Cerita Banksad
Badai pasti berlalu, orang-orang sialan yang selalu saja bila kayak gitu. Padahal setelah badai ini ntah musibah apa lagi yang akan datang, tahukah kalian selama seminggu ini aku benar-benar tidak dapat menikmati akhir mingguku dengan tenang, semua ini ya tentu saja bukan hanya karena banyaknya tugas yang diberi bapak dosen dan ibu dosen yang luar biasa sangat berpengalaman membuat otakmu remuk dan bonyok-bonyok.
Dan lagi tahukah kalian, betapa tidak bertambah rasa kesalku berkali-kali dari biasanya saat aku mengerjakan tugasku. Di tengah pandemi ini, aku harus beratus-ratus kali kembali ke bilik kecil yang penuh debu dan tentu saja papan plastik yang penuh dengan kuman.
Tahukah kalian setiap kali aku duduk di bilik ini aku selalu memaki diriku sendiri, aku benci dengan semua yang terjadi denganku, sepertinya akhir-akhir ini sedikit kehilangan kendali, keadaanya sama saja sepertinya.
Jarang sekali akhir-akhir ini menemukan tempat nyaman bercerita. Tahukah kalian saat ini, ya benar-benar dalam waktu ini aku mengetik semua cerita ini di sebuah bilik yang tak sampai lebarnya 2x2 cm ini sambil terseduh-sedu, kalau saja penjaga warnet ini tidak berada di depanku, sudah kujamin aku akan menangis sejadi-jadinya. Lagunya terdengar sedih. Aku rasa semua yang aku hasil dan buat spertinya tidak ada artinya. Aku terlalu banyak target untuk dicapai, tapi aku bingung dan tak tahu harus mulai dari mana. Seperti apa jadinya jika hidupku tidak kurencanakan. Bisa hidup ini seperti daun kering jadi basah kena air, hangus kena panas, atau terurai bersama jutaan kuman yang mengerikan. Tahukah kalian, satu hal lagi.
Betapa tidak makin gila aku melewati seminggu, dua minggu yang lalu dengan semua keadaan bahwa aku kesal dengan yang ada di sekitarku. Mungkin orang akan kesulitan, dan sebenarnya memang sulit untuk tahu perihal isi hati orang, kecuali kamu adalah cenayang yang handal.
Dan iya cerita soal cenayang, bagaimana tidak hebohnya kampung halamanku empat hari yang lalu, ada rumor tersebar soal akhir zaman. Seorang tetua kampung katakan sajalah disegani di sana, melihat di sosial media video pendek soal anak bayi yang baru lahir bisa berbicara, dan menyuruh satu kampung untuk menyantap bulat telur rebus dalam waktu 24 jam, sungguh hal gila jika misalnya baru punya kesempatan dengar informasi itu dua menit yang lalu, dan sialnya waktunya memang seperti yang aku jelaskan, tengah malam cenayang itu menghebohkan satu kampung, setiap pintu dan jendela ia ketuk dan setiap orang jadi panik, bahkan kampung sbelahkuku, eh bukan satu kabupatenku geger sama 'seruan' itu dan tentu saja tidak masuk akal.
Tahukah kalian hal yang buat aku sedikit sebal adalah ibuku menelpon waktu larut malam seperti itu, cuma mau nyampaikan hal bodoh yang gak masuk akal. Lagi pula bagaimana anak kos kere seperti aku ini dapatkan telur tengah malam?! bahkan untuk mendapatkan keraknya saja terdengar tidak mungkin.
Oh ya terima kasih ya sudah mau baca tulisan sialan ini, sekarang keadaanku sudah lebih baik dari sebelumnya, maksudku pertama kali aku duduk bersila menghadap layar komputer butut ini (walaupun begitu, setidaknya pemilik warnet punya barang yang bernilai investasi). Gak penting banget ya aku cerita cenayang di kampung halaman, lagi pula semua ini juga jelas sih relasi kenapa orang mudah percaya sama berita odong kayak gitu. Apalagi berita itu disampaikan sama orang yang sebenarnya gak ada dalam kamusnya socrates soal kelas sosial. Kaya ya gak juga, berpendidikan ya biasa aja mungkin paling keras tamat Sekolah Dasar (SD), terus kalau punya kuasa ya gak jugalah, tapi sih bisa juga lah, karena si uwak itu orang yang udah lama tinggal di kampung itu, bahkan konon katanya saat kampung halamanku itu masih sejalan tapak dan sekarang udah bertransformasi jadi lintas ke sumatra utara.
Terus kerasukan hari ini aku harus ke warnet cerita semua yang kurasakan, sebenarnya ada satu hal aku sampaikan dalam tulisan ini, cuman penyakitku tuman, tukang lupa. Haha. Mungkin malam yang lain aku bisa lanjutkan ceritanya ya gak?, lagi pula memang ini tulisan ada yang baca?! haha.
Nha jadi begini guys, aku agak heran sedikit kepalang, tapi gak pakai alang masih bisalah ditolerir. pernahkan di suatu saat kita terdiam mengkhayalkan apa sja cerita yang udah terjadi di kehidupan kita. Aku sering banget asik ngelamun dan mengkhayalkan sepeti apa kehidupan di masa yang akan datang, dan tentu saja selalu ngarahin pikiranku buat yang enak-enak aja dong, buat aku sedikit bahagia, menghadapi kehidupan yang termehek-mehek minta di tekek. di tengah prosesi semedi khayal dadan distraksi itu, sampai aku kepikiran bagaimana prosesi pemakaman dan mati yang ideal. Aku rasa setiap saat kematian begitu dekat sma diriku, kadang aku merasa udh siap, cuma kalau keingat disiksa dulu gitu kok ya terdengar mengerikan. Mulanya aku tarik napas dalam-dalam terus aku pincingan mataku, sedikit maksa sih, gak bisa rileks karena memang mataku itu gede, kayak mau keluar.
Nah, gelap kedipan yang lama itu, aku kadang mikir gimana rasanya mati yang tragis, kadang aku berimajinasi aku jatuh dari jurang, terus, waktu sampai di lereng tulang belakang ketusuk sama batu stalaktit ngeri gak?! (sebenarnya kedengaran gak mungkinlah, mana ada stalaktit di lereng hihi, tapi ya namanya juga khayalan). atau gak khayalanku, aku tenggelam di palung yang dalam banget tapi aku menikmati setiap detail kejatuhanku untuk sampai ke dasar lautnya cepat, tapi aku gak dapatkan itu hingga waktu yang kutunggu-tunggu, hingga akhirnya aku sadar dan tidak menikmati proses kematian ajal menghilang, karena rasa awal yang menikmati itu berubah menjadi rasa takut yang dalam dan gelap, setelah semua khayalanku itu, aku juga gak lupa buat mikirin bagaimana prosesi pemakamanku yang damai, tentu saja tanpa siapa-siapa yang hadir, karena kayaknya itu bukan ide buruk untuk meyisakan jejak terakhir, karena rasanya akan semakin menyedihkan kalau mati, masih ada yang tersedu-sedu menyesalkan kepergianmu, huhu~~~. Terus aku bisa hadir setiap hari-menembus ruang yang tak berdimensi, menembus dinding kamar, dinding sosial media, dan melihat orang yang selalu perjuangkan hidup, menyalahkan dirinya atas kehilangan. Di situasi tu melihatnya tentu aku sangat sedih, jadi setelah persemedian via merem itu, aku sadar bahwa hidup cuma perlu melakukan yang terbaik versi aku, dan setelah melihat proses kematian yang singkat dan jauh dari gambaran aslinya (sesuai dengan yang aku yakini) aku jadi merasa sedikit lebih hidup, anggap saja kematian yang tadi kamu meninggal badan lama, tapi kau dengan jiwa baru, tentu saja dengan semangat baru.

Komentar
Posting Komentar