Ya (Wahab) i

Sore itu, sehari menyambut awal Ramadan. Seperti biasa aku pergi ke sekre atas keperluan pengeditan berita lebih tepat nya sih Opini yang pagi tadi baru ku kirim ke milis e-mail redaksi, duduk di depan komputer bersama temanku, yang kebetulan piket editor hari itu, alih-alih mau mengedit tulisan malah tidak jadi, pasalnya aku merasa opini yang aku tulis masih kurang memenuhi standar, akhirnya aku katakan kepada editor untuk mengundur pengeditan tulisanku itu. 

Kami pun masih di tempat yang sama, ngolor-ngidul lihat youtube, bercerita seputar ramadan tahun ini yang tak bisa melihat dapur emak penuh kepulan asap waktu dini hari, karena terpaksa tak pulang kampung, masih ada beberapa matakuliah yang belum selesai SKS nya.  

Setelah berbuih mulut kami ngobrol itu-ini, waktu magrib menggema, angin mulai berdesir, setelan suara pengajian di Mesjid Al-jamiah berhenti sejenak, benang merah yang terkait diantara awan lalu menggelap. "Allahu Akbar-Allahu Akbar, hayya A'la Sholat.. Hayya a'la falah" Gemuruh azan nyaring terdengar di kolong langit. 

Temanku, si Editor. Sore itu lebih gegas geraknya menunaikan ibadah salat, ya walaupun tidak ke mesjid, menurutku tidak apa, semoga ke depannya bisa solat di mesjid berjamaah, amiin. Temanku menegakkan tiga rakaatnya, dan ia sedang bercinta dengan Tuhannya, sedangkan aku masih terduduk di depan komputer  menggerakkan kursor, menyisir setiap sudut layar komputer, dan menekan beberapa kotak- kotak huruf di atas keyboard membuat sedikit kebisingan di sekre. 

Dia hanya men-scroll layar androidnya? Ternyata dia membaca alquran dari sebuah Aplikasi, ku dengar dia membacanya tergesa-gesa. 

Setelah mendengar beberapa saat ia membaca Alquran, dan ia mulai memperbaiki bacaannya, seketika aku terperanjat di sampingnya. "Ya Allah, belum salat. " Lalainya aku pada urusanku sendiri, sibuk dengan urusan orang lain.  

Berlari aku cepat mungkin, tertib melakukan thahara dari najis ringan, seperti yang ku pelajari pada bab awal Fiqih sewaktu di Madrasah Tsanawiyah dulu. Selesai itu aku pun memenuhi rukun islam yang kedua. Waktu magrib yang singkat, tak lama sebenarnya jika hanya menegakkan tiga rakaat wajib, tapi kenapa seringkali  lalai dengan waktu, malas yang berkepanjangan. 

Duduklah aku di tempat semula, di samping temanku yang masih melanjutkan bacaan alquran, kutanyai dirinya "tumben?" Kataku, basa-basi yang tidak penting dan tidak bermanfaat, namun lagi-lagi mulut tak berdentum, rasanya tak sedap. Dengan semangat temanku menjawab "besok sudah Ramadan, one day one juz" tegasnya, sambil memfasihkan bahasa Inggrisnya, slogan anyar di setiap Ramadan, "mantap" Sautku. 

Berniat Mengisi kekosongan, aku ambil androidku, melihat semua media sosial milikku, terfavorit adalah instagram yang satu, di sana aku mengikuti salahsatu hastag yang tertaut pengajian dari ustaz-ustaz yang menurutku terkaji keilmunya soal agama, MasyaAllah. 

Di detik-detik aku mendengarkan potongan ceramah yang tidak genap 1 menit,  lebih tepatnya 59 detik seputar Ramadan di sana,  bagaimana tidak terkejutnya aku tapi juga ingin tertawa, ketika seorang temanku, bertanya "Tik, kamu wahabi?" Aku diam beberapa saat, sambik menyeringai linglung bukan kepayang, kubertanya kembali pada temanku "Emang wahabi itu apa?" Tak lama dia pun menjawab "pengikutnya Muhammad bin Abdul Wahab. "

Jika ini terjadi lagi, aku harus mengakui bahwa saya memang Wahabi. Bukan soal saya pengikutnya Muhammad bin Abdul Wahab, tapi karena Allah yang Wahab, Wahabkan ada di Asmaul Husna, jadi kalau hambanya Allah disebut Wahabi. 

Lagian pertanyaan seperti itu agak rancu, kenapa? Pasalnya umat islam semua ini termasuk yang disebut-sebut Wahabi itu kan, bersaksi atas keimanannya seperti syariat islam "aku bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad bin Abdul Wahab Muhammad utusan Allah" Menurutku tidak ada yang salah dengan Wahabi, semua ajarannya sesuai dengan Alquran dan Sunnah. 

Aku pun bukan manusia yang baik, ilmu  Ku pun masih secuil, tak berani berkata banyak tentang hal ini, makanya aku belajar karena aku tau atas ketidaktauan ku, bukan aku belajar karena orang yang sempat aku sukai yang juga Wahabi.

Semoga sekat-sekat seperti ini tidak lagi jadi momok ya ukhti WA Akhi, barakallahu fikum

Komentar

Postingan Populer