Tahap 1 dari 3; Seminar Proposal
Tiga hari berturut-turut, jantung dag-dig-dug, selera makan tak karuan, dan tentu saja overthingking menghatui aku saat itu. Banyak hal-hal bombastis nan berakhir tragis di dalam otakku membayangkan bagaimana skenario yang akan berlangsungnya saat seminar proposalku (Sempro).
Pertama, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak pembimbingku, Bapak Muhammad Badri, yang sudah mendukung dan bantu permudah aku untuk melenggangkan langkah menuju tahap 1 dari 3 frgamen per-ujian S1 ini.
Aku bersyukur sekali dalam proses penyelesaian Bab 1 hingga Bab 3, aku tak terlalu banyak menemukan kesulitan dalam pengerjaan, terutama menyoal urusan bimbingan. Pembimbingku sangat suportif, setiap sekali dalam sepekan aku diberi waktu bimbingan, mungkin bisa saja dalam sepekan aku bimbingannya dua kali, tapi sepertinya itu akan menyulitkanku di waktu yang bersamaan, sebab dalam bulan tersebut aku masih terikat kontrak magang, dan itu sangat melelahkan.
Tapi rencana tersebut bisa saja aku lakukan menjelang bimbingan skripsiku mendatang, semoga saja semuanya mudah.
Omong-omong soal bimbingan, aku hanya menghabiskan 3 kali pertemuan bimbingan, dan selanjutnya aku mendapatkan ACC untuk melakukan Sempro. Sebagai catatan saja, aku Sempro pada 18 Februari lalu, bersama dengan tiga orang adik tingkat yang sangat baik. Aku mendengar kabar kalau mereka sangat mencari-cari informasi tentang diriku.
Sebuah drama yang tak pernah luput dari kehidupanku, aku ingin mencerita kejadian yang sempat buat saraf otot lurikku tegang, bagaimana tidak, rupa-rupanya kawan-kawan yang Sempronya barengan dengan aku telah melakukan ujian lebih dulu, satu hari sebelum tanggal 18 bersama penguji 1. Tak tahu apa namanya, syukurnya penguji 2 waktu itu tak bisa, sehingga pelaksanaannya diundur hingga tanggal 18 Feb.
Aku tahu pasti kalian bingungkan, kok bisa?
Jadi begini, seluruh informasi terkait akademik di fakultasku diumumkan di website resmi Ilmu Komunikasi, sesuai yang dicatatkan jadwal Sempro dituliskan 18 Februari. Tapi rupanya, dalam daftar absensi alias hard file program akademik (Prodi) Ilkom, jadwal sempro menjadi 17 Februari. Dan, tahukan kalian tak ada satupun informasi yang kudapat dari staf prodi, bahwa jadwal semproku tidak sinkron antara yang ada di website dengan hardfile absensi sempro. Sialnya lagi, menurut pengakuan adik tingkat yang kubilang sangat baik sebelumnya, mengatakan bahwa mereka sudah berusaha mencari informasi tentang diriku dari berbagai sumber, namun sayangnya mereka tak jua menemukanku.
Kecurigaanku ini bermula dari, teman-teman Semproku yang tak kunjungg datang, padahal waktunya sudah lambat hingga 30 menit lebih, aku khawatir jangan-jangan mereka melaksanakan Sempro di gedung atau ruang yang berbeda. Hingga akhirnya aku beranikan diri menghubungi salah satu penguji, yakni penguji 1 dan 2.
Tak lama, Penguji 2 membalas, dan di saat bersamaan kami saling berjumpa di koridor fakultas, dan aku menghampirinya. Kemudian, kami seluruh rombongan menuju ruang ujian dan betul, seminarnya berlangsung di ruang yang berbeda.
Setelah seluruh peserta duduk semua, mulailah digilirkan peserta pertama mempresentasikan proposalnya. Aku kebingungan, kenapa peserta sudah mulai padahal pengujinya tidak lengkap?. Sempat ribut dengan batin sendiri, akhirnya aku memberanikan diri bertanya dengan peserta yang duduk tepat di sebelah kananku.
Dengan modal senyum dan keramahtamahan apa adanya ini, aku tanya "Kenapa tidak menunggu, penguji satu?", teman tersebut menjawab dengan kebingung, semua itu terpancar dari air mukanya, aku yang mengamatinya dari dekat bisa merasakan keresahan itu, dan tentu saja aku menjadi lebih resah.
Dengan nada berbisik, ia menjelaskan "Jadi begini kak, satu hari lalu (17 Februari), kami bertiga sudah ujian dengan penguji 1". (Aku masih berusaha tetap tenang). Ia melanjutkan, "Soalnya jadwalnya itu tanggal 17 Februari," katanya. (Aku mulai panik). Dia masih melanjutkan, "Kami udah cari informasi tentang kakak, tapi tak jumpa juga. akhirnya ujianlah kami cuma bertiga dengan penguji 1 yang juga tanya soal kakak". (Udah spanning, but still look like chill).
Kuperbaiki nadaku lebih dulu, seperti yang kalian tahu aku bisa saja lepas kontrol. Lalu kubilang," Kok bisa begitu, tapikan di jadwal website itu, hari ini yang betul (18 Februari)?", kataku. Langsung teman itu menanggapi kalau ya memang betul jadwal resminya hari ini, dan itu bukan kesalah peserta ujian, memang ada disinformasi antara jadwal website dengan jadwal yang tertera di daftar absensi Sempro.
Tentu saja masih banyak ada sepaket pertanyaan yang mau kulontarkan, tapi yang terpenting adalah apakah penguji 1 waktu itu marah aku tidak mengikuti Sempro?, menurut teman itu, tidak sama sekali, hanya bertanya saja.
Jawaban itu cukup membantu aku, membantu ketegangan saraf otot lurikku, yang sedari tadi mau mbeldos tak karuan. Di waktu yang sama pula, aku yang saat ini sedang duduk mendengarkan peserta Sempro melakukan presentasi, mendapat balasan pesan singkat. Kulihat di notifikasi Wa-ku, rupanta itu jawaban pesan dari penguji 1 Semproku. Netnot, kakiku gemetaran.
"Cepat kesini, saya sedang di ruang dosen".
Aku yang lagi pegangan proposalku jadi gusar, kuambil hpku, kutangkap momen saat itu, kukirimkan dengan diskripsi, maaf ya bu, tapi saya saat ini sedang ujian dengan penguji 2, tulisku. Tak lupa emotikon tangan memohon.
Setelah peserta pertama selesai dengan presentasinya, tak keberanian macam apa aku miliki waktu itu, aku yang krepeng ini, maju ke depan. Menyampaikan permohonan untuk diizinkan lebih awal mempresentasikan proposalku, meski sebetulnya absensiku masih ada jauh di belakang. Aku waktu ini menjelaskan dengan konkrit apa kendala dan tujuan ini, syukurnya penguji 2 sangat pengertian hingga akhirnya bisa aku melakukan presentasi lebih awal, sehingga aku punya kesempatan untuk Sempro dengan penguji 1 di hari yang sama.
Sekitar 10 menit aku memaparkan presentasiku soal bakal penelitian yang akan aku lakukan, tentu saja ada brondongan pertanyaan yang menghujaniku saat itu, tak pelik sekali, namun cukup buat aku memutar otak supaya penelitianku ini tampak ciamik dan layak untuk dilanjutkan. Setelah proses tanya jawab tersebut berakhir, penguji 2 memberikan aku beberapa saran untuk pelengkapan latar belakang penelitianku, kurasa itu sangat membantu.
Kembali lagi ke kendala bersama penguji 1, aku yang saat itu pakai rok span, jalan tergopoh sampai beberapa kali melangkah dengan kaki tersripet. Tidak jauh sebetulnya untuk sampai ke ruang dosen, tapi waktu itu langkah kok seperti yang di dalam mimpi, sangat lambat dan buat napas ngos-ngosan.
"Tok,,, Tok,,, Assalamualaikum buk?"
"Oh ya kamu, Tika kan, Kenapa kemarin tidak ikut Sempro bareng dengan teman yang lain, saya kira kamu memang mengundur jadwal Sempromu", begitulah bunyi yang pertama menyapa aku, ketika sudah sampai di dalam ruang dosen, bagiku itu, shock therapy nun ajib.
Aku waktu itu cuma cengengesan, masih bingung mau jawab apa. "hehehehehehehehhehehehehehe, iya bu". "Saya tidak tahu kalau jadwal berubah buk, saya patokan cuma dengan jadwal yang ada di website (18 Februari), kusambung cengengesanku sebelumnya itu.
BLA,,,BLA,, komunikasi aku dengan penguji 1, alhamdulillah penguji 1 maklum, katanya memang ada misinformasi soal jadwal, jadi beliau lebih maklum. Namun siapa yang bisa menduga, kupikir itu bakal jadi sampan yang mengatarkan aku pada selesainya misi Semproku, rupanya dengan rendah hati penguji 1 minta izin dan menawarkan untuk pelaksanaan Semproku ini, diundur di hari selanjutnya saja, mengingat hari sudah sore.
Apa bisa dikata, aku yang punya pengalaman tak mengenakkan dengan petinggi kampus, hanya bisa enggeh wae-lah, yang penting masih diberi kesempatan untuk Sempro bersama beliau, Alhamdulillah. Waktu momen ini berlangsung, hal yang selalu tendem dalam hatiku adalah petuah yang diucapkan bapak aku, katanya beliau, engko kalo koe diomongi karo dosenmu, yo nrimo ae, ojo angel yo, Ka, Mben kuliahmu dilancarke!".
And finally, aku punya jadwal sempro di hari selanjutnya, yakni 21 Februari 2022 di hari Senin. Dan saat hari itu tiba, aku kembali menyambangi ruang dosen, bertatap muka dengan penguji 1, segenap keberanian dan mental ini jadi modal awal. Syukurnya proses itu tak lama-lama, hanya menghabiskan sekitar 15 menit. Syukurnya, semua lancar, dan aku lumayan dapat nilai yang bagus. Semoga saja dalam waktu dekat ini, bisa aku lanjut ke Ujian Kompre, dan tentunya dengan persiapan yang matang dan tidak ada drama-drama lagi. Aamiin.
| Dokumentasi di Sekretariat LPM Gagasan UIN Suska Riau. Jumat, 18 Februari 2022 |

Komentar
Posting Komentar