Risalah Bawang Goreng: Menangis Sampai Rasa Pahit!
| Proses Goreng Bawang dok. Pribadi |
Sore itu aku sedang sibuk mempersiapkan daganganku, Orekin. Salah satu bahan yang mesti kusiapkan adalah bawang goreng.Tampaknya memang perkerjaan goreng menggoreng ini seperti mudah, tak pandang bulu semua bisa melakukannya. Hal itu bisa benar, tapi juga bisa salah, menurutku pengalaman juga punya andil besar soal itu.
Aku ada sebuah cerita penyedihkan dan tragis dari soal menggoreng bawang. Kumulai dari keinginanku terlibat di dapur mamakku saat ia berdagang soto medan. Momennya masih jelas teringat namun jujur aku tidak bisa mendiskripsikan kapan waktunya, namun kalau dikira-kira, mungkin itu di pertengahan tahun 2012.
Sore hari, di dapur dengan steling jualanan, jejeran kompor gas merk Rinnai ditimpa dandang berisikan kuah soto dan di sebelahnya sebuah wajan yang diameternya cukup lebar. Mamakku dan kakakku, sangat liget perkara bergerak berpacu dengan waktu. Mereka tampak berbincang-bincang sambil berkelakar yang seru. Menitik mata sebab air melulu bercucuran karna terciprat aroma bawang merah yang dahyat perihnya. Tapi secangkir kopi di seal-sela itu, tampaknya opsi yang apik menetralkan merah mata yang perih menjadi lebih rileks.
Pisau pengiris mamakku maju-mundur, membelah bawang dengan sempurna. Tak mengherankan soal itu sudah jadi rutinitas sehari-hari. Kakakku tampak tak mengalah, ia pun berpacu cepat tak kalah cepat menyaingi pekerjaan mamakku.
Tepat di atas tampah bambu nan bulat, bawang-bawang yang sudah diiris dikumpulkan menjadi satu, dibaur satu sama lain kemudian dibaluri garam supaya menambah rasa gurih pasca penggorengan. Setelah akhirnya gelondongan bawang merah dan putih selesai diiris, mereka rehat sejak.
Tak lama istirahat itu, mamakku menumpahkan satu liter lebih minyak makan di dalam wajan yang cukup besar. Api pun dipantik, supaya minyak menjadi panas. Saat sudah tampak minyak makan memuai, dengan tertib mamakku memasukkan irisan bawang-bawang.
Campuran minyak makan dan bawang tersebut menghasilkan uap panas berbau sedap, ya sebagaimana ciri khas baunya bawang yang digoreng, sangat mengundang selera. Selama bawang tersebut berenang di dalam wajan, mamakku selalu mengayun sutilnya bergerak, terkadang diselingi menggunakan serokan. Begitu seterusnya.
Aku si pemula yang sama sekali tidak punya pengalaman memasak bawang goreng mengamati dengan baik, bagaimana mamakku mengaduk-aduk bawang-bawang itu dengan ciamik. Sambil berdiri dalam waktu yang lama hingga akhirnya bawang sudah layak ditiriskan.
Tiba-tiba saja, mamakku ada keperluan lain, dengan gegasnya berlalu mengajak kakakku untuk pergi bersamanya, dan kalian tahu, aku seorang diri dan pemula ini diberikan tugas untuk menyelesaikan seluruh penggorengan bawang. Aku sempat menolak sebab kalian tahu, aku betul-betul tidak pernah menggoreng bawang.
Namun mamakku meyakinkan sambil memaksa, tetap saja menggoreng, lakukan seperti sebagaimana yang sudah aku lihat sebelumnya. Walalupun sempat tak mau, tapi akhirnya aku melakukannya, dengan niat semoga apa yang aku lakukan ini memang dapat membantu dan membuat mamakku senang.
Sebelum mamakku pergi, ia sudah memasukkan bawang iris yang baru di penggoreng. Namun giliran yang ini jumlahnya lebih banyak. Kalau aku tak salah taksir bisa dikatakan bawang iris tersebut ada hampir setengah 400 gram.
Dengan jumlah yang banyak itu, aku dengan percaya diri bahwa aku bisa mengatasi dan menyelesaikan tugas ini. Beberapa waktu berjalan, aku masih saja mengaduk, bawang gorengnya sulit terlihat lantaran ia habis tenggelam ditimpa dengan gelembung-gelembung minyak panas. Rasa ragu mulai menghampiriku, dan aku juga masih tetap megaduk, mengamati baik-baik bawang-bawang yang masih berenang di minyak menjilam, sambil bertanya sendiri, kenapa warna bawang-bawang ini cepat sekali berubah jadi menguning.
Dan warna kuning juga sudah baik, jadi ingin lekas saja aku mengangkat bawang-bawang ini. Tapi kemudian hatiku ditimpah kegundahan sebab tekstur bawang yang kugoreng masih tampak loyo, tidak sebagaimana ikan yang digoreng jadi krispi.
Akhirnya aku membatin, menyebutkan dalam hati, kayaknya lebih baik aku tunggu saja hingga bawang-bawang ini berwana kecoklatan, sebab warna-wanrna coklat itu dalam teknik penggorengan indikasi bahwa bahan yang digoreng sudah masuk tahap kematangan sempurna,
Selang beberapa lama, akhirnya warna yang kutaksir pun tiba, aku bergegas menyerok bawang-bawang dari permukaan minyak dengan segera, namun nyatanya itu bukan hal yang mudah dilakukan. Beberapa kali bawang-bawang itu berserakan, sehingga berulang-ulang tersiram minyak panas dengan kondisi api yang tidak dikecilkan.
Aku kemudian terperanjat, bawang-bawang yang semulanya berwarna coklat itu jadi semakin gelap. Lebih gelap dari yang kutaksirkan. Tapi waktu itu, aku tak khawatir sama sekali tak khawatir apalagi menaruh curiga, hematku pekerjaan menggoreng bawang ini berakhirnya dengan hasil terbaik soalnya ini kali pertama pengalamanku menggoreng bawang.
Setelah ditiriskan di atas jaring serokan, aku memindahkan bawang-bawang goreng tersebut ke atas koran yang sudah lebih dulu dijabarkan, tujuannya menyerap minyak yang tertinggal pada bawang goreng. Aku tatakan sedemikian rupa, dari kejauhan suara minyak mendidih terkena irisan bawang baru terselip suara knalpot motor. Tandanya mamak dan kakakku sudah kembali.
Dalam hati aku membusungkan dada, aku bangga dengan pekerjaan yang diamanatkan padaku telah aku lakukan, dan menurutku itu hasil yang baik. Saat yang sama aku menarik kembali perhatianku pada gorengan bawangku yang baru, sambil tersenyum, yakin selanjutnya akan menghasilkan bawang goreng yang bagus.
Tengah sibuk menyerok bawang-bawang yang berenang di minyak panas ini, mamakku tiba-tiba muncul dekat bawang goreng yang telah aku tiriskan, tak ada komentar. Ia mengamati hasil bawang gorengku tadi. Aku pun jadi terdiam.
Mamakku baru berkomentar, dengan nada bertanya "Ini kok coklat kali warnanya, Ka?", "Apa koe tinggal ini tadi?". Aku panik. Dengan percaya diri kubilang, bahwa sedari tadi aku tetap mengaduknya, hingga saat aku yakin sudah matang, baru aku angkat", jawabku.
Mamakku kembali diam.
Jemarinya kembali liat, semacam tadi saat mengiris bawang. Sangat ligat.
Diambilnya secuil bawang hasil gorenganku, mendadak beliau melepeh bawang yang ada di mulutnya. Ia gegas, membawa setampah bawang hasil gorenganku keluar. Menjauh melewati pagar, dekat dengan semak belukar. Sigap mamakku mencampakkan seluruh bawang goreng yang totalnya hampir 400 gram. Bayangkan 400 gram bawang goreng dibuang cuma-cuma.
"Ini gosong kali, pahit kali rasa bawang gorengnya,pahit"katanya sambil berjalan.
Aku ketakutan, seperti mau mati. Dengkulku rasanya kopong, menompang badan tak peduli, takut berdiri. Rasanya ingin lari sambil teriak-teriak. Mamakku kejam kali, tidak bisa menghargai.
Ya betul saja, aku sedih sekali, menitikkan air mata merasa pekerjaanku tak dihargai. Sedih sekali, berpikir disaat yang sama sedari tadi aku berdiri, mengaduk bawang-bawang. Mulai kaki, betis hingga bahuku rasa-rasanya pegal. belum lagi waktu kelimpungan saat meniriskan bawang goreng tadi.
Pikiran jahat pun mulai menggerayangi otakku, sambil aku duga-duga, aku dibiarkan berkecimpungan dengan bau minyak bawang goreng, udara panas juga sedikit pengap sedangkan mamak dan kakakku malah pergi meninggalkanku, bisa saja mereka berdua pergi bersenang-senang sebentar, dan membiarkan aku sendirian,
Perasaanku masih kacau, benci sekali pekerjaanku tak dihargai. Mudahnya mamakku menggotong tampah bambu, lalu menghempaskannya ke tengah semak belukar. Dan kedua bola mataku menyaksikan itu.
Setelahnya mamakku mendekat, kembali mengambil alih. Kembali kemudikan dapur tetap mengebul dengan hasil gorengan yang lebih ciamik. tanpa berkata dan komentar yang lain-lain. Merasa kecewa aku menarik diri, masih menangis tak sumbar mengurung diri.
Kembali ke masa sekarang, aku jadi pintar menggoreng bawang, malah kadang kelewat senang selepas menggoreng bawang. sekrang aku bisa menggoreng bawang dengan warna kuning keemasan yang cantik, renyah dan gurih. Malah setelah tahun-tahun kemudian, saat alm mamakku masih sehat dan lanjut berdagang ontong medan, terus terang saja selalu aku yang menyiapkan stok bawang goreng. Biasanya mulai dari mengupas, mencuci, mengiris dan menggoreng itu semua aku lakukan sendiri.
Pelajaran yang aku ambil dari sini adalah tetaplah mencoba sebab jika tak dicoba-coba tak akan tahu bagaimana bentukkannya. Percaya diri pelatuknya, soal hasil itu ya nanti saja ditimbang-timbang. Dari kejadian yang miris nan tragis ini aku belajar ditolak dengan buruk, bahkan dari orang terdekatku, orang yang melahirkanku. Rasanya? sakit, sakit bangetlah. Tapi, aku mau bilang terima kasih sama mamakku, ditolak akan kegagalanku di kejadian ini bisa jadi sedikit morfin legowo, bila mana aku mendapat penolakan hasil kerja dengan berkata bahwa aku sudah pernah merasakan sensasi ini, bahkan sejak 8 tahun lalu?!

Komentar
Posting Komentar