Melawat Teman Si Perawat Budaya

 

Jak Pitto mengenakan kupluk. Swafoto bersama sejawat lintas provinsi, dari Sumatera Barat dan Riau, Sabtu 30 September 2023. Dok. Mutia

Melawat teman lama yang datang dari Mentawai, Sumatera Barat. Jak Pitto begitu begitu sapaan karibnya, lelaki dengan perawakan tinggi itu tiba di Jakarta pada Sabtu, 29 September 2023. Dia terbang jauh dari Mentawai sampai ke Ibu Kota untuk melangsungkan exhibition Culture  Mentawai di daerah empunya Monas ini.

 

Jak Pitto merupakan anak dalam Mentawai, dia juga sebagai Si Patiti berarti seorang seniman tato Mentawai. Tentu menjadi Sipatiti pekerjaan bukan hanya pekerjaan, tapi sebuah tanggung jawab bagaimana tato tertua dunia asli dari Indonesia itu tetap eksis. 

 

Makanya melakukan Exibition Tatto Mentawai bertajuk “ Riung Mentawai” adalah cara paling relevan untuk menggaulkan budaya jarah kulit di tengah anak muda, walaupun tato untuk eksis mesti melawan stigma miring di sosial Indonesia. Exibition Tato Mentawai ini berlangsung di Café Kala di Kalijaga, Komplek M Blok, mulai pukul 13.00 Wib hingga 21.00 WIB. Dalam acara tersebut, bukan hanya work shop tato Mentawai, tapi juga ada pameran tato, pemutaran video dokumenter Mentawai, diskusi Ekologis Mentawai dan penampilan musik.

 

Aku datang terlambat ketika Workshop tato Mentawai berlangsung, jadi aku hanya sempat menyaksikan diskusi Ekologis Mentawai yang dibawakan Jurnalis kawakan Mongabay Sapariah Saturi dan juga narsum dari berbagai bidang ekologi sosial yang relevan dan keren tentunya.

 

Diskusi: Transisi Energi seperti Gula-gula

 

Diskusi Ekologis Mentawai di kafe Kala di
Kalijaga, kompleks M Blok, Jakarta Selatan. Sabtu, 30 September 2023. 

Diskusi ekologis Mentawai berangkat dari kabar yang tengah hangat menyelimuti negeri  gelombang laut paling menakjubkan yakni program Mentawai Terang 2045. Di mana untuk membangun listriknya, pemerintah setempat menggunakan pembangkit listrik biomassa. Istilahnya kedengaran keren tapi menurut informasinya pembangunan ini akan di bangun di atas bukaan lahan hutan Mentawai.

 

Sedangkan hutan sendiri merupakan elemen penting, bagian kehidupan budaya sosial dan politik orang Mentawai. Hutan sendiri lebih penting daripada terang menderangnya lampu atau listrik yang dielu-elukan manusia perkotaan untuk Mentawai yang hanya karena tak terang lalu dianggap jauh tertinggal.

 

Ide-ide membawa perubahan yang ditawarkan pemerintah atau kelompok perkotaan ini memang begitu biasanya ditampilkan, seakan heroik, tapi mereka tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan satu kelompok adat malah justru membuat berantakan ruang hidup kelompok adat.

 

Dari diskusi disebutkan wacana pembangunan listrik dengan biomassa misalnya, di buka di atas lahan hutan yang luasnya tentu tidak sedikit, usai lahan dibuka tentu ekosistem hutan ada yang berubah, mulai dari merusaknya unsur tanah, hancurnya tanaman biodiveristas asli hutan Mentawai. Alasanya tentu, program pembangkit listrik akan diiringi dengan penanaman hutan  tanaman energy (HTE).

 

Di lain sisi, pemerintah tiap hadir di tengah masyarakatnya sering membawa bekal yang tidak sesuai dengan apa menu yang dikehendaki rakyatnya. Narasumber diskusi mengatakan dalam konteks energi, konsepsi energi pemerintah ini tidak sama dengan masyarakat adat. Energi tak melulu soal listrik, energi berkamulase komplek bagi masyarakat adat.

Dan Hutan itu sendiri sudah jadi sumber energi bagi masyarakat adat. Tentu kalau dipikir-pikir ada paradok gagasan pemerintah ini, membawa energi baru tapi menghancurkan energi lama. Harusnya gagasan energi baru menguatkan energi lama sehingga jadilah suatu kumpulan kekuatan yang saling sokong, dan itu namanya beneran energi nun sinergi.

Maksud dari kamuflase kompleks itu adalah mulai dari energi pangan, sandang dan spiritual itu sumbernya dari hutan. Mulai dari pangan. Program kesehatan  5 sehat 4 sempurna yang disosialisasikan sampai ke masyarakat adat, merupakan hal yang primitif. Masyarakat adat sendiri sudah lebih jauh lebih maju sebelum konsep yang dielu-elukan paling apik dengan pakem modernismnya. Masyarakat adat memenuhi kampung tengahnya lebih variatif dan kreatif juga akses sumber daya alamnya sangat mudah yakni dari hutan. Hutan adalah supermarketnya masyarakat adat.

Menukil cerita yang disampaikan narasumber dari Lembaga Bantuan Hukum Padang, Ia mengingatkan momentum musibah Gempa dahsyat Padang 2009 silam. Saat terjadi bencana gempa, dalam hitungan jam seluruh harga pangan melojak naik signifikan, sudah tertimpa bencana sulit pula mengakses pangan. Mengapa demikian terjadi karena ketergantungan pada industri dan terbatasnya akses sumber daya. Lantas narsumber tersebut membandingkan kondisinya dengan masyarakat adat yang jauh lebih mandiri dan survive ketika terjadi bencana serupa.

 

Masyarakat adat kata narasumber itu, dapat langsung mendapatkan panganan karena aksesibelnya dengan sumbernya langsung. Jadi Narsum menyimpulkan bahwa masyarakat adat  jauh lebih berdikari.

 

 

Menyoal sandang misalnya rumah. Masyarakat adat dalam membangun rumah tentu sesuai dengan fungsionalnya yakni tempat berlindung. Masyarakat adat membangun rumah hanya mengambil batang pohon tertentu  untuk di tebang lalu dibentuk sesuai kebutuhan. Tidak ada ekspoitasi, semua diambil secukupnya. Masyarakat adat bahkan tidak pernah mengambil keuntungan dari sumber daya alam mereka yang demikian melimpah seperti misalnya menjual batang kayu.

 

Dalam satu hal, menjual batang kayu hanya untuk menutupi kebutuhan material membangun rumah yang tidak bisa didapat di hutan, tapi sekali lagi, tidak ada mekanisme ekploitasi tanaman hutan di sini.

 

Sedangkan kebutuhan  spiritual sepertinya sudah jelas, hutan itu bagian dari elemen keilhaman bagi masyarakat adat mendapatkan ketenganan batin, tentu kembali lagi soal rasa syukur semua hal berlimpah bersumber dari hutan, untuk makan, obatan, rekreasi barangkali semua di hutan. Jadi tidak perlu dipertanyakan. Kemudian dalam konsep spiritual tentu ada yang disebut dengan pratiknya. Jika agama samawi mengajarkan salat, mengunjungi gereja, praktik spiritual masyarakat adat itu dengan menjaga entitas di dalam hutan.  

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer