Terima Kenyataan dan Berlapang Dadalah

  • foto: Tika


"Tidak ada yang bisa kembali ke masa lalu, terlalu banyak orang yang merindukan masa lalu padahal tidak ada bedanya". Seperti itulah potongan percakapan tokoh " Aku" di novela "Arapaima" torehan Ruhaeni Intan. Penggalan kata yang menguatkan aku, jujur saja. Bukan karena apa-apa, tapi karena kalimat magic itu membius aku untuk sadar dan berlapang hati menerima yang sebagaimana sudah ditakdirkan padaku. Setidaknya kalimat itu pula yang menjadi tamengku saat kesedihan dan rasa kehilangan ditinggal mati oleh mamakku beberapa tahun lalu. Tepatnya 28 Agustus 2018.

Kalau rasa rindu mengecamku, memang tidak dapat terelakkan, daya sensorik dan seluruh membran sel otak aktif melakukan Recalling terhadap ingatan yang disimpan baik di Hipotalamus. Maka untaian-untaian yang begitu menyenangkan membuat saya sedih, juga kalau teringat buruknya perlakuanku terhadap mamakku aku benar-benar sedih, diaduk membenci diri sendiri, menyesal tak karuan. Tapi kalaupun itu terjadi ya sudah terlambat. Makanya seperti yang aku bilang di atas, penggalan kata tokoh "aku," seyogyanya buat aku mikir. Buat apa aku menyesali perbuatanku yang sudah kadong menyakitkan hati, sebaiknya aku banyak-banyak minta ampun sama Tuhan YME, biar dosa-dosa bukan cuma ditangguhkan tapi dihapus pula sekalian. Mana sanggup aku menghadapi kerasnya sikapku sendiri. Semoga saja aku tidak kena karma.

Sejurus dengan semua ingatan dan kata 'kuat' itu, aku pun ditarik-tarik lagi sama kenangan-kenangan terakhir bersama mamakku, karena sakit yang sudah kronis beliau hanya dapat rebahan tapi lebih sering berbaring miring memberi tumpuan berat pada bahu dan pinggulnya yang kanan, karena bagian kiri tubuhnya akan merasakan sakit hebat ketika harus dibagi beban tubuhnya. Bahkan jika hanya sebentar pun bergeser ia tak segan-segan memekik dan meringis kesakitan, yang suaranya beliau itu suka buat hatiku,,uuh. Memang bahasaku terlalu lebay mungkin, tapi memang seperti itu kenyataannya.

Menyaksikan satu-satunya andalan support system, dan selalu jadi promotor generator semangat, harus terluntai lemas tak berdaya. huhu (ngalir aer mata).
Matanya yang sayu, bibir yang kering dan pecah-pecah, rambutnya yang ikal, pipinya yang kempot habis sudah definisi 'cantik' jika mengikuti tren sekarang ini, untung saja beliau tetap jadi dirinya, tetap jadi versinya, mengajarkan aku lebih baik menjadi diri sendiri bukan jadi orang lain. Kini tau makna dan arti sebuah orang yang merdeka. Merdeka dari guyonan orang, cercaan orang, cerita orang dan segala bentuk pengajaran yang belum tentu akan aku dapat di masa mendatang.

Di mana selama masa perawatan mamakku, aku biasanya hanya akan duduk manis terdiam, ngajak ngobrol mamakku sesekali agar pikirannya tidak terlalu kacau dan terbebani ditambah melihat muka polosku (karena sesungguhnya yang menjadi beban seorang ibu adalah ketika masih ada tanggung jawab yang belum terselesaikan) makin-makin buat beliau risau dan khawatir. Makanya keenggananku berlama-lama melihat atau dilihat mamakku adalah suatu alasan mengapa aku lebih sering menatap gawaiku waktu itu.

Sampai pernah suatu saat mamakku menegur, beliau ngomong begini "Emangnya gak sakit matamu Ka, lihat hape terus." Waktu itu aku cuma diam gak bisa jawab. Soalnya mamakku pun bukan sejenis orang kayak aku yang suka banyak cerita, beliau pun kalau kuajak cerita enggan menjawab. Jadi kadang rasa bosen itu menyergap dan itu enggak bisa dinafiqkan, aku harap pembaca dapat mengerti ya.

Sejak duamenjak dari kejadian itu, aku putar lagu Indie dari Kunto Aji yang sebelumnya telah dirilis pada tahun berapa gitu ya, aku gak tau. Judulnya Pilu membiru. Wah kalau ini mah lagu yang suka buat meler alias sedih bad. Jadi kalau lagi putar lagunya, pasti sambil rebahan sesekali tanganku bergontai menghempas udara kiri-kanan, dengan sebuah potongan kardus atau halaman buku mengipasi mamakku. Sebenarnya di rumah pun ada kipas elektrik yang mampu menghasilkan udara berkali-kali lipat sejuknya daripada yang kulakukan sekarang, tapi mengingat mamakku takkan mampu menahan terpaan angin yang terlalu lebih bagi kulitnya yang sudah layuh.
Apa yang dilakukan mamakku sembari rebahan waktu itu, beliau dengan tak berdayanya masih mau berusaha mengelus jidatku yang lumayan lebarnya ini dengan selembut- seperasa-sekeibuan yang buat aku benar-benar merasakan kenyamanan luar biasa, yang tentu saja tidak akan aku dapatkan sejak itu sampai sekarang, juga lusa.

Waktu berlalu. Waktu tiba, maksudku ajal lebih dahulu menjemputnya. Dan aku belajar setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Bahkan mungkin saja aku bisa mati saat menulis cerita ini. Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku lihat di akun yutub lagu Kunto Aji kembali rilis dan dalam waktu yang tidak lama lagunya langsung naik jadi trending topik pertama di Yutub Indonesia, kalau tidak salah sampai dua hari berturut-turut.

Sebenarnya aku sudah tahu itu lagu yang bagus sekali, tapi aku enggan mendengarkan, karena liriknya begitu menyedihkan. Jadi teringat masa-masa dielus-elus mamak saat usiaku genap 20 tahun masa itu.

Komentar

Postingan Populer