Persahabatan di Ladang
Seperti biasa kerbau di pinggiran ladang sawah, di parkirkan oleh tuannya sementara waktu menjelang pekerjaan berat halnya membajak. Ada proyek besar untuk dikerjakan, satu hektar lahan kosong pasca 3 bulan panen padi terakhir. Sambil menunggu momen itu datang, kerbau yang tegak di atas 4 kaki berotot juga lemak yang membutal di sekitar pantatnya tersebut menggerak-gerakkan buntutnya, hitam dan panjang. Seperti biasa hal tersebut dilakukannya, sebab banyak sekali lalat yang suka hinggap dengan lubang anusnya.
Kerbau itu punya tanduk yang simetris panjangnya, melengkung sempurna dengan tekstur keras dan tentu saja padat, bosan menunggu sang Tuan yang tak jua kelihatan hilalnya, pandangannya teralihkan dengan serabut rumput tebal nan hijau di pinggir-pinggir pematang. "grekm,,,grekm,,," Begitulah bunyi kebisingan yang muncul dari gigi geraham kerbau, sebuah bunyi gemeretak mencacah serat selulosa yang atos.
Badannya yang buntal tersebut tak lain rupa dari mulutnya yang tak pernah berhenti mengunyah. Tapi siapa peduli, hewan ruminansia ini selalu butuh usaha dua kali lipat banyaknya sebelum akhirnya benar-benar menelan rumput di mulutnya, sekedar informasi saja, bahwa kerbau itu punya dua lambung yang sangat besar, ketika sementara terkunyah di mulut, buntalan rumput etrsebut akan dikirim ke terminal lambung pertama, kemudian ke terminal lambung kedua, lalu diteruskan ke mulut dan di sinilah rumput tersebut sah disebut makanan dan akhirnya akan transit di saluran penceranaan yakni usus.
Selain tanduknya yang kokoh, bokongnya yang montok dan otot kaki yang berotot, kerbau ini punya kulit yang bukan main eksotisnya, hitam legam bedelau. Bukan sembarang orang bisa memiliki kerbau jenis ini. Iniah kerbau yang masuk dalam kategori kerbau mahal di dataran negeri ini.
Walauoun bukan kerbau biasa, toh ia juga bekerja sebagai pembajak sawah. Tuannya cukup kaya tapi tak pernah sedikit pun berpikir untuk membeli mesin bajak yang kemampuannya dua kali lipat cepat di bandingkan dengan menggunakan kerbau ini.
Setelah abgai satu purnama menunggu, sang tuan membawa alat penggaruk tanah yang terbuat dari kerangka besi dan sisir-sisir tajam di bagain bawah untuk meleburkan lahan yang mulai memadat. Tuan yang kayanya dan tua ini, agak sedikit tergopoh membawa alat penggaruk ini, sebab beratnya saja seukuran 2 kali lipat berat tuan tersebut. Sangat menggeret alat penggaruk ini, terlihat gadis kecil membantu mendorong dari belakang.
Sejak dini, Mianh sudah di biasakan ke pematang sawah, melihat-lihat kerbau lainnya membabu untuk tuannya. Setiap senja mulai memudar di saat itulah kerbau-kerbau bersahutan behagia, MooooOOk....MoooooOOOOok" artinya tak lain semangat, kita akan pulang.
Anak tuanku heddak menikkah, maka itulah masanya akhir dari perjalnana hidupku, setelah batal menjadi hewan qurban, tanpaknya takdir yang belakangan menyongsong tak bisa aku hindari. Tak ada pilihan tuan haji selain mengorbankan diriku, lagi pula aku sudah tua mana mampu kerja berat seperti membajak, juga aku tak bisa beranak pinak jorjoran sebagaimana kerbau-kerbau yang lainnya, berganti generasi dan koleksi suara moook yang variasi, kata kerbau.
Tapi jalak bilanag, menampung kesedihan kerbau, katanya jalak untuk kerbau tak perlu bersedih, sebab aku selalu ada mendengarkan ceritamu
"dan menyaksikan kematianku, kan? tentu saja ita"
"Pikirmu begitu"
ya tentu saja, ya"
Tapi itu hari sakit, termat sakit, melihat sahabatmu terkapar meregang nyawa.
kau tentu boleh menyicip dagingku kelak" kata kerbau
tentu , teantu saja tidak. ingatlah aku seeekor jala dengan selera vegetarian abadi"
Tak usah banyak cerita, sejak kapan kau menjadi burng vegetarian, selama ini badan gemuk dan keokkan bisingmu berasal dari gizi kutu-kutu yang ada di tubuhku"
haha, tentu saja iya. Tapi bukan kan memakan daging parasit dan sahabat, dua hal yang kontras sangat berbeda"
tak usah pusing dengan dialektika gilamu, tetap saja kau pemakan daging" kata kerbau.
Tapi aku bukan pemakan daging saudaraku" celah jalak
Sebab kau tak pernah bercerita hal buruk tentang diriku, tentu kau bukan pemakan daging saudaramu. Lagi pula ketika aku sudah menjadi seonggok daging, dagingku pasti dalam keadaan segar dan bukanlah setumpuk bangkai. Maka kau bisa mengambil porsi sebagian dari bagianmu"
ide gila, aku tetap tidak akan mau"
Lantas selam ini apa enaknya memakan kutu"
Kutu di dunia ini tak ada bedanya, semua punya rasa yang sama, anyir dan tentu saja terasa sedikit asam. Tapi kutu jadi terasa enak sebab inangnya. Selama ini yang membuat aku betah mentotol kutu di permukaan kulitmu sebab kau sangat asyik diajak biacara, tidak seperti kerbau-kerbau yang lain. Yang cuma peduli dengan rumput di depan matanya.

Komentar
Posting Komentar