Air Terjun Lubuk Nginio Bangkok Punya Nih!!!
Dan akhirnya kami dapat pergi ke wisata alam Lubuk Nginio di Kecamatan Kuok, Bangkinang. Untuk dapat ke sana kami terlebih dahulu, menghabiskan waktu kurang-lebih 2 jam perjalanan di mobil, kemudian memasuki simpang daerah pemukiman warga yang tak jauh dari jalan raya. Untuk kontur jalannya tanah kuning yang landai dan sedikit menukik tapi masih dapat diakses dengan mobil. Setengah perjalan kami menuju wisata lubuk Nginio ini memaksa kami untuk berjalan kaki, karena terbatas akses kendaraan serta jalan setapak.
Kami terhenti disebuah aliran anak sungai dangkal, sebelum masuk lebih dalam kami berswafoto terlebih dahulu, sebagai start perjalanan.
Di sungai ini aku beberapa kali mencuci kakiku, karena risih dengan pasir-pasir sungai, mulanya sampai di aliran sungai ini aku benar-benar senang sekali ya karena jarang melihat air jernih yang mengalir. Jalanlah kami melewati belantara rumput yang tingginya melebihi tinggi badanku, serta pohon-pohon karet yang menjulang ke atas, yang di setiap sisi bawahnya terdapat tumpukan getah karet yang ditampung dalam wadah kecil.
Jalan yang setapak tadi ada yang menukik, dan menurun. Saat sampai di tengah perjalanan aku kembali merasa sedikit risih dan ada rasa gatal yang terselip di dekat mata kaki ku, jujur ketika mengetahui apa yang menempel di kaki kanan ku benar-benar membuatku panik sekaligus tertawa geli, hari itu aku menggunakan sendal yang bertali krep, ku tarik tali-tali sendal ku perlahan-lahan. Dari kejauhan ku kira itu daun kering yang terjepit, tapi aku heran setengah mati kenapa mereka mengkilap?! eh ternyata dua ekor pacet menempel dan asik menyedot darah manisku, dan satu pacet lagi terselip diantara jari kaki tengah dan manisku, dia mengeliat mencari pori-pori sumber penghasil sel darah merah, memang dia tau ya jari Fuck cocok untuknya. Kurang ajar.
Its my first time cuk, serius ini pengalaman pertama jaringan epidermis kulitku di cokot pacet, aku udah girapan eh yang lainnya tegap di sana malah ngeliatin. Untunglah ada Teh Wiwin Sunarti si Wibu akut, sigap dia cari batang kayu. Dia coba berkali-kali menggesek tubuh-tubuh kecil hitam itu, namun usahanya hanya dapat melepas satu, eh yang satu lagi masih nyantai menyedot darah ku yang manis ini. Terimakasih buat Hendrik yang dengan cepat berkolaborasi dengan wiwin untuk melepas pacet yang satu lagi.
Perjalanan pun di lanjutkan, sepanjang perjalanan aku hanya dapat melihat pohon-pohon karet dan beberapa tumbuhan liar sejenis pakis haji di setiap bibir jalan. Kurang lebih 1 jam lamanya waktu jalan kaki. Akhirnya sampai juga kami di Air terjun Lubuk Nginio Kuok.
Air terjun nginio terbagi dua terjun, terjun pertama berada di atas tapi tidak dengan tebing yang tinggi, terjun yang satu lagi berada di bawah dengan tebing yang lumayan tinggi, nah kalau mau dengan kedalaman aku sarankan untuk di tebing yang tinggi, karena sensasinya wiiih serulah. Buat kalian yang tidak bisa berenang lebih baik di tebing atas karena kedalamannya hanya sekira setengah meter.
Sekedar mengingatkan karena wisata alama air terjun Lubuk Nginio ini masih jarang di datangi orang, kalian harus berhati-hati karena kondisi bebatuan di sana hampir semua dilapisi oleh lumut, makanya permukaannya licin. Waktu kami sudah sampai di sana, pengunjung yang baru tiba beberapa kali kami lihat ada yang terpeleset sampai ada yang terbanting. Hati-hati ya.🌎

Komentar
Posting Komentar