Apa Pentingnya Sebuah Jawaban
harusnya saya jujur dengan perasaan saya, sampai sekarang kadang masih agak berat sama kejadian 2 tahun lalu. Kegagalan penyampaian itu buat aku masih bertanya-tanya, maksud dia seperti apa?!
Sore yang lumayan tidak terlalu terik itu, dia mau beri aku kabar soal di mana keberadaannya setelah terhitung hampir 8 bulan lebih menantikan, namun dalam waktu yang tidak lama mungkin hanya dalam hitungan 10 menit dia bilang kalau dia sudah pulang. Duh, dia tampaknya bermain-main.
Aku waktu itu sudah kalap sekali, langsung kecewa tidak berpikir jernih. Merasa dibohongi dan benci. Aku tak pernah berpikir kalau dia mungkin sedang mengujiku, tapi kalau jauh berpikir kesana, bukankah itu tindakan yang berlebihan, kenapa selalu mempersulit orang?
Kenapa kebaikan tidak pernah dibuka dengan tangan mengadah yang lebar?
Harusnya aku sudah melupakan kejadian ini, tapi sampai sekarang aku masih mengerjap teringat, kenapa ya?
Sempat beberapa kali kami berjumpa di kantin kampus, di lobi fakultas, dan bertemu langsung duduk berhadapan, telinga mendengarkan, bertukar percakapan, tapi tidak ada sedikit pun pecakapan yang menyinggung kejadian sore hari 8 bulan lalu.
Alam memang bekerja sendiri, pertemuan itu sering tidak terencana.
Saat pertemuan langsung selama 1 jam lebih itu dia bercerita, tentang wanitanya yang sedang dirundung kemalangan, bahkan percakapan itu dilontarkannya begitu saja. Padahal kami tidak pernah saling bercakap atau bertukar informasi sebelumnya, kami ini orang-orang yang asing.
Tanpa fafifu waswiswu, dia mengalak, aduh kesian sekali si ***, ibunya meninggal, katanya. Setelah menarik kursi menyamankan dudukannya. Ia lanjut bercerita katanya, kalau perempuannya itu begitu sedih dengan kematian ibunya, ia tampak tak berarti sebab di akhir-akhir ajal menjemput ibunya, ia tak ada di sampingnya.
Dan aku masih menerjemahkan kata-katanya. Namun di lain sisi, aku bukan lagi di demensi aku mendengarkan dia yang bercerita, justru aku di demensi kejadian serupa di mana aku tidak berada di samping ibuku menjelang tutup usianya.
Sebenarnya ngilu dengar dia bercerita, tapi ia tampak ingin percakapan itu ditanggapi, karena aku sejak kala hanya mengernyitkan dahi dan senyum menukik. Menutup diri.
Sampai ia bertanya dari mana asalku, dan tentu dia sudah tahu namaku. Mungkin itu basa-basi yang umum dilakukan banyak orang untuk membuka sebuah percakapan.
Lalu aku lantas menjawab pertanyaan itu secukupnya. Kemudian suasana kembali diam. Saat sebenarnya aku tidak benar-benar sendiri, aku saat itu bersama teman wanita yang juga temannya dia. Sungguh pertemuan itu bukanlah satu hal yang direncanakan, bahkan aku tidak tahu bahwa teman yang dimaksud teman wanitaku adalah dirinya.
Sebab sudah banyak cerita yang disampaikan dengan segala keterbukaannya itu, aku berpikir konyol seperti ini, harusnya kalau aku tidak usah lebay dengan kejadian lalu, kan aku tidak ada apa-apa dengan dia. Hahaahaha lucunya, padahal masih ada sedikit rasa penasaran yang "kenapa" seperti yang aku jelaskan di atas.
Mungkin di sela-sela teman perempuanku pergi ke belakang saat momen itu, aku bisa menyalak kenapa dia berbuat demikian itu padaku ?!. Aku pikir aku perempuan yang cukup berani untuk melakukan hal tersebut, bagiku itu bukanlah suatu masalah besar. Jangankan bertanya seperti itu, menyampaikan rasa kagum melalui printilan hadiah saja sudah aku lakukan.
Tapi syukurnya Tuhan selalu menyertaiku, masih diselipkan rasa malu ya walaupun tak banyak. Tameng pembelaanku saat itu hanya soal etiskah bertanya seperti itu, harusnya kejadian yang lalu membuat aku sadar sikap buruk seseorang bahkan menonjol saat di pertemuan awal.
Sekarang aku mempertanyakan, apakah perlu pertanyaan "Kenapa" itu aku tanyakan? haruskah setiap tindakan atau perlakuan seseorang yang tidak mengenakan harus selalu disertai alasan?mungkinkah selepas pertanyaan "Kenapa" itu dijawab lantas aku puas dengan apa-apa yang terjadi padaku.
Aku khawatir saat "Kenapa" itu dijawab malah justru semakin membuat aku terseok-seok ingin alasan yang lebih panjang lagi, sebuah alasan yang memuaskan untuk menjawab rasa penasaranku. Aku khawatir rasa penasaranku itu seperti percikan api memantik di ladang-ladang kapas, blusshh melenyapkan, lalu berasap terimbui bau kebakaran.
Sekarang ini aku masih berusaha untuk melupakan kejadian yang terjadi, masih berusaha menerima walaupun kadang masih terasa sulit. Apa mungkin aku terperangkap dalam talbis-talbis gila. Aku tak mau terkenal seperti kisah Laila Majnun yang terkenal akan kebodohan cintanya.
Aku hanya mau terkenal karena cinta-cinta yang diridhoi, cinta-cinta yang hidup di dalam diriku, yang kebaikan dan buruknya hanya aku dan pasanganku kelak yang tahu. Bukan sebuah kisah yang diperjual belikan di pinggir-pinggir bibir para pejalan.

Komentar
Posting Komentar