2020 lebih baiq

Bagaimana 2020? 
Kalau pertanyaan itu kalian campakkan ke muka tentu aku tak akan mengusap atau mengelapnya dengan kain perca, atau tisu sekalipun. Karena aku tidak akan melakukan apa-apa. Lagi pula siapa yang tahu esok terjadi apa. Huhu. masih ada 359 hari lagi yang harus siap dihadapi (walau kadang gentar sih) hidup di dunia yang fana ini. 
Rasanya baru saja kemarin aku kerap salah menulis tahun 2019 masih mengira di 2018 karena masih takjub tak percaya waktu abis dari detik, menit berlaju jam dan berganti hari. Dan hanya ada 12 bulan, tahun ini aku jamin dalam hidupku akan ada 13 bulan. Satu bulan adalah wajahmu, eak. Itu adalah gombalan bangsat yang sungguh tak bermanfaat. Semalam sore aku dan dua temanku berkunjung ke bandara, bukan untuk check in liburan hanya menemani sepasang alumni organisasi yang akan pindah ke ibukota, maksudku bakal ibukota lama bagi Indonesia. Karena segera Ibukota Indonesia di pindahkan ke Kalimantan, right? Jadwal penerbangan mereka kalau tidak salah sekitar pukul 19.30 WIB cuma dari informasi temanku mereka akan segera ke Bandara 2 jam sebelum keberangkatan karena melihat kondisi jalanan menjelang pergantian tahun, dan karena itu pula kami (adik di organisasi) lebih awal pula sampai ke bandara. 
Betapa tidak terkejutnya kami (atau mungkin hanya aku saja) melihat wajah baru bandara semata wayang di Riau ini, jadi lebih terlihat futuristik dan modern hanya perlu sedikit perbaikan dan penataan gerai-gerai kecil di dekat pintu masuk. 
Karena sudah sampai di bandara lebih awal kami betiga akhirnya duduk di kursi sebaris permanen di lobby self check in, di sana kami duduk dengan jarak yang lumayan berjauhan, padahal tidak ada masalah satu sama lain untuk sesaat kami seperti orang yang tidak saling mengenal. Aku yang posisi duduknya paling ujung hanya menggetarkan kaki tidak tenang seperti orang kecanduan marijuana seperti yang biasa di gambarkan TV (walaupun aku tidak tahu seperti apa gambaran paniknya seorang pecandu) aku memang berniat tidak memainkan telpon genggamku untuk sesaat, aku masih mengamati transformasi bandara ini. Masih saja temanku bergemul dengan gawainya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. 
Akhirnya aku dan teman perempuanku memutuskan melihat-lihat ruang lain di sini, karena sungguh ini terasa asing, bagaikan di bandara luar kota. Bagian lain dari bendara ini terdapat standbot kecil menjual makanan, di sana aku dan temanku membeli makanan dan minuman, tentu hanya untuk menyicip bagaimana rasanya. Aku dan temanku itu kembali di kursi permanent itu dan menghampiri temanku lelaki yang terpaku dengan layarnya gawainya. Kami mulai pembicaraan jam berapa sekarang, kenapa begitu lama, emng jam berapa berangkatnya? seperti itulah kira-kira. Hingga akhirnya timbul pernyataan wah orang ini akan pindah, ke luar kota. Bagaimana ya hidup besok di masa depan. 
Saat itu kami saling melempar dugaan dan mulai betanya-tanya seperti apa kehidupan yang akan datang, apakah kami masih tetap sama? kami berkhayal kehidupan berpencar, kami saling berkelana ada yang melepaskan ada yang menantikan tentunya dengan harapan hidup yang lebih baik dari saat ini. Hingga teman perempuanku yng bernama Laila mengatakan Bandara itu tempatnya orang bertemu dan berpisah, dan seketika terpantri soal pelabuhan di benakku, kukatakan jangan lupakan pelabuhan karena ia tempat berpaut dan tenggelam. Waktu yang bersamaan tawa kami berdua pecah. 
Temanku lelaki yang bernama Bagus mulai terbawa arus pembicaraan, walau awalnya dia hanya bertanya kok lama sekali aku sudah tidak tahan di sini, suhunya dingin. Mendengar itu kami berdua makin pecah lagi ketawanya. Setelah itu kami mulai senyap lagi, arus pembicaraan memang seperti itu gampang dan terbahak. 
Untuk waktu sesaat aku berkhayal Orang hidup di dunia ini pasti punya gambaran hidup seperti apa ya, ya ya terawang-terawang belajar dari kehidupan orang-orang sekitar. Seperti misalnya dia berkerja keras besok ia akan kaya, gitu biasanya orang mengira. Kemudian ada yang berusaha keras maka ia akan sukses misalnya. Tapi semua itu tidak sepenuhnya benar, aku hanya seorang pemikir amatiran. 
Aku diam-diam Mengkhayalkan kedua temanku sukses, Laila dengan program dietnya ketika kami berjumpa di bandara sudah dengan tampilan yang berbeda dan cukup buat aku pangling, menjadi seorang pimred majalah kecantikan di kota besar dan Bagus dengan kemampuan menulisnya bekerja di media arus utama masih dengan gayanya yang berantakan (bagi sebagian orang, karena rambut panjangnya. Karena itu juga ia tidak diterima kerja part-time). Tapi siapa peduli dengan tampilan. Laila tetap bisa jadi Pimred majalah kecantikan  masih sama seperti sekarang untuk masa yang akan datang dan Bagus bisa saja menjadi bagian penting di media arus utama meski gayanya berantakan. Aku kira orang-orang saja yang masih sulit menerima perbedaan, maunya semua seragam. Hem. Bagaiman denganku? sama sekali aku tidak bisa membayangkan hal itu. Penghujung tahun 2019 aku membuat video singkat bersama mereka, aku sampaikan kepada mereka jika sukses jangan sombong jangan lupakan aku. 

Komentar

Postingan Populer