Selingi Cerita

 

Mak ada seorang anak perempuan sibuh di tengah mempersiapkan kelulusan karna bapaknya yang tua kini sudah tak sanggup lagi mendengar laporan akhir semester untuk biaya kuliah. Memang agak berat untuk menyapa –nyapa lewat jaringan pesawat, takut pula ia dipalak anak perempuan bungsunya yang kini sibuk kulih. Tapi apapun itu tak pula benar-benar ia membatasi diri untuk bersapa dengan anak perempuannya yang sama keras kepalanya seperti ia.

Sudah dua pekan anaknya perempannya diam di perantauan, tak ada bekabar lagi, mungkin pun ia tak mau menambah bayangan-bayangan beban bapaknya yang punya kulit legam dipanggang matahari. Kalian harus tahu, sejak dulu bapak dari anak perempuan yang sedang diceritakan ini hanya bekerja sebagai kuli bangunan, terkadang kalau kondisi perekonomian para petani sawit bagus, bagus pulalah borongan bapak anak perempuan itu. Tpi kalau hasil panen para petani sawit itu agak trek, ya bagaikan musim panas yang mengeringkan parit-parit begitu pulalah kondisi ekonomi si bapak tukang itu. Tapi tak perlu berputus asa, jangan khawatir  Tuhan YME sudah mengatur bagaimana masing-masing rezeki hambanya yang bertebaran di muka bumi, bahkan cacing yang melata tetap diindahkan oleh yang Maha Kuasa.

Malam ini, anak perempuan dari bapak tukang itu sangat bersemnagat menulis sebuah cerita , cerita itu tidak berborder, dia akan menulis semua kata-kata yang akan dikeluarnya dari otaknya karna juga ia sedang berlatih bagaiaman memunculkan ide-ide yang  penulisannya. Biasanya ia sering terlalu berpikir keras kata apa yang harus dibuatnya dalam bagian ceritanya itu, yang nantinya juga akan dieksekusinya seorang diri. Anak perempuan ini juga sering kalau menulis suatu hal tak pernah benar-benar tuntas, itu penyakitnya yang parah. Jujur sebenarnya ia sudah punya border bagaimana ceritanya nanti ditulisnya dlam karyanya itu, tapi semakin berjalannya cerita itu, sering pula menghadapi perkembangan alur yang akhirnya fakus jalan cerita makin melebar, sungguh itu sangat menyulitkan. Kadang ia berkhayal ada tidak ya barang atau sebuah teknologi yang dapat langsung memindahkan semua apa yang kita bayangkan tanpa harus elewati proses  pengetikkan?! Aduh, seharusnya anak perempuan itu bersyukur, ia diberkati sepuluh jari yang lengkap, urat  sendi yang baik juga kuku yang indah setiap kali ia mewarnainya dengan cat latex.

Apa yang dilakukan ank perempuan itu belakangan ini sudah memberi efek yang baik baginya, dia merasakan sendiri hal tersebut. Ia sibukkan dirinya untuk melihat tutorial bagaimana membuat animasi, walaupun nampaknya itu masih butuh waktu yang panjang untuk belajar. Estimasi sederhananya seperti ini, untuk dapat memahami tool atau menu barnya saja harus 2 jam minimal, belum lagi beberapa hapalan shortcut agar mempermudah pengerjaannya. Tapi ia tetap memelihara semangatnya itu, dengan apa?! Ya dengan menyelingi saat belajarnya dengan bernyanyi, bernyanyi apa saja , asal membawa dampak baik bagi dirinya sendiri.

Anak perempuan itu rajin menulis di sebuah laman online, dan itu memberinya banyak ruang untuk bercerita, karna ia sadar ada beberpa cerita yang tak perlu untuk dibicara dari mulut ke mulut, komunikasi itu sifatnya Irreverseble.

Dia berusaha untuk terus menulis, seperti kata Seno Gumira Aji tetaplah menulis dengan apa adanya, ya sepertinya kamu ingatnya baik-baik seperti itu, makanya suatu waktu ia begitu bersemagat sekali, tapi ya kadang rsa sudah cukup membatasi dirinya untuk melakukan hal apa yang dia suka, juga beberapa orang yang ia jumpai selalu memiliki standart bagaimana penulisan yang baik dalam hal ini maksudnya konten atau isi. Aku rasa selagi itu bukan tulisan karya ilmiah maka bukan masalah besar bagaimana penuis menuliskan ceritanya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer