Sesak Jalan Ibu Kota
Sudah 11 bulan aku berada di Jakarta, sebuah ekpektasi
yang tak terkira. Ternyata gadis kampung
ini bisa betah perlaha-lahan di Megapolitan. Dengan kalkulasi 334,584 hari
tinggal di Jakarta, aku sedikit demi sedikit mulai bisa menghapal rute pergi
dan pulang kerja tanpa bantuan Google Maps. Itu sebuah pencapaian yang mesti
dirayakan.
Jujur aku katakan, rute adalah satu faktor yang membuat aku tidak betah di Jakarta. Apalagi
saat hendak pergi liputan. Satu waktu aku pernah menangis di atas motor karena
kesal Google Maps membawa aku kesembarang jalan yang akhirnya membuat aku
mengintari rute yang sama berkali-kali. Mungkin terdengar musyikil, Goggle Maps
dengan teknologi mumpuni menyesatkan pengguna, tapi memang seperti itu adanya.
Bicara soal rute, rute aku pergi dan pulang kerja
adalah rute yang rawan macet. Sebagai warga urban yang tinggal di Jakarta
Selatan, penampakan kemacetan yang mengular adalah sahabat sehari-hari di
perjalanan. Mengingat wilayah ini perbatasan
Tanggerang Selatan dan Bekasi.
Kemacetan terjadi saat pergi kerja, karena jalan utama
adalah rute yang dilakukan masyarakat menuju Jakarta Pusat. Sedangkan ketika
pulang, jalan utama menuju rumahku adalah rute perjalanan pulang masyarakat
Bekasi dan Tanggerang Selatan.
Tapi kunci adalah ingatlah jam-jam rawan macet. Setidaknya
itu solusi kecil di tengah frustasinya kepadatan kendaraan, sedangkan fasilitas jalan tidak media begitujuga
dukungan transportasi umum yang masih kekeurangan armadanya.

Komentar
Posting Komentar