'Kontestasi' Move On dong!!

Pasca kontestasi politik terselenggarakan beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang yang memiliki pilihan politik, terbagi atas dua kubu yang menurutku terkadang terlalu fanatik, dan beberapa sangat vocal sekali dalam menjujung idola politiknya itu, terutama di media sosial, bahkan tak jarang mereka menyampaikan keburukan-keburukan dari lawan politik idolanya. 

Terkadang yang buat aku geli sama para fans paslon Pilpres ini, kalau ada diantara mereka yang sedang update status di facebooknya, baru lima menit upload kolom komentar sudah dipadati oleh fans kubu sebelah, lah lah lah niat benar. 

Kadang bukan hal yang tabu lagi fan dari masing-masing kubu kalau upload tentang paslon pilihannya, gak tanggung-tanggung promosikannya bahkan bisa mengalahkan Anggota Kemenangan Nasional, hebat kan?!

Ist boleh gak ya membandingkan  Anggota Kemenangan Nasional dengan fans, soalnya kan profesionalitas ada di sana? Atau itukah bentuk profesionalitas dari Anggota Kemenangan Nasional, membuat fans cinta mati kepada paslon pilihannya? Entahlah, akupun bertanya.

Jadi aku mau cerita sedikit tentang pengalamanku baru-baru ini, yang menurutku sedikit ambigu. Di siang hari, saat itu tak ada lagi memiliki persediaan jilbab masuk, karena aku harus pergi ke rumah kakak pertama ku segera, yang terlihat di atas kasur hanya ada pasmina atau dikenal jilbab lilit jadi aku pakai itu. Karena pemakaiannya harus dililit-lilit, aku butuh semacam gros jilbab, yang mirip sekali dengan simbol salah satu Partai Politik (Parpol) dari salah satu Paslon.
  
Awalnya aku sudah menduga, dan membayang aku pakai ini akan jadi seperti apa nantinya. Tak lama tibalah aku di rumah kakak pertama, saat itu kakak pertama melihat aku pakai gros tersebut dan dia bangganya minta ampun. Ditanya "kamu pilih itu,?" Kujawab "aku Golput, HAHAHA" senangnya hatiku.  

Bagus sekali, ku jawab seperti itu. Kalau saja ku bilang aku pilih kubu sebelah, pasti ada diskusi semu, wek.

Nah, pelajaran yang aku dapat adalah bahwa impact dari kontestasi politik dari awal pengajuan nama siapa yang jadi bakal Paslon sampai penghitungan suara yang masih mangkir di Mahkamah Konstitusi (MK) karena ada dugaan kecurangan penghitungan suara. Pada tingkat dasar di elemen masyarakat polarisasi kerap terjadi, dan sepertinya ini butuh waktu yang lama untuk dapat move on dari Paslon Pilihan. 

Melihat bentuk polarisasi yang terjadi tadi,  sederhana.  Hanya sebuah gros jilbab yang bicara, padahal bentuknya sama dengan simbol negara.  Namun lagi-lagi Simbol yang bicara. 

Komentar

Postingan Populer