Malam Teater yang Pilu

Takku sangka, malam di sebuah pertunjukan teater itu adalah sebuah malam di mana memang tak dapat pula ku sembunyikan pilu hati dengan topeng ketegaran sekalipun tak guna. Padahal aku sudah tahu bahwasanya dia bukanlah orang ditujukan.

Tahukah kalian bagaimana panggung yang dibuatkan untuk penonton menyaksikan pertunjukan teater, dengan kursinya yang di susun demikian laiknya dipan-dipan di ponsium yang lebar, sorot lampu menuju pelakon menampik cahaya benderang untuk para penonoton.

Aku masih ingat betul bagaimana riweuhnya aku seorang yang diri yang sibuk mondar-mandiri paruh waktu tersedia mengabadikan moment kebersamaan para pengemuka agama. Aku masih hapal betul khutbah-khutbah yang disampaikan oleh para pendeta, biksu, ustaz dan penganut kepercayaan.

Ketika tubuhku  berbalik, mendekati sudut yang lain seorang teman yang duduk tepat di sampingku melambai, berayunan ke kanan dan ke kiri, sesekali tampak menceruk ke depan mengisyaratkan aku untuk segera mendekat.

Kata seorang teman yang dekat denganku, jangan coba-coba lihat ke belakang katanya, kau tak akan mampu katanya. Aku heran kepalang, apa menyoal tak mampu melihat ke belakang, aku menentang.

Teman yang lain pun meyakinkan, hai jangan coba-coba lihat ke belakang, kau tak kan tahan.

Teather pun jua belum dimulai. Beberap panitia atau tim pelaksana tampak sibuk berkoordinasi persiapaan akhir sana-sini. Beberapa bagian dari mereka berada di bagian teknisi, menyetel lampu sorot yang kuningnya pekat ke arah panggung tepat berat di belakangku.

Saat aku coba melihat ke belakang, cahaya kuning itu melintas tepat menyilaukan kaca mata tebal dengan min kurang 1 ini. Aku kembali lagi melihat ke belakang tidak ada apa-apa, yang kulihat puluhan pasang mata juga kepala tegak siap untuk perjamuan seni kolosal Raiu.

 

Seorang teman yang dekat, menarik tanganku, memutar kepalaku, lihatlah kea rah pukul 8 katanya, dia ada di sana.

Aku berusaha memutar kepala sekuasaku, namun tetap saja aku melihat suatu yang kebanyakan juga bisa dilihat oleh orang lain.

Lihatlah baik-baik seorang teman menyarankan.

Ke arah jam 8, Tika!

Baiklah, aku menisbikan satu hal yang kusebut dan tak pernah kucabut. Jangan kalap toh engkau bukan siapa-siapanya kan. Aku pasrah.

Malam itu, hati bagai batok yang sudah menua degannya. Serabutnya Cuma bisa jadi penglap tahi ayam dan sisanya dijadikan bahan bakar untuk menanak nasi yang diguyurkan atasnya air mata seorang yang patah hati.

Beberapa tahun hidup sadar sebagai insan yang mulai merejang namanya cinta, baru kali ini patah hati terdahsyat. Aku memang bisa menyukai banyak orang, namun kalau soal perasaan yang bukan pada umumnya aku patuh pada satu.


Komentar

Postingan Populer