari ini sudah gantung diri, rancana itu beberapakali pernah masuk nominasi dalam resolusiku. Aku tahu itu berbuatan sia-sia dan masih banyak perbuatan sia-sia yang bisa aku lakukan daripada yang satu itu, salah satunya datang ke rumahnya Si Bangsat ini.

"Bagaimana kabarnya si Minah? apakah dia sehat ?!" tanyaku tak sumbar 

"Ya tentu saja dia sehat, dia di sana hidup bersama ibu, dan tentu saja dapat pelayanan prima dari orang rumah, tak pernah sedikit pun terbesit di hatiku untuk merisaukannya, bahkan untuk risau dengan hidupku sendiri, tak sedikit pun". tuturnya sambil beberapa kali membalikkan gelas seng yang ada di tangannya.

Tentu itu sebuah jawaban yang membuatku makin ingin tahu penyebabnya itu.

"Bagaimana bisa kau punya pemikiran seperti itu" tanyaku ingin tahu. 

Dia menegak sedikit air yang ada di cangkir sengnya selepas disi dari sebuah ceret aluminium kuning bergambar unta dan beberapa siluet Pohon Kurma.

Tak berbicara dan pandangannya kosong, lalu timbulah jawaban setelah ia berdiir melihat pohon-pohon besar. "Ya karna aku tak pernah punya ekspektasi apapun di dunia ini" katanya yakin. 

"Kenapa bisa begitu, kau hidup jadi apa tujuanmu!?" tanyaku mendesakknya. 

"Tidak ada". 

"Ayolah, bukan berarti pasal kuliahmu yang tak kelar, lalu kau tak ada ekspektasi lagi di hidup ini" jongosku

"Jangan terlalu banyak bicara, kau pun tak pernahkan ada ekpektasi untuk bisa bertemu denganku". mendengar itu aku tertegun.

"Jangan ngadi-ngadi, ini aku baru ada kesempatan untuk bertemu denganmu. Oh apa ini berati kamu gak senang aku datang kemari".

Dia diam, diam dalam waktu yang lama. Aku juga demikian diam, merasa sudah tak enak hati aku jadi ingin segera pulang. "Aku kan bergegas pergi, tapi aku ambil dulu bajuku yang basah di kamarmu" kataku padanya, tapi juga Ia tak menyahut ucapanku.

Saat masuk ke dalam kamarnya bersebelahan langsung dengan ruang belakang berbatas dinding gedek bambu, dapat jelas aku dengar rintihan seorang laki-laki penuh penyesalan, penuh dendam, tak berdaya. Walaupun tak langsung ku lihat bagaimana raut wajahnya, dari suaranya terbayang di otakku bagaiman a kesedihan yang dia rasakan. Ingin rasanya aku membagi sedikit peluk semangat untuknya, tapi aku kira ini bukanlah waktu yang tepat untuk membawanya beranjak dari kesedihan, ku rasa ia masih butuh waktu sendiri. Diam-diam aku lekatkan daun telingaku di balik dinding itu, merangkap kesedihannya yang begitu dalam, seakan-akan aku turut terlibat di dalam kisah yang ia sedihkan itu, membelakangi dinding, ku kepalkan kedua tanganku memohon agar ai berhenti menangis karna itu sangat menyiksaku.

Ku ulur sudah waktu ketika hendak angkat kaki dari omah kosnya lelaki bangsat ini, ia menangis tak kunjung mereda, ku rasa kini saatnya aku menemaninya separuh kesedihannya. Aku sempat bingung bagaimana muncul dihadapannya saat-saat seperti ini, apakah aku harus berdiri tegak cukup menundukkan wajah dan perlu menjulurkan tangan supaya ia bangkit? atau harus ku lakukan jongkok dan mendekat, menepuk bahunya, yakini bahwa semua badai akan berlalu, apa aku langsung saja memeluknya dengan hangat bahwa tak ada lagi dingin dan tak perlu juga suasana panas seperti keributan terjadi antara kami tadi.

Aku berdiri di sini sudah bermenit berlalu, masih tak lakukan apa-apa. Jangkrik yang di sudut rumah menghitung setiap detik waktu yang ku habiskan dengan suaranya yang nyarng, bahkan cicak pun enggan mengganggu. Hembusan angin kian menambah dingin, terdengar pula decit engsel pintu yang karat, nampak pintu itu lapuk habis dimakan rayap sesekali debu yang dihasilkannya terserak di lantai tanpa keramik ini.

"Hai" kataku.

"Sudahlah jangan menangis lagi, aku merasa sedih dengan suaramu itu, aku memang begini orangnya terlalu banyak bicara, tapi kau juga demikian, ya walau hanya denganku saja"".

Bagai kilat akibat awan yang bergesek, sesingkat itu ia menggapaiku lalu memelukku dengan kuatnya menangis makin menjadi-jadi, tak ada yang bisa ku perbuat selain membalas pelukannya itu. Kudapati jantungnya memang berdetak dengan sedemikian kuatnya, seperti baru menghdapai tragedi mengerikan, kedua tangannya gemetar, bahuku basah kena tetesan air matanya yang sangat deras bagai hujan di akhir tahun dari berkat doa-doa permohonan dari hamba kepada Zeus yang marah.

 "Kenapa semua kesulitan ini datang kepadaku, apakah tidak cukup menjadi yatim sejak dulu, aku begitu menderita dari kecil, ibuku kerap mendapat cerita miring di kampung sana hanya karna jadi seorang Janda. Siapa  yang pernah meminta menjalani kesulitan seorang diri di bumi yang kejam ini, walaupun ibuku hanya sebagai kuli di ladang palawija bukan berarti orang bisa mengukur harga dirinya seberat karung-karung bibit itu, dengan ringannya mereka menciptakan fitnah menjijikkan atas ibuku, seperti menebar benih di kolam ikan di setiap sudut-sudut ladang sawah mereka. Memang jahannam!. Apa salahnya menjadi Janda dengan tiga orang anak yang menyusahakan, mengapa mereka ribut dengan masalah-masalah yang kami hadapi?!"

Dan kau, mengapa bertanya soal Minah?! Kenapa? apa pedulimu? Bukankah dulu kau juga menjadi bagian orang kampungku yang suka mengejek kondisi adikku?

Dengkulku tiba-tiba lusuh, kopong, terasa tak bertulang. Mendengar pernyataan yang menghujam itu rasanya kakiku sudah tak di atas tanah lagi, tapi aku berusaha sekuat itu untuk tegap berdiri bahkan masih dalam pelukan yang menyesakkan dada.

Lelaki banagsat ini berhenti dari makiannya, dan berhenti memaki dan emosinya berubah begitu saja tapi masih tetap menangis. Jelas di samping telingaku ia menangis seperti Musang yang kelaparan. Di sanalah aku kembali mencela.

Hai kau kali-laki bangsat, keluarkan segala kesesalanmu yang selama ini ingin kau ungkapkkan, coba ceritakanlah akan ku dengarkan. Biar dunia tahu bahwa tak ada seorangpun manusia mau mendengar cerita mengedihkan dari mulutmu yang diam, mana keberanianamu yang kau simpan-simpan itu hingga menjadi busuk di dalam hati, mengapa kau tak berani melawannya?! kini kau pasrah dan menghakimi diri sendiri, biar kau tahu ya tidak ada anak meminta untuk menjadi yatim atau  miskin.

Kau masih marah pada dirimu dan kau belum memaafkan dirimu sendiri, bagaimana kau akan memaafkan diriku yang sudah pasti membesit benci di hatimu, lagi pula dulu aku masih kanak-kanak yang suka mengejek, maka maafkanlah aku atas diriku dulu. Apakah waktu tidak cukup menguji kesabaran dan kelapangan hati? aku pun tak pernah mau terlibat dalam kegilaan yang terjadi pada keluarga kita.

Kini akulah yang menangis perih, ternyata kesedihanku berhari-hari tidak makan dan kesulitanku setiap hendak pergi kerja atau masalah rumah belum cukup hebat menandingi kesedihan cerita masa lalu.

Air mata hari ini lebih perih dari air asam yang dibalur di kulit telanjang disayat pisau, tangis yang terkuat yang pernah ku ciptakan pasca kejadian masa lalu kehilangan ibuku, kekesalanku pun pecah bersama sekuel maslah sehari-hari yang kuhadapi. Setelahnya pun kami pun mereda, aku sadar air mata darah pun hingga bola mata keluar dari lingkarnya, tak dapat mengubah cerita yang telah terjadi. Permohonanan pun terusku ucapkan untuk meembus kejadian-kejadian memilukan dulu.

 Aku tahu ini pasti sulit untuk kita lupakan, kejadiannya menyisakan trauma mendalam. Kau harus paham kondisi kita dahulu otak lagi segar-segarnya kemudian disuap oleh tragedi yang mengerikan dan itu terus bercokol dibenak dan kenangan. Berhentilah mengasihan diri sendiri, bukan salah kita menjadi bagian cerita ini. Mulai sekarang maafkan dirimu, kau waktu dulu hanyalah lelaki kecil ingusan dan masih kerap salah bagaimana memasang durung ikan di pesawahan. Tak akan ada yang mau mendengar ceritamu, begitu juga aku. Tak ada juga pembelaan untuk kejadian dahulu, mereka kadung mengamuk dan kita selamat ya walaupun menderita pasca itu.

kondisi pun mulai sedikit tenang, tangisan tak lagi mejadi riak-riak seperti yang disisakan langkah  Anggang-anggang air.

"Kau mau tahu, bagaiman kondisi Minah?" jelasnya.

"Dia sudah meninggalkan kita semua dalam kondisi yang mengenaskan. Ada  cerita sebelum itu, ibu  cerita setiap hari dia meringkukan lehernya melihat-lihat ke arah selangkangannya, tapi ibu masih enggan bertanya apa yang dilakukan Minah selama berbulan-bulan itu. Setiap gerak-geriknya diperhatikan ibu, setiap ditanya Minah hanya diam, ia pun beberapa bulan itu lebih sering melamun dengan tatapan kosong. Aku tahu bagaimana adikku itu, walaupun orang sering mengukur bagaimana cerahnyanya harinya, tak pernah ia kelam dalam raut wajah yang menyedihkan seperti yang diceritakan ibu.

Ibu bercerita juga padaku tanpa ada rasa canggung sedikitpun walaupun aku seorang abang dan lelaki , dia becerita setiap hari Minah pasti mau disuruh mandi bersama ibu dan diajar bagaiman membersihkan kemaluannya, entah kenapa akhir-akhir itu Minah tidak mau dan itu terjadi berbulan-bulan. Ibu tak memaksa Minah melakukan hal yang menjadi bagian privasi adik perempuanku, walaupun Ibu sadar kelebatan bulu-bulu kemaluan itu  akan mengganggu.

Penuh kesadaran walaupun sering dijengkal kepiawaiannya, ibuku seorang janda, tak pernah kabut mengajarkan anaknya soal menjaga diri dan itu sebuah kepekaan ibuku memiliki anak psikososial seperti Minah. Memang Tuhan adil, kata orang, Si Minah, adikku sayang yang sering dibilang gila itu masih diberkati dengan kecantikan yang diturunkan Laki-laki sialan. Kau pasti paham siapa Laki-laki sialan itu karna kau pasti tahu soal itu. 

"Untunglah Si Minah ini cantik walaupun gila haha" begitu sering ku dengar ibu bercerita bagaimana yang tua sampai muda dari lelaki dan wanita, aki-aki bau tanah dan bocah kencur meledek adikku yang polos itu. Tentu stunami pujian dan cemooh seperti itu memberi sinyal kekhawatir buat ibuku, sejak semakin ranum adikku Minah, ibu mengajarinya untuk tidak pergi seorang diri, mulai berpakaian tertutup pikir ibu demi keamanan anaknya walaupun ia tahu itu agak mengganggu gerak anaknya yang  aktif. Minah pun tak pernah keberatan apa yang selalu ibu perintahkan atasnya, karna baginya Minah di diri ibuku ada dua orang tua yang tidak boleh dilawan. 

Ya memang Minah anak yang baik dan polos, bahkan orang masih mengolok-ngolok di samping telinganya ia masih sanggup senyum sumriah, harusnya aku mencontoh satu hal itu dalam hidupku. 

Sebelum bulan-bulan  merenungnya tiba, ia rajin memetik buah Kesumba Keling yang di tanam ibu di halaman belakang, biasanya dipakai buat mewarnai cendil untuk dijual ke pasar. Ibu perhatikan Minah mengutik satu buah di bawanya ke kamar, dibelahnya kulit buah Kesumba Keling itu, diambil biji-biji kecil yang tampak merah-merah dengan telaten, lantas dibalurnya bibirnya pengganti gincu yang tak pula ia pernah bisa beli di pasar. Tersenyumlah ia sumriah sama seperti saat orang bercerita tentang dirinya,  fase ini hal yang lumrah dialami setiap orang. Ibu yang sedari tadi menguntit, masih tak beranjak jua, ia bahagia melihat anak gadisnya tumbuh dewasa, tapi kerap timbul kekhawatiran membanjiri lubuk hati ibuku. 

Berhari-hari buah Keling Kesumba itu mewarnai bibirnya, sudah seperti emas tembaga yang dibanggakan orang-orang kaya dan ibuku tak pernah melarang buah itu dipakai adikku Minah, sekalipun stok warna untuk cendil akan berkurang, asal itu tak akan mengurangi kebahagian adikku, kata ibu. Melihat apa yang dibuat oleh adikku, makin ramilah pujian dan sanjungan walaupun masih diembel-embelin kata gila "Wah, si Minah gilanya makin-makin" kata ibu warung tempat ibuku menitip cendilnya. Di sepanjang perjalanan berbagai siulan menghujani mereka "Fuihh, ibunya janda anaknya boleh juga" kata lelaki yang hipoten otaknya. Sungguh sepanjangan perjalanan itu menimbulkan ketakutan bagi ibuku, bisa ia bayangkan bagaiamana jadinya kalau Minah berjalan sendirian dan ia pastikan itu tak akan dibiarkannya.

Hinggalah suatu masa tak tahu mengapa ia tak lagi melanjutkan warna-warna di bibirnya, tak lagi terlihat senyum sumriah di sana. Menghabiskan bulan-bulan terakhir dengan  melamun, tatapannya kosong  dan tampak dalam tak lagi banyak bicara dan tak lagi banyak menghabiskan waktu keluar rumah. Sehari-hari ia hanya duduk di depan kaca, di mana tempat biasa dia membanggakan dirinya sendiri, diam dan kadang meringkuk memandangi selangkangannya. 

Diamnya menyulut rasa khawatir ibuku, ditanya dihadapnnya, Minah hanya diam tak berkutip memandangi wajah ibu, itu pun tergambar di matanya Minah sumur yang dalam dan gelap. Tak sanggup ditatapi ibu, direkatkannya kuat-kuat matanya menghalau tatapan yang dibawa ibu padanya. 

berbulan-bulan pula baru tahu ibu apa maksudnya tak Minah tak cukur bulu kemaluannya, setiap kali termenung itu, disitulah  ia menjalin semua bulu kemaluannya  lantas menutup Vulvanya. Masih belum habis pikir, apa maksud Minah melakukan hal itu, sering orang bilang Minah gila, tapi baru kali ini ibu membetulkan pembuatan gila Minah, dengan tegarnya ibu berusaha terlihat baik-baik saja, ibu tanya ke Minah mengapa lakukan hal yang sedemikian rupa, apakah sudah kelu bibir Minah bercerita dengan ibu?. Bagi Ibuku, tak pernah ada seorang ibu di dunia ini  menutup telinga mendengar cerita anaknya. masih dalam usaha yang tegar ibu melanjutkan, itu adalah hak mu atas atas tubuhmu, tapi sebagai ibu, ada hal yang perlu kukhawatirkan nakku. Bagaimana kamu memulai semua ini?

 

Prolog Minah 

Sore itu setelah menemani ibu ke pasar menjemput uang hasil jualan Cendil, Minah pergi kembali ke pasar membeli sebuah jepit rambut yang sudah lama diincarnya, ia pikir harganya sudah tak terlalu mahal seperti pertama kali dipajang di rak-rak kayu tempat si penjual biasa menjajakan dagangannya.  Ya memang benar harganya murah, karna warnanya sudah memudar  terpapar terik mentari ketika terang hari, dan kadang ditumpuk sembarang  ketika hendak dikemas di keranjang karna hujan.  

Komentar

  1. Kenapa ini cuman separoh anying, tulis cerpen gak pernah kelar! Heran banget iih!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer