Temanku, Kak Sep Yang Budiman.
Kisah permagangan dalam tujuh hari sudah tak
terasa berlalu, kini aku menjalani rutinitas sibuk persiapan laporan akhir
untuk edisi magang, seperti formalistas biasanya di dunia pendidikan. Aku
bersyukur persiapan laporanku tak lagi ribet seperti dahulu itu. Biasanya untuk
dapat menyelesaikan laporan, aku agaknya
bertapa di sebuah ruang petak yang untuk bernafas seorang diri pun terasa
sesak, apalagi dipenuhi berpuluh pasang lubang hidung di sebuah ruang petak
yang sama, aku kira itu hal mustahil. Aku bersyukur sekali kepada Allah SWT,
yang akhirnya memberikan benda yang sudah hampir enam tahun aku pinta, jadi aku
tak perlu repot ke ssana mari untuk menyelesaikan laporanku. Benda ini sangat membantu mobilitas kebutuhan
tugas, sekali lagi ku bilang banyak rasa syukur ini, walaupun dalam hitungan
manusia waktu benda ini datangnya agak lambat, namun Tuhan tahun kapan yang
tepat.
Aku turut tidak lupa menghanturkan terima kasih
kepada kawanku yang rendah hati dan sukarela meminjamkan benda untuk mengetik
pertugasaanku, Aku bersyukur mereka tidak pernah protes jika aku menggunakan
benda ketik itu hingga larut malam, mungkin terbesit juga sedikit di hati mereka
rasa was-was benda tersebut bergelinjang abis dibombardir berpacu dengan sebuah
nama yang disebut tenggat waktu. Tapi jugakan teknologi tak ada kenal rasa
ampun, karena asasnya di masa kapitalistik zaman ini jungjungan esensi teknologi
ia ekploitisasi. Hahaha. Aku biasanya akan sedikit memberi pengertian kepada
kawanku si empunya benda ketik, aku mengaku bahwa inspirasi untuk mengarang dan
mengumpulkan susunan kata untuk menjadi laporan bukanlah hal yang mudah, jadi
aku mohon izin padanya supaya aku dapat waktu lebih untuk menggerayangi papan
keyboard yang sintal ini untuk kepuasaan klimaks
tugas laporanku. Dari sekian pengalamanku , aku tak perlu banyak usaha,
agar si empunya rontok kulit hatinya, toh ia juga kerap merasakan kesulitan
yang sama, mungkin ia tersentil motivasi “SATU RASA, SATU SEPENANGGUNGAN”. Sedikit
cerita, aku punya satu teman kos yang menurutku sangat dermawan dan rendah
hatinya. Ia baru saja bertambah usia di September lalu, namanya Septa Mulyani
usianya kepala 2 berekor 4 total 24 tahun, ya cukup dewasa untuk menerawang
kesulitan-kesulitan teman. Ia juga sangat pengertian sudah seperti kakak
sendiri.
Benda ketiknya kk Septa sering jadi korban keganasan
deadliners seperti aku ini. Tapi tampaknya kk septa tak terlalu ambil pusing
atas perbuatanku, biar aku tebak, sepertinya ia yakin bahwa aku adalah orang
yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Hahaha. Misalnya saat pagi sudah datang
Benda ketik itu sudah terlipat dan terletak aman di ketinggian dengan sendiri.
Ya kalian benar, Kak Septa sendiri yang mengemas benda ketik miliknya itu.
Sedangkan aku terlelap dalam terangnya cahaya LCD yang menyoroti jam
malam-malamku. Tapi takjubnya, setelah kejadian itu, Kak Septa pun tak ada
melontarkan perkataan kasar atau sindirin nyinyir. Seperti biasa ia bercerita
secukupnya, tetap memasakan sayur untukku makan siang, tak ada yang berubah
karena memang baik hatinya. Sedangkan aku, segan minta ampun, aku kapok dengan
kelalaian itu. Selama beberapa pekan tak pernah berani mengiba pertolongan Kak
Septa,tapi itu tak lamalah, aku kadung keblenger sama tugas sejibun. Kalikan
saja estimasi pengeluaran kalau aku mengerjakannya di Warung Internet, cukup
menguras kantung anak kos yang sarok-sarok kerak rengginang ini.


Komentar
Posting Komentar