Gempalnya Angan Bukan untuk Dikenang-kenang

Saya akhirnya memendam dalam-dalam keinginan saya, bukan cuma satu tapi beberapa keinginan saya. Baiklah mari kita mulai dari yang pertama, dulu waktu saya masih duduk di semester 4 saya begitu menggebu-gebu benar ingin magang di media nasional seperti Tempo.co tapi ketika saya sudah di saat yang pas dalam waktu dekat maksudku akan menghadapi dunia permagangan tapi malah saya menutup mata dan harapan, tentu saja ini bukan keputusan yang satu malam sudah jadi dan siap disajikan. Jauh-jauh hari dan banyak pertimbangan sepertinya saya memang belum layak untuk magang di media kenamaan sekelas Tempo, atau bahkan bisa jadi media daerah lokal juga tidak membutuhkan manusia seperti saya ini, sungguh sadar saya mengetik utasan ini. 

Beberapa minggu lalu, saat semua teman-teman redaktur di organisasi yang saya ikuti masih menikmati santainya waktu libur semester dan hal itu membuat dapur redaksi kekosongan piket editor, namun seperti biasa teman-teman tetap berusaha mengirim tulisannya ke email redaksi, dan kebetulan pula karena saya tidak balik kampung saya punya waktu untuk membantu edit tulisan teman-teman. Waktu berjalan beberapa tulisan aman tanpa ada kesalahan, walaupun sempat beberapa kali mengulang editing ulang, karena beberapa printilan informasi dan editing collap ada yang ketinggalan. Hingga tiba saatnya, editing berita yang saya buat mengalami kesalahan, dan menuai komentar dari pembaca, entah kenapa pula momentnya pimpinan redaksi di saat bersamaan berada di dapur redaksi menegur kalau ini ada kesalahan. 

Ya Allah disitu rasanya saya malu sekali. Memang kesalahannya itu bukan soalan serius tapi satu kesalahan informasi sudah berbeda arti jika sudah sampai pada pembaca media. Dan juga beberapa waktu sebelum kejadian ini, seorang temanku yang tentu saja sudah menyelesaikan pendidikan kini bekerja di media pemberitaan online bercerita "betapa kerennya si A dengan tulisannya itu" terus menyinggung kegiatan yang pernah saya dan si A ikuti, terus berkata "cuma tulisan dia yang naikk ya" di situ aku ngerasa "oh god i'm nothing" sungguh sih momen itu bisa jadi dua bilah yang mari kita simpulkan 'ngeri-ngeri sedap' pasalnya di satu sisi bisa saya tanggapin positif "wah karena dia aku harus memotivasi diriku lagi, belajar belajar lagi, jangan sampai bosan" tapi di sisi lain aku ngerasa "Wah Im nothing bruh" di saat itu juga aku jadi trigger "aduh aku jauh ketinggalan banget dari Si A" pada hal tanpa aku sadari mungkin usahanya Si A lebih empowering dari pada saya, dan saya secara tidak sadar melupakan usaha-usaha yang sudah saya lakukan sebelumnya. And finally, saya jadi selalu membandingkan diri saya dengan orang-orang di sekitar saya atas ketidakbisaan yang sama dengan orang yang saya lihat. Karena sesungguhnya ini menjadi beban saya akhir-akhir ini dan aku kira menuliskannya agaknya membantu meringankan beban hati, dan juga saya tidak terlalu khawatir sih karena tulisan ini hanya akan dibaca oleh pembaca yang. Satu. Nyasar. Dua, cuma kepo. Tiga, memang pingin tahu seperti apa tulisan saya sejauh ini.

Lalu keinginan kedua saya yang jauh-jauh saya pendam adalah kembali ke rumah waktu liburan semester ini. Sekarang kalender akademik di kampusku masih menyisakan beberapa minggu untuk menikmati libur semester genap, dan sekarang saya sudah berada di semester enam yang..... tentu saja saya belum nampak seperti apa kedepannya. Tapi beralih dari itu, beberapa waktu lalu sebelumnya waktu liburan masih bisa punya rencana panjang untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga, dengan niat baik saya menelpon bapak saya di rumah, tentu dengan percakapan yang tak semesra ibu dan anak, karena memang bapak saya bukan terlalu suka berbasa-basi soal obrolan.

 Di tengah obrolan yang setengah itu beliau mengatakan langsung "kamu liburan, gak usah pulang saja", saya terpelongo mendengar itu, walaupun awalnya memang saya ada niat mengundur waktu saya pulang, harap dikutip ya "mengundur" bukan berarti "tidak pulang", jadi karena sudah kadung bapak saya melontarkan kalimat tersebut saya benar-benar mengurung niat untuk tidak balik kampung melihat-lihat siapa gitu ya~~

Mengambang saya bersama kalimat yang diucapkan bapak saya, saya bingung sebenarnya dengan itu, setiap sesuatu yang dihadapkan pada saya selalu saja dibarengi "Coba pikir nilai positif dan nilai negatifnya apa?!" sumpaya saya tidak kehabisan pikir, tangkalku waktu itu. Hingga akhirnya tersimpul lah positifnya "Oh mungkin bapak saya yakin, saya bisa survive di kota ini dan percaya dengan saya, bla~~bla~~", tapi gak berhenti sampai di situ, pikiran negatif juga menyimbangi otak saya yang masih segar karena jarang dibuat mikir "apakah segitunya saya, hingga saya tidak layak dirindui, Uwuwu~~" memang terdengar menyedihkan jika kenyataan negatifnya lebih dominan, saya loh melihat teman-teman perempuan saya, yang setiap minggu balik ke rumah saja bentar-bentar sudah ditanyai bapaknya kapan pulang, lah saya tidak pula demikian. 

Mandiri-mandiri gini saya juga pengin dimanjain bapak saya, huhu~~. Sampai di minggu yang lain, bulan sudah berganti, bapak saya kembali menelpon bertanya soal kuliah, dan tentu saja saya menjawab masih liburan pak, beliau agak syak kedengaran dari sinyal suaranya, "memangnya berapa lama liburnya" beliau bertanya, kujawab dua bulan pak. Apa yang saya harapkan coba dari jawaban saya, saya kira bapak saya akan bertanya " ya sudah balik lah sini, kan libur masih panjang" ternyata saya salah duga, lah Si Bapak bertanya " Gak jadi Kerja?!" huhu~~ aku qudu piye. Jadi Aku kira, Bapak saya sebenarnya merindui saya hanya saja beliau itu malu untuk mengatakan perasaannya. Tapi yasudahlah semoga saja saya selalu sehat, nanti kalau ada waktu lagi saya bakalan pulang sendiri tanpa harus minta dan bertanya bapak saya, apakata saya harus pulang atau tidak. Semua keputusan mutlak pada saya sendiri (yang penting ada ongkos perginya sih hihi).

Dan yang terakhir ini serunyam-runyam perasaan saya, padahal sebelumnya perasaan ini begitu positif buat saya, jika boleh jujur saya katakan saya jadi semakin rajin mengikuti diskusi, membaca, berpikir kadang dan serius soal isu-isu hangat.

 Ya tentu saja semuanya saya lakukan supaya jika nanti ada kesempatan ngobrol, obrolan kami tentu tidak sekering indomie yang digoreng, bukan mie goreng ya beda lagii~~, nah waktu berjalan, perasaan saya makin gak karuan dan Doi itu pun terkesan "biasa" saja kalau boleh saya katakan, beberapa waktu lalu saya menyisakan waktu membuat semacam cenderamata buat Doi itu, memang kalau dinominalkan tidak berharga, tapi bisakah Si Doi itu melihat sisi yang lain gitu, saya sudah menunggu sejak Juni 2019 hanya supaya bisa menyampaikan 'Hadiah yang gak seberapa' ini, tapi waktu selalu punya cara buat kasih jarak yang gak tepat, kami terus berhalangan jumpa karena kesibukan masing-masing. di Bulan Agustus kemarin saya sempat berpikir sepertinya lebih baik saya berhenti dan saya juga pernah nulis dan kejadian akhirnya bakalan seperti ini, dan ternyata bergulirnya waktu, waktulah yang menjawab semuanya. Semua ketakutan saya menjadi begitu nyata.

 


Komentar

Postingan Populer