Semakin Hari Semakin Jadi Melakon di Syair Kera

Sudah sekitar seminggu yang diselang-seling aku mengikuti latihan teatrikal Syair Kera karya Tenas Effendi yang disutradarai Om Willy, bersama rekan-rekan yang lain dari berbagai universitas dan sekolah kejuruan. Dan beberapa rekan-rekan yang aku ketahui sebagian sudah menjadi anggota Syair Kera sedang beberapa dari kami hanya sebagai volunteer pelaksanaan Teatrikal ini, Posternya sendiri telah dibuat dan terhitung mulai dari hari ini waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa hari.

Tanggal 29 Januari mendatang pementasan akan dilakukan di Halaman Gedung Gubernur Riau, selain dihadiri oleh Gubernurnya Riau sendiri juga akan dihadiri oleh pemuka adat Melayu di Negeri Lancang kuning ini.

Untuk latihan teater ini sendiri, memang sih agak canggung rasanya pertama kali melakonkan seekor kera yang ceritanya mengamuk kepada manusia akan kerusakan-kerusak yang terjadi di Rimba, di awal latihan dan dua tiga kali latihan rasanya Si Kera itu benar-benar belum terasa, jadi setiap kali masuk kepada peran Si Kera, aku dan teman-temanku kerap tertawa. Namun Semakin sering interaksi dan berlatih ternyata rasa menjadi kera itu mengenai sekali ke hati. Apalagi kalau latihan itu ditambah dengan senandung Syair yang diselipkan pada beberapa percakapan antar tokoh binatang di dalamnya, duh perasaan hati benar-benar tidak bisa ditipu.

Selain itu, karena hampir semua volunteer yang terlibat dalam teatrikal Syair Kera ini baru memiliki pengalaman pertama berlakon, banyak yang mesti diperbaiki mulai dari Blocking, pola suara, sampai pemaknaan syair-syair yang dilakonkan. Kalau aku sendiri sering kesulitan saat bagian mengingat bait pertama syair, hingga sampai saat ini aku mesti menunggu klue yang dikatakan teman-teman yang lainnya, tapi serius deh aku akan usahakan buat dapat memahami setiap bait-bait syairnya, karena menurutku ini pengalaman pertama mestilah punya penampilan yang bisa diingatkan pastinya lumayan membanggakan, benar tidak?! Sudah pasti iya.

Akhir-akhir ini pula aku sering tak tepat waktu, alias santuy. Memang sebenarnya aku tahu jarak dari indekos ke MTQ itu enggak dekat tapi aku berangkatnya lama-lama jadinya telat, duh. Kadang malu sih kalau udah sampai ke tempat latihan teman-teman yang lain sudah pada siap-siap pemanasan, sedangkan aku baru sampai hahah.. Sampai tadi sore ada temanku bertanya, “Rumahnya di mana kk?! Jauh ya sampai satu jam an?”, terus aku bilang aja memang iya, soalnya macet di sana awowkwk, tapi serius loh kalau di Panam. Itu jam-jam pulang kerja itu macet banget, sudah macam replikanya Stasiun Blok M Jakarta.

Kami rehat setiap abis latihan itu udah pasti, terus sama Lagi Swadaya Masyarakat (LSM) Jikalaahari kami dibawain cemilan donat setiap sore sungguh nikmat yang hqq, pas bangetlah perut lagi lapar-laparnya.

Oh ya khusus latihan hari ini kami semua pelakon Syair Kera bersama-sama duduk manis setelah pelaksanaan salat magrib di Pelataran Sekrenya Komunitas Syair Kera nonton film Ape (itu loh yang Film monyet-monyet) tapi ini Film yang keduanya, gimana rasanya? Ya seru bangetlah, walaupun aku udah pernah nonton itu beberapa semester belakang, cuma kan situasi dan keadaannya sudah beda. Yang buat nobar ini beda adalah semuanya yang nonton itu belajar bagaimana berlakon menjadi segerombolan atau seekor kera dengan baik.

Aku kira ceritanya sampai segitu dulu cukup kali ya,, sampai jumpa kembali di cerita yang lain.

Komentar

  1. Aduh, jadi penasaran sama Kera cantik yang satu ini, hehehehe . . .

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer