Iklas Aja Dulu, Nanti Juga Berdatangan!
Sinyal internet di sini belakangan sangat jelek sekali, jadinya aku tidak bisa searching, menulis hal baru di blogku, tidak bisa mendengarkan lagu Tiara Andani "365", mengsedih sekali.
Hari ini aku akan menuliskan ceritaku, cerita di mana kesempatan manis datang dua kali menghampiriku. Cerita manis tentang penawaran kerja. Dua kali datang dua kali kutolak dengan gaji dua juga, dua juta. Hahaha. nilai itu worth it sekalilah buat bocah berstatus mahasiswa. Pekerjaannya soal bekerja di media online, posisi redaktur. Kalau dipikir-pikir posisi tersebut lumayan bagus untuk seorang pemula untuk debutnya.
Seperti yang kusebutkan di atas, penawaran ini datang dua kali. Penawaran pertama datang dari pengolah medianya, saat itu ada sebuah pertemuan kerja sama, setelah pertemuan kerjasama itu tepatnya di dalam lift ada perincangan sederhanan soal pengalaman kerjaku, katakan sajalah aku pernah magang di media online nasional. Jadi mungkin hal tersebut membuat beliau tertarik dan mungkin yakin akan kemampuanku. Singkatnya tanpa babibu, pengolah media mengatakan sedang butuhkan karyawan baru di posisi redaktur, dan mungkin mana tahu aku tertarik bisa langsung saja bekerja.
Mendengar hal tersebut, aku yang saat itu masih di lift bersama temanku, Wulan. Membuat aku terdiam dan sedikit terperanjat "Alamak," kataku dalam, sambil melirik-lirik kearah temanku seakan melempar kode seakan itu penawaran yang bagus.
Tapi di saat yang sama ada pertimbanganku, bahwa media online tersebut masih terbilang baru, belum ada kontrak kerja yang jelas, contohnya saja temanku yang sudah lebih dulu berkerja di medai tersebut, makanya aku tidak yakin soal tawaran kerja ini.
Momen kedua datang selepas mungkin sekitar 4 bulan berlalu, tawaran kerja di media yang sama datang lagi, melalui temanku yang sudah bekerja di media tersebut. Dia mendapat pesan singkat yang isinya status kerja yang terjamin, terlampir pula diskripsi gaji di posisi wartawan, dan satu slot kosong untuk redaksi dengan diskripsi gaji 2 Juta.
Sebab status dan diskripsi gaji yang sudah lebih terjamin, temanku menawarkan untuk mengisi posisi redaktur tersebut. Tapi U know, aku tetap menolak. Menolak dengan sadar bahwa kemampuan menulisku masih sangat buruk sekali, merasa seperti belum layak mengisi posisi redaktur. Kayaknya untuk sampai di posisi tersebut aku mesti menghabiskan 3 program penulisan dasar bagi pemula, merajut puluhan berita, banting tulang untuk sebuah praktik kepenulisan.
Tapi setiap menjelaskan kondisi ketidakpercayaan tersebut, selalu temanku meyakin kemampuan menulis yang aku punya tidak terlalu buruk masih bisa diperbaiki, bisa ditingkatkan lagi. Aku yang mendengarnya tak yakin, ragu sebab apakah itu betul-betul kenyataannya atau hanya untuk menyenangkan hatiku saja?! hehe.
Kuberi tahu, tentang tulisanku, beberapa memberikan masukkan bahwa kebanyakan kesalahan dalam tulisanku adalah typo dengan tingkat parah menuju fatal, tak hanya itu kadang ada kalimat yang kutempatkan tidak tepat posisinya sehingga pembaca tak paham. Evaluasiku untuk diriku sendiri adalah aku terlalu egois untuk sebuah tulisan, aku memaksa pembaca harus paham sama yang kumaksud padahal gak semua pembaca bisa paham apa yang ada di dalam kepalaku. Tapi baiklah, itu aku coba perbaiki.
Tak hanya itu, ada evaluasi akan tulisanku yang jelek, tidak beraturan, berlompat-lompatan konsepnya. Aku sebenarnya benci kekuranga tersebut, tapi bagaimana pun hal itu bagus untuk progreskan diri. Kalau dihitung-hitung ya, harusnya seminimalnya tulisanku itu jauh dari yang namanya typo parah. Soalnya dari semester satu aku sudah berkecimpung di dunia kepenulisan, jurusan kuliah di bidang yang berkelindan dengan kepenulisan, ditambah lagi pernah magang di media online nasional.
Aku mau menghasilakan tulisan yang dibaca orang tersebut jadi paham, mendapatkan manfaat, terhibur, tapi kayaknya untuk menghasilkan hal-hal itu butuh banyak usaha.
Ya Allah, bantulah aku perbaiki ketidaklayakan tulisanku, perbaikan kemampuan menulisku. Supaya aku bisa dengan yakin mengambil sebuah pekerjaan sebab aku pikir orang menggaji kita dengan kemampuan yang kita unggulkan. Bagiamana jadinya kalau 'keunggulan' yang aku todongkan itu not deserve get a good thing like salary. It's mean never take a salary same determine gaji buta?!.
Ya Allah, bantulah hamba yag bodoh ini dapat menulis dengan baik, enak dibaca. Bantulah aku belajar menulis dengan lebih baik lagi. Aamiin. Sedikit tambahan, walaupun aku menulis cerita ini penuh dengan kepasrahan aku tidak akan menyerah dalam belajar menulis. Tetaplah menulis, belajar terus, jangan berhenti dan tingkatkan semangat. Termasuk menulis proposal dan skripsimu tahun ini!!!

Komentar
Posting Komentar