Tidak Tersebut
Ada satu nama yang tak pernah ramai kubincangkan antar pertemanan, padahal di benakku ia punya nama ada tempat sendiri. Memang tidak terlalu istimewa aku khususkan atasnya, tapi cukuplah.
Belakangan kami meringsek hubungan perkawanan hanya karena sebal, sebab satu dan beberapa hal, kami berada digaungan yang sama tapi tak lagi sehaluan.
Aku begitu terpacu lebih baik kalau melihat dia lebih baik, tapi kalau dia buyar dari peradaranku, aku macam kehilangan sesuatu. Lucu memang. Aku buat dia macam kompetitorku, walaupun aku sadar aku sendiri gak layak buat jadi kompetitornya.
Bentangan prestasinya laik diagungkan daripada aku si remahan wafer kaleng-keleng Khong Acuan. Pahamkan maksudku, intinya aku itu cuma remahan wafer yang gak enak terus produk tiruan pula aka KW super!
Memang tidak baik membandingkan kelebihan antar individu, karena setiap individu punya sisi istimewanya masing-masing. Tapi gimana ya, gak bisa aku tolak set pikiran macam itu. Jangan gundah membaca tulisan ini, aku masih berada di lajur insecure yang wajar kok, masih baik-baik saja.
Beberapa hari lalu aku baru saja membaca semua postingannya di sebuah website, tentu saja dengan seksama, bahkan aku masih dapat dengan terang bagaimana setiap kejadian yang dia gambarkan di website pribadi miliknya. Pasca aku membaca unggahan terbarunya, hati dan jariku tak kuasa ingin memuji unggahannya tersebut, namun otakku menyergah, menyanggah dengan bertubi-tubi pertanyaan. Contohnya "Buat apa komen2, biar apa?!", aku membatin. Jahat ya aku? Emang, gak perlu syok.
Aku turut senang dia sekarang sudah kembali membagikan aktivitasnya.
Aku mau bagi tahu satu hal juga soal dia. Dia adalah satu orang yang berkelabat tahu soal klu-klu patah hatiku. Dia lah kawan pertama yang memberi kabar soal hal yang jadi salah satu sejarah dalam hidupku.
Sini aku ceritakan.
Pada bulan-bulan di tahun 2020, aku sedang sibuk berlatih melakon tokoh pada pagelaran teater. Tanpa hujan dan angin, (dulu hubungan masih sangat baik) ia berkabar, bahwa ia melihat orang yang aku jatuhkan hati sedang dengan teman perempuannya di sebuah toko pernak-pernik yang lengkap se Panam. Dia mengaku melihat dengan mata kepala sendiri. Singkatnya, aku tidak percaya. Aku mencela "No pict, hoax!". Aku memang gila. Ia meyakinkan bahwa yang dilihatnya benar dan tak meragu bahkan sudah bermata empat.
Bagaimana aku?, masih tetap mencela tidak percaya.
Di bulan yang lain, bermodal undangan patnership, aku beranikan diri datang untuk meliput sebuah pagelaran teater, ya lagi-lagi teater. Ada arti apa sih teater dengan segala kisah-kisahku, mengapa teater begitu memiliki keterkaitan berarti. Aku jadi begitu heran. Jujur aku juga baru menemukan pertanyaan ini baru saja. Oh tuhan!.
Baiklah kulanjutkan, jadi saat teater itu berlangsung tak lain dan tak bukan berlangsungnya teater tersebut sebab ada sebuah kerja sama di kampus terkait keberagaman.
Jadi aku yang datangnya modal patnership, sibuk menjalankan tugasku dengan mengabadikan setiap momen yang ada di dalam simposium itu. Ya memang benar mengabadikan, sampai saat ini aku juga belum luoa bagaimana situasinya aaat itu. Singkatnya, temanku ini melambaikan tangannya megisyaratkan aku untuk segera mendekat. Dia berkata, "Jangan lihat ke belakang kau tak akan tahan". Aku tak paham.
Dia mengulang kembali, "Jangan lihat ke belakang".
Ya, ia benar kali ini, "Jangan lihat ke belakang, aku memang tak tahan".
Terima kasih kawan, aba-aba dan peringatannya. Walaupun percakapan antar kita tak semulus sampul buku-buku karyamu, seminimalnya ya kita pernah swafoto bersama, ya kan.
Menyoal swafoto, aku sebenarnya tak ingin membahas soal ini, karena kurang penting. Pernah di suatu sore tempat biasa kita bercengkrama dengan teman yang lain, kita sibuk dengan layar lcd kita. Saat ity kau berkata, "Kita tidak pernah foto bersama berdua".

Komentar
Posting Komentar