Memang Politikus
Beberapa waktu lalu, ibuku sibuk mengangkat beberapa piring kaca dan kembali ke dapur mengangkat sebuah baskom kaca yang saat itu, kalau tidak salah berisi sayur pucuk ubi santan, dan tidak lupa selepek ikan nila goreng disambal ijo.
Kebetulan sore itu, aku benar-benar baru selesai mandi dan belum melaksanakan salat. Makanya aku tidak bisa membantu ibu menyiapkan makan malam bersama.
Aku adalah anak muda, yang tidak terbiasa makan dengan jadwal, ketika sudah sampai di kampung kebiasaanku itu sedikit mengalami pemaksaan untuk adaptasi. Aku rasa makan yang berpatokan pada jam, karena kontinuitas terus, makan terasai jadi membosankan. Entahlah.
Lalu seperti biasanya, bapak ku bersantap malam sambil menyetel siaran pemberitaan favoritnya, apalagi kalau bukan TVONE. Mungkin di luaran sana bapak-bapak lainnya juga melakukan hal yang demikian serupa, memantau perpolitikan yang dilakukan oleh elit politik yang kemudian disiarkan oleh media. FYI, tahun 2019 melalui survei beberapa waktu lalu, TVONE menjadi stasiun dengan tingkat kepercayaan tertinggi dari penonton.
Dari layar 13 inchi televisiku, muncul gambar seorang reporter wanita, terlihat duduk di atas sofa merah dengan tegas dan air mukanya yang kentara sangat bersemangat mengabarkan perbincangan hangat saat itu, ia mengabarkan bahwa salahsatu partai politik ternama, yang pernah memegang kendali Pemerintahan Indonesia selama dua periode lamanya, mulai berbalik arah politiknya.
Dari informasi yang aku dapatkan, parpol tersebut katanya bubar barisan. Maksudku sebelumnya parpol tersebut tergabung dalam Koalisi Oposisi, mungkin karena gonjang-ganjing dunia politik, atau karena takut kebijakan yang dibuat partainya nanti tak ditanggapi pemerintah atau bahasa Medannya gak diterge, makanya mereka melipir ke Koalisi pertahanan.
Tapi bagi bapakku, itu sebuah pengkhianatan. Dia geram melihat tingkah parpol tersebut, katanya "kok kayak gitu?"geramnya sambil melalap nasi di depannya. Akhir tahun 2018 bapakku lebih konsisten memantau politik dari pemberitaan Tv daripada tahun-tahun sebelumnya, mungkin rasa kecewa bapak terhadap pilihannya lalu, membesut untuk tidak sampai salah pilih lagi.
Untuk sekala bapakku yang tidak sampai mengenyam pendidikan tinggi, wajar bila tak mengerti komunikasi politik, semua yang dilakukan elit politik atas dasar membutuhkan dan kesepakatan. Bukan rahasia lagi jika hal seperti itu terjadi, itu adalah hal yang lumrah dalam perpolitikan. Supaya mereka tetap dalam bertahan dalam Parlemen pemerintahan, jika seorang dalam dunia politik berpegang teguh dalam kesetiaan, kemungkinan besar ia yang akan ditinggalkan. Ambisi adalah politik, politik adalah sebuah tujuan, tujuan harus ada ambisi, yang menurutku tak sekonsep bapakku.
Ku coba menerangkan pada bapak, " Itu hal yang biasa pak, gak usah emosi. Udah jadi resolusi setiap tahun politik pak," kataku dangkal.
Dari tayangan TV oleh sekertaris partai tersebut, mereka mengatakan tidak ada niatan lain, tujuan mereka hanya menjalin silahturahmi pasca pekan politik yang memanas. Bagiku itu sangat positif, dan hal demikian pun ku sampaikan pada bapak. Tapi tidak serta merta penonton percaya termasuk aku dan bapakku. Karena ada meme yang satire menggambarkan politik yang mengatakan "Saya Politikus tapi saya Jujur dan Setia, lalu Saya PSK tapi saya perawan, " Bagaimana menurutmu?

Komentar
Posting Komentar