Cuma Motif Batik yang Jelas, Gak Tahu Ya Kalau Motif Manusia ?

Dulu saya punya alasan kuat untuk selalu menulis, kalau boleh jujur motif terkuatnya adalah karena unggahan-unggahan 'tulisannya' yang selalu dibagikannya di kanal-kanal sosial media. Motif lainnya sebab ingin seperti temanku, yang selalu tampak sibuk menulis. Motif lainnya supaya aku punya tulisan jago yang bisa lolos seleksi penerbit dan kemudian dibukukan. Terus juga ada motif supaya tulisan yang kukumpulkan di laman daring ini bisa jadi bahan komersil websiteku kelak.

Namun setelah sekian lama, motif-motif yang kujelaskan sebelumnya seluruhnya berguguran, satu per satu. Mulai dari yang paling tidak penting, hingga ke poin yang paling krusial, yaitu 'tulisannya'. 

Suatu hari, aku lihat temanku tampak sibuk berkelindan dengan seambrek buku, buku yang siku-sikunya tak pernah dilipat, dan sampul buku yang tak sebagaimana tebal bentukan aslinya. Ketika membeli buku, sampul menjadi hal pertama yang dilihat, kalau menurut kacamataku.  Dari tampilan sampul buku milik temanku itu, aku menduga itu buku bajakan. Bukan hendak menjengkali kemampuan seseorang, tapi memborong selusin buku-buku best seller,  ditransaksi bajakan itu tampak mengerikan sekali. 

Di atas itu hanya pradugaku saja, yang kulumat di dalam hati. Tak lah aku paten menunaikan hajat kecurigaanku itu dengan menanyai sejawatku, bagiku itu di luar jangkauanku. Satu hari yang lain, temanku tersebut membeli buku, tak tanggung-tanggung, bukan hanya ia yang membeli buku, turut pula temannya menitip beli buku di counter buku yang sama. Tak sengaja aku nimbrung bersama ia ketika di kantin, dia bertanya, apakah aku ada melihat si fulan, sebab ia ingin mengantar buku pesanannya. 

Sebab jiwa kepo ini meronta-meronta, akhirnya aku beranikan diri bertanya, dengan bilang kau belakangan punya minat tinggi membeli buku dan buku itu buku-buku populer, pasti harganya lumayan, kataku yang mesti 4 kali berpikir ketika  hendak putuskan membeli buku baru. Bolehkan kau beritahu aku toko buku biasa tempat kau membeli.

Temanku menyodorkan androidnya, menunjukan sesuatu, rupanya itu marketplace yang cukup mentereng popularitasnya. Temanku melanjutkan arahannya, katanya belilah di toko ini semua buku sangat murah-murah. 
Mataku terbelalak, tersungging senyum penasaran, sambil bertanya, kau betulan beli buku-buku di toko ini?, kataku. Temanku tak sumbar menjawab terang, ya benar, katanya. Aku hanya menganggukkan kepala, sambil berlantun panjang melafazkan oooooooo....

Tenyata pelajaranyan, aku tak perlu terburu-buru merasakan aku tidak melakukan apa, termasuk kemampuan membeli buku. Sebab kalau oemenuhan itu hanya sekadar birahi gengsi tak akan guna. 


 dulu setiap kali aku mendapatkan salinan link yang tertuju ke lamannya bersangkutan, lekas aku menyambar secepat kilatan cahaya, tertib dan menikmati. Dia punya gaya tulisannya yang menggelitik, kadang sarkas dan sedikit naif. Tapi itu bukan masalah bagiku, yang penting tulisannya asik. Kalau boleh jujur kadang aku membaca tulisannya sambil cengengesan. "Apa nich, metaforanya asik bet," kataku. Mungkin itu ungkapan yang terlalu berlebihan, bagi sebagian temanku yang aku bagi diskusi mengenai tanggapannya soal itu. Sialnya, aku kadang tak terima kalau saja komentarnya miring. Katanya, semua yang kau baca mengenai dia bakal selalu jadi hal menarik, Tik!, ungkap kawanku satu waktu. 

Ya betul, aku tak mengelak. Dia masih lanjut mengatakan bahwa tulisan yang bahkan isinya tentang batok kura-kura yang berisikan bangkai juga tetap bakal wangi stela bagimu. Kalau aja dia diskripsikan seonggok tahi juga bakal seperti es krim coklat manis diinterpresentasimu. Ya. Aku tak menyangkal. 

Walaupun daritadi dia mencucu soal satsetwasweswos, dia juga bisa, bahwa baguslah kau suka baca tulisannya setidaknya kau jadi makin rajin membaca, syukur berbonus jadi rajin menulis. Lantasku bilang bahwa ya, aku memang jadi rajin menulis. Walaupun tak penting. 

Lain waktu, saat tak kudapati lagi link-link laman 'tulisannya', itu sangat menyakitkan. Sangat layak dirindui, bagai seorang bayi tanpa asi. Memang berlebihan, tapi itu kebutuhan mau diapakan lagi. Kalau katamu, aku bisa pakai susu formula, itu tak seberkah asi. Artinya aku tak sebegitu terinspirasi bila tak membaca sumber tulisan dari 'tulisannya'. Ya, jadi tampak egois, bukan lagi. 

Besok yang lain, aku masih menunggu link-link yang mengantarku pada ungahan 'tulisannya' yang baru, namun juga tak kudapati. Menulis bagiku bukanlah hal asik. Tak ada aku membaca 'tulisannya' belakangan. Dan itu masalah bagiku. 

Walaupun itu terlihat kecil, tapi bagiku itu sebuah hal yang besar.  P

Komentar

Postingan Populer