Nama Isyaratku Sudah Ada Mulai Hari Ini

Jika minggu lalu ke komunitas tuli aku ditemani oleh teman se organisasiku seperti Azizah, minggu ini aku pergi bersama teman se kosku, Syuhada, bukan hal yang pelik sebenarnya untuk pergi seorang diri, lagi pula aku sudah memiliki kendaraan pribadi, maksudku pinjam kendaraan. Pergi ditemani agaknya membantu aku dari kulupan rasa khawatir, karena sebenarnya was-was akan tersesat merentet di belakangku tiap kali hendak berpergian jauh, sebenarnya jarak tempuhnya hanya sekitar 40 menit tergantung pada kondisi dan situasi perjalanan dan kecepatan laju kendaraan. Dan juga motivasi pergi bersama temanku juga dilatarbelakangi supaya dapat berkunjung ke sebuah taman bunga di Rumbai, Okura biasanya orang menyebutnya. Dan terhitung, ini sudah kali keduanya aku gagal untuk sampai ke sana, dan aku sudah memiliki rencana sederhana soal apa yang nantinya akan aku lakukan di sana; rencanaku akan memvideokan keindahan taman-taman bunga di sana, untuk video singkatku di Instagram.
Ketika kelas Bisindo telah selesai, langit begitu mendung, dan rintik hujan begitu menjanjikan turun deras. Dan temanku tak yakin untuk kami tetap melanjutkan rencana ya sejauh perjalanan telah kami rencanakan. 


Dan beginilah ceritaku,

yeey ini sudah masuk minggu kedua aku ngikutin kelas bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) di Komunitas Tuli Lancang Kuning (kutilang) di jalan Berdikari, Rumbai (Minggu, 12 Januari). Pelajaran Bisindo kali ini soal warna dan buah-buahan, bagaimana caranya bertanya soal buah mulai dari warnanya, cara makannya, dan bagaimana respon tidak suka terhadap buah dan warna. Mungkin bagi sebagian pembaca pelajaran seperti di atas terkesan mudah sekali dan sedikit membosankan, tapi jika pembaca bisa terlibat dalam aktivitas di Kutilang, aku jamin rasa bosan yang menyeruak takkan pernah menyergap. Untuk awalnya, mungkin iya, karena selama proses belajar Bisindo ada hal yang sedikit tidak biasa. diawal pertemuan, mentor kami Zakka memberi tahu terlebih dahulu hal-hal yang tidak boleh kami lakukan, dan salah satunya adalah "Berbicara". Walaupun kami bisa saling berbicara dengan teman-teman lain, usaha pencegahan (cieelah macam demoin demam berdarah) berkomunikasi verbal diusahakan dilakukan seminim-minimnya, supaya implementasi bahasa isyarat terus teperbaharui. Misalnya saat berkomunikasi ingin bertanya soal "pulang naik apa?", mungkin secara verbal kita sudah tahu bagaimana pelafalan, lalu bagaimana isyaratnya?! maka tanya saja dengan mentor atau teman tuli yang ada di sana. Jadi selama kelas berlangsung dan akan berakhir banyak hal yang akan diadopsi yang dipraktikkan untuk hari selanjutnya, tak melulu pembelajaran hanya berkutat soalan bab pelajaran hari itu, tanyakan saja banyak hal. 
Selain belajar isyarat warna dan buah di Minggu ini, di penghujung pertemuan seluruh peserta tidak seperti pertemuan pertama, selesai kelas langsung berhamburan balik ke habitat dari penghujung Rumbai sampai ke penghujung Rimbo Panjang, ya seperti aku salah satunya, kerena hampir seluruh peserta belajar Bisindo bermukim jauh dari radar Rumbai. Sebut sajalah kami ini musafir. Pertemuan kali ini kami agak berlama-lama melingkar dan banyak bertanya soal ini-itu, yang pasti bukan soal peruntungan cinta dong ya, lah mungkin kali mentornya juga ambyaarr, ra mashook...Haha. 

Di sinilah mulai muncul kekoplakanku, serius deh. wong aku belajar isyarat tanganya medot-medot gak jelas cuma buat pusing yang ngeliat. Terus temanku nyamperin bilang samaku, santuy oyy. 
Haha,,, kudu rilex yo bruuh. Belajar yo belajar isyarat, tapi juga gak serampangan kali, huwuwu. Jadi biasanya orang punya nama panggilan isyarat diambil dari ciri khas atau hobinya, atau apalah sesuatu hal yang buat dia bisa dengan mudah diingat. Kemudian satu per satu dari kami ditanyai soal nama dan hobi, semua bergilir dan kini bagianku, mentor kami bertanya namaku dan apa hobiku, yo ngasal sebut hobi saya membaca dan tak teringat hobi lain, dan satu isyarat abjad aku lakukan menjelaskan apa hobi lainku, dan aku salut kepada @nissa dapat mengerti bahwa isyarat yang kulakukan siang itu adalah "bacot" (banyak cocot) hem...
baiklah semuanya pun dirangkum, sepertinya nama "Tika" dan isyarat "Baca" tidak memiliki relevansi yang menareeq, dan akhirnya mentorku, membuat panggilan isyaratku seperri cirkhasku menggunakan kacamata dengan sedikit embel-embel isyarat "T"  di American Sign Lengague (ASL) itupun kalau aku tidak salah ingat,, hihi.. Dan kali ini aku semakin senang, aku sudah sah memiliki nama isyarat hari ini, *Apakah perlu masak bubur putih dan merah untuk merayakannya, gaes?! atau perlu sedikit "Orang Tua" untuk pengesahannya?! 

Komentar

Postingan Populer