DLK Pertama Jurnalis Pemula Langsung Tadabburi Alam

 Pada awal September lalu aku mengikuti Media Gathering Kemenag di Magelang. Itu merupakan penugasan keluar kota pertamaku. Tentu aku sangat senang dengan penugasan tersebut. 



Dok. Humas Itjen Kemenag 


Sebelumnya aku juga pernah mendapatkan undangan Media Gathering Bawaslu di Sukabumi, tapi aku tidak ikut sebab kompi nasional kekurangan wartawan di lapangan. Kendati aku tak bisa ikut bersama rombongan Media Gathering Bawaslu aku tidak masalah. Aku hanya perlu maklumi hal tersebut.

Mungkin inilah waktu lapangnya aku bisa ikut agenda Media Gathering, jadi aku sudah bersiap tentunya.  Agenda Kemenag ini berlangsung sejak 1-3 September, jadwal agendanya dipercepat menjadi 4 hari lebih awal. Bukan hanya waktu, lokasinya juga diubah sebelumnya di Wonosobo menjadi Magelang. Rombongan berangkat menggunakan kereta api, dari Stasiun Gondangdia menuju Stasiun Yogyakarta. 

Aku yang sudah membaca sedikit alur perjalanan tersebut sudah bersiap sejak diri sejak sore sebelum keberangkatan esok paginya. Tapi rupanya  itu hanya siap-siap niat, bukan persiapan perkakasan. Satu hari sebelum keberangkatan aku sangat sibuk liputan di lapangan, mulai dari DPR RI hingga ke DPP Parpol. Agenda yang menyita waktuku hari itu karena  kedatangan Bacapres Koalisi Indonesia Maju Prabowo Subianto ke Kantor DPP Golkar di Jakarta Barat. Agendanya berlangsung lumayan lama.  Terus isu  keretakan hubungan Demokrat dengan Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). So hari itu sangat hetic sekali. 

Aku siap meliput agenda tersebut sekitar jam 9 malam. Melanjutkan aktivitas makan mala bersama sejawat wartawan yang kabarnya resmi menggantungkan id persnya. Tentu sangat tidak elok menurutku jika menolak ajakan makan malam bersama, apalagi bisa saja pertemuan malam itu jadi malam terakhir untuk quality time hehe. 

Akhirnya tanpa bingung-bingung kami pergi menuju tempat makan malam yang berada di jalan Asia Afrika  Mall Senayan Jakarta Selatan. Di pinggir jalan sana, tepat di samping store ada warung sate Taichan. Nah ini juga kali pertama aku mampir ke warung ini, padahal aku tuh ya lumayan sering lewat sini. 

Setelah ceremonial perpisahan itu, aku kemudian melanjutkan perjalanan pulangku. tak terasa jam sudah meunjukkan pukul 11 malam. Sesampainya aku di kosan, aku pun tidak ngapain-apa langsung saja terlelap dan tiba-tiba hari sudah pagi. Jam tanganku menunjukan pukul 5 lewat. 


Aku pun bergegas salat, lalu menyusun barang bawaanku di agenda Media Gathering tersebut. Sibuk sana sini, waktu tidak terasa menunjukan pukul 7 lewat. Sedangkan perjalananan dari kosan menuju Stasiun Gambir menhabiskan waktu 30 menit lama. Aku dalam hati panik, sudah pasti telat. Dalam kepalaku tampaknya aku akan ditinggalkan rombongan dan batal mengikuti Media Gathering ini.

Akhirnya aku putuskan menghubungi panitia cara Media Gathering. ia mengatakan bahwa tidak masalah jika aku telat hampir 10 menitan, karena jadwal keberangkatan kereta bisa lebih lambat sedikit. Setelah terburu pacuan dengan mobil dan motor di jalanan Ibu Kota Jakarta,  akhirnya aku sampailah di Stasiun Gambir sekitar pukul 8 pagi.


Mulai Keberangkatan Stasiun Gambir ke Stasiun Yogyakarta


Rombongan memasuki Gerbong Argo Dwipangga sekitar pukul 8.30 WIB. Gerbong yang kami jajaki ada di bagian A, jadi bisa disebut gerbong paling depan. Aku duduk bersama teman wartawan dari media Media Indonesia. Perjalanan dari Jakarta ke Stasiun Yogyakarta menghabiskan 8 jam lamanya. Tidak, itu belum sampai ke lokasi acara, rombongan mesti melanjutkan perjalan jalur darat dengan bis selama dua jam untuk sampai ke Magelang. 


Selama 8 jam, aku bangun lalu tidur, tidur dan bangun sesekali ke kamar mandi. Dari jendela kaca gerbong aku dapat melihat dengan jelas pemandangan alam dan hamparan ladang sawah berhektar-hektar terbentang seperti tikar dari daun pandan, hijau dan asri. Tapi berselang beberapa kilo meter, tampak juga ladang sawah yang kering. Tanahnya tandus, juga retak. Burung-burungpun tampak tak sudi bertengger di atas batang padi, cuacanya terik.  Barang kali itulah alasannya tak nampak burung-burung bertawaf mengintari ladang sawah nun kering itu.


8 jam perjalanan kereta berlalu, Akhirnya tiba di stasiun perhentian terakhir. Kami sampai di Stasiun Yogyakarta. Ketika aku melangkah keluar, aku takjub. Aku menjajaki tanah  Yogyakarta. Peraga tugu dan pamplet-pamplet berserakan mengajak banyak orang untuk eksplor keindahan Yogyakarta. Di Pamplet  persegi panjang menyapa mata pendatang disebutnya ada banyak makanan, banyak heritage, banyak penampilan kebudayaan dan lain sebagainya tersaji di Yogya, begitu ia menjanjikan isinya Yogyakarta.

Mulutku tak berkutik, tapi dalam benak sungguh senang, akhirnya aku pijakkan kakiku juga di Yogyakarta. Walau hanya mampir sebentar. 


Setelah rombongan saling menuntun keluar peron kereta, kami berusaha keluar dari desakan pra pengunjung lannya, yang tampak menenteng kardus, koper besar, bantal tidur dan barang bawaan lainnya persis seperti mudik kampung halaman. 


Rombongan pun menunggu di bagian halte bus. Menunggu sembari panitia Media Gathering menilik bus mana yang akan mengantar kami ke tempat penginapan untuk 2 hari ke depan. Ketika sampai di halte bus itu, aku tak banyak mengamati kondisinya, aku hanya terpaku dengan gawai yang ada digenggamanku. Aku tengah mengamati video pernyataan sikap Partai Demokrat atas koalisinya. Walaupun tak banyak mengamati kondisi stasiun, aku tetap tak mau abai, tentu tetap mendokumentasikan Stasiun Yogya yang tak pernah sepi walau menuju senja. 

Bus merah besar dengan kursi penumpang tak lebih dari 15 pasang itu terparkir di seberang, tepat di pinggir bibir jalan perempatan lampu merah. Salah satu panitia menyoraki rombongan mengajak bergegas masuk ke dalam bis merah tersebut. 

Beberapa dari kami terbirit-birit mengejar rombongan, tergopoh membawa barang bawaan. Dan tentu, mengejar dan menghalau padatnya lautan manusia yang silih berganti datang dan pergi dari  tanah Yogya. Tepat di persimpangan empat jalan raya, manusia menyebrang, mobil dan motor melintas. Gesekan sepatu, sendal, bunyi decitan ban dan klakson tak sabaran berdenging meramaikan kompleks stasiun. Sesekali sama-samar bunyi pengumuman kedatangan dan keberangaktan kereta api yang pupus semakin buyar karena aku sudah mulai jauh  meninggalkan stasiun. 


 Jam menunjukan pukul 4 sore, dan menurut  perkiraan yang ada, rombongan akan sampai pada pukul 6 sore. Karena  perjalanan menuju tempat penginapan menghabiskan waktu sekitar 2 jam lamanya.


Ruas jalanan Yogya tak begitu luas, tapi juga tak sempit, Sepertinya sudah pas untuk sebuah kota besar peradaban budaya. Hari itu jalanan lumayan ramai lancar, tidak ada kemacetan berarti seperti jalan Sudirman atau Jalan Cipulir, Jakarta. 


Suasana sore Yogyakarta syahdu, tapi memang udara kemaraunya lumayan kerasa sebab hawa angin yang mendesir tidak begitu lembab ketika menjamah kulit. Tata bangunan di sekitar jalan raya tampak rapi, beberapa rumah milik warga lokal tampak nuansa kejawaannya, ada juga yang sudah modren. Tukang jualan goreng, tokoh oleh-oleh memadati pinggir jalan kota.  Tak terasa dua jam perjalanan berlalu, akhirnya kami sampai di tempat penginapan. 

Sesampai di sana, aku menyempatkan diri rehat sejenak lalu melanjutkan menulis berita. Acara pembukaan berlangsung malam hari. Tapi ini terlalu, acaranya molor hingga dua jam. Jadi acara dimulai tidak lebih dari jam setengah sembilan malam. 

penyampai materi dan bincang santai menghabiskan waktu sekitar dua jam. sehingga acara pembukaan selesai kurang lebih jam 10 lewat. 

Tentu membuat berita tak sekadar ceremonial saja, aku dan sejawat wartawan lain memfollow up isu terkini dari pembahasan materi yang disampaikan narasumber di acara pembukaan tersebut.

Proses wawancara berlangsung pada pukul 11 malam dan selesai hampir jam setengah 12 malam. Aku menyempatkan diri untuk mentrasnkip hasil liputan malam itu,  walaupun sesungguhnya tak mudah melawan kantuk akut yang menjuntai-juntai di kelopak mata. Akhirnya aku memutuskan untuk istirahat dan melanjutkan menggarap berita esok pagi. 


Hari kedua di Magelang, pukul 5 pagi aku sudah menyiapkan beberapa potong rekaman untuk ditranskip. Lalu melanjutkan menulis beritanya untuk absen pagi. Dua berita ku tulis, tapi sayang yang naik hanya satu saja. Rasanya lumayan kecewa tapi itu hal yang biasa di dapur redaksi, editor punya hak proregatif menyeleksi mana berita yang hendak diunggah dan tidak. 


Melaju Dengan Arus


Hari kedua di Magelang. Rombongan di pagi hari sudah bersiap, serapan terburu karena akan bergegas menuju ecowisata  Sungai Elo untuk Rafting. Aku dan temanku juga menyemptkan diri serapan lalu cekatan menuju angkot yang akan membawa kami ke lokasi tujuan. 




Di depan tempat kami menginap, sudah terpakir kurang lebih 6 angkot. Setiap angkot yng ada membawa dua sampan karet di atapnya. Juga tak lupa alat-alat dayung dan safety guard di dalam angkot yang kalau dihitung-hitung ada sekitar 30 pasang lebih. 

sekitar pukul 8 pagi kami mulai berangkat. Perjalanan dari tepat menginap ke lokasi Ecowosata hanya sekitar 15 menit saja. Dan sampailah kami di lokasi. 

Ada 13 tim rafting. Setiap kapal karet diisi 3 orang dan satu pemandu. Semua pemandu yang ikut sudah profesional dan punya jam terbang tinggi. Termasuk pemandu yang berada di sampan karetku. Ia merupakan atlet rafting profesional yang mengikuti Peparnas mewakili kontigen Riau beberapa tahun lalu.

Pemandu  menjelaskan soal  topografi Sungai Elo. Dalam perbincangan itu, ia berulang-ulang mengaskan bahwa Sungai Elo merupakan sungai yang masih murni kealamiannya. Tidak ada aktivitas pabrik, ataupun pertambangan. Adapun sumber air sungai Elo menurut pemandung dari mata air pegunungan Sumbing. 

Pemandung sedikit memberi tahu bahwa rafting kali ini tidak terlalu ekstrim, sebab arus sungai tidak sedang pasang. Mengingat bulan ini katanya dia curah hujan rendah. Namun tak menyayangkan begitu saja, ia meyakinkan kami bahwa pengalam rafting tetapkan akan terasa seru. 

Aku sendiri tidak ambil pusing, arus deras atau tidak. Ini pengalaman pertama, tentu apapun yang terjadi akan berkesan. Dan kami pun terus mendayung, maju mendayung hingga 10 kilometer. Pemandu rafting kami bercerita bahwa  sebagian hamparan Gunung Sumbing terbakar, pernyebabnya cuaca panas. Kata dia sudah jadi fenomena biasa, musim seperti ini terjadi kebakaran lahan di pegunungan tersebut. 




Air sungai menuju hulu deras menabrak batu-batuan sungai yang timbul kepermukaan,  ukuran batunya  besar dan keras tentunya. Tampak juga aliran sungai dangkal, lempengan batu dan air yang deras membuat beberapa jenjang air terjun kecil.

 Pada dataran sungai dangkal, aku melihat batu yang disusun bersilang dan ditumpuk bertingkat. Batuan itu merupakan perangkap ikan tradisional milik masyarakat lokal. Tapi sayang sekali aku tak dapat mengingat istilah masyarakat lokal menyebutkan perangkap tersebut. 

Aktivitas menangkap ikan seperti ini sungguh sangat ramah bagi ekosistem, selain tidak merusak ekosistem air sungai, ini juga tidak membuat terjadinya ekspoitasi masif tangkapan ikan. Pasalnya perangkap ikan seperti ini hanya menjaring ikan dengan ukuran besar. Sehingga ikan-ikan kecil masih dapat tumbuh besar di sungai dan melanjut reproduksi jumlah ikan-ikan. 

Sepanjang susur sungai Elo, aku melihat aktivitas masyarakat yang bersih-bersih. Mulai dari mandi hingga mencuci. Melihat aku yang asyik mengamati, pemandu menyampaikan bahwa masyarakat di sini tidak ada yang mengalirkan pembuangan tinja ke sungai. Semua sudah memiliki wc di rumah, kalau pun ada kakus itu dibuat di daratan. Aku mendengarnya cukup lega. Pasalnya air sungai Elo maksimal terjaganya, tidak tercemar limbah pabrik, aktivitas tambang dan feses manusia. luar biasa.

Mungkin sudah 7 kilometer kami menyusuri sungai, di pertengah jalan sang pemandu mengintruksikan kami  mendayung ke bibir sungai. Ada sebuah pandopo para raftingers beristirahat sejenak. Dalam suasana dingin, emang asyik rasanya mengganjal perut dengan cemilan. 

pada dataran yang cukup tinggi, berdiri tegak tiga pendopo dengan atap rumbia. Di dalamnya terpasanga meja dan kursi panjang. Sudah  terhidang pula rebusan jagung, pisang, juga cemilan tradisional mulai gorengan dan kue basah seperti naga sari misalnya. Tak lupa bundelan kelapa muda yang segarnya luar biasa. 

Tak lama kami mampir di pandopo hanya sekitar 5 menit saja. Lalu melanjutkan perjalanan menuju poin pemberhentian rafting tepat di jembatan selanjutya. Mungkin karena sudah mendekati  hulu sungai arus air sudah tak sederas di tempat sebelumnya. Akhirnya, perlahan-lahan kapal karet kami menepi kembali ke pinggir bibir sungai Elo. Perjalanan rafting akhirnya selesai. 






Komentar

Postingan Populer