Berbenah Memang Benar Tapi Mesti Juga Dilakukan Dengan Baik
Sebagian
barang hanya barang, menumpuk, berdebu dan berakhir menjadi sampah material. Tapi
barang bukan sembarang barang, jika di dalamnya ada kesan emosional yang pernah
mengikuti perjalanan barang tersebut sampai di rumah, di ruang tamu bahkan di
kamar. Manusia adalah makhluk paling filososif terhadap banyak hal, semua
hal-hal yang tampak bentuk dapat
diartikan dalam berbagai macam makna, seperti spiritual atau hanya sekadar estetika.
Ketika
pemaknaan barang tersebut sudah di tahap paling dalam, tentu tidak mudah
memusnahkannya dalam radar si pemilik. Selain hasrat visual yang tak terpenuhi,
kenisbian barang tertentu bisa membikin kehampaan pemiliknya.
Hal tersebut coba digambarkan dalam garapan
film Happy Old Year tahu 2019. Film Happy Old Years disutradarai Nawapol
Thamrongrattanarit. Film berdurasi 2 jam menceritakan perjalanan Jean (Chutimon Chuengcharoensukying) seorang
artis desainer interior yang ingin menciptakan tranformasi rumah dengan ruang
baru yang lebih lega dan minimalis seperti idealnya filosofis minimalis.
Kepindahannya
ke Thailand membawa perasaan tak mudah, dengan penampakan rumah yang padat
dengan berbagai barang-barang jadul membuatnya kalut tak tentu. Ia menginginkan
sebuah rumah yang lega, minim barang tak banyak memakan tempat.
Sebuah
konsep berbenah mudah. Kuncinya hanya “membuang”. Dengan prinsip jika memegang
sesuatu (barang) dan tidak merasa gembira, ucapakan terima kasih dan buang ke
tempat sampah.
Dalam
perjalanan mencapai nilai ideal minimalis yang ada di kepalanya, Proses
berbenah itu, Jean mempertaruhkan hal besar yakni kenangan-kenangannya yang menempel
pada tiap barang juga hubungan personalnya.
Ide
Jean tentu tak langsung berjalan mulus. Gagasannya ditolak oleh adiknya bernama
Jay (Thirawat Ngosawang) dan
ibunya (Apasiri Nitibhon).
Namun Jay akhirnya mendukung upaya Jean menciptakan gagasan kakaknya. Tapi ibu Jean adalah sosok yang paling konsisten menolak
ide tersebut.
Jean
berusaha betul bagaimana konsep minimalis itu hadir dalam rumahnya, upayanya itu kentara dari bagaimana ia
menyisir semua barang dan hampir membuang seluruh barang yang ada di dalam rumah.
Termasuk piano jadul di studio reparasi alat musik milik ibunya.
Jean
mengira piano jadul itu hanya seonggok alat musik yang tak berempunya. Ia merasa
layak membuang piano tersebut karena tidak ada yang memainkannya. Tapi Jean
lupa, ada ibunya, manusia filosofis lainnya di rumah yang punya nilai ideal di
kepalanya sendiri memaknai piano jadul tersebut. Bagi ibunya Jean, Piano jadul
tersebut memiliki nilai spiritual bagaimana memelihara rasa cinta kepada suaminya
tak lain bapaknya si Jean. Tapi tentu
Jean tak memprioritaskan nilai ibunya dalam pertimbanganya memusnahkan piano
jadul tersebut.
Setelah kontemplasinya sendiri tanpa diskusi yang apik dengan ibunya. Jean mengambil jalan pintas dengan menjual piano jadul tersebut ke seorang kolektor barang jadul. Ia dibantu adiknya mengakali dengan mengajak ibunya pergi dari rumah sehingga proses pengangkutan piano berjalan mulus.
Konflik
interpersonal muncul di sini. Jean menilai, nilai barang menghilang seiring
pemilik barang menghilang atau tak ada. Tapi ia salah arah. Kesan ini justru
menampilkan Jean sebagai sosok egois karena memaksakan nilai-nilai idealnya
(konsep minimalisnya) terhadap nilai-nilai spiritual orang terdekatnya. Ia mengutamakan
kepentingannya di rumah yang bukan rumahnya. Itu rumah ibunya. Tentu langkah
Jean menjual Piano tersebut sebuah kejahatan tak terperikan.
Jean
mencoba menekankan toleransi kewajarannya membuang barang-barang berharga
miliknya kepada ibunya, sehingga kesannya memaksa dan membuat satu keyakinan
bahwa wajar saja ia menjual piano jadul tersebut.
Konflik lain juga muncul dalam film Happy Old Years
ini. Konflik tersebut digambarkan bagaimana hubungan Jean dan mantan kekasih Aim
(Sunny Suwanmethanont).
Klimaks konflik di sini memang membawa penonton dalam siasat romantisme, tapi
justru terjerebab pada kemunafikan.
Jean
melupakan prinsip berbenah adalah memegang sesuatu (barang) dan tidak merasa
gembira, ucapkan terima kasih dan buang ke tempat sampah. Seharusnya itu juga
berlaku pada barang-barang peninggalan mantan kekasih Jean yang ditemukannya
dalam kontak pandora pembawa petaka.
Jean menemui mantan kekasihnya usai meninggalnya tanpa alasan yang jelas. Jean kembali dengan wajah belas kasih sembari membawa barang-barang peninggalan mantan kekasihnya. Dengan alibi minta maaf atas manuver jahatnya meninggal seornag Aim.
Sebetulnya Jean tak perlu melakukan hal tersebut, biarlah
masa lalu itu tenggelam bersama usangnya barang mantan keaksihnya. Toh,
tujuannya berbenah, membuang hal tak bikin bahagia ke tempat sampah.
Di
sini semakin jelas, Jean orang munafik. Mengikari tahap berbenah di mana tidak
perlu emosional memaknai barang. Tapi ia sengaja mencicipi rasa emosional itu,
lagi dan lagi hingga kesannya memang sengaja minta didulang.
Tanpa Jean sadari,
kehadirannya mengantarkan barang jadul tersebut ke mantan kekasihnya itu menjadi
cambukan bahwa Jean merusak segala hal termasuk mewujudkan konsep minimalis dengan prinsip berbenah tersebut. Ia menjeburkan
dirinya dan orang lain dalam kerumitan setelah orang lain bersusah payah berbenah alias move
on.
Fucek you Jean. Your love
Tika Ayu


Komentar
Posting Komentar