Bertandang ke Alam, Datanglah ke Gulamo
| Dok. SRI Momen di dermaga, sebelum keberangkatan menuju wisata Air Terjun Gulamo, embatan, Tj. Alai, Kec. XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau. Minggu, (6/2/22). |
26 derajat celcius udara pagi hari yang asing di Pekanbaru, Minggu, 6 Februari 2022. Cuaca yang sangat mendung ini sebenarnya sudah aku tahui sejak kemrin malam, hasil perkiraan cuaca Google. Ku kirimkan salinan info ini kepada temanku, Septa. Si patner perjalanan liburan Rihlah bersama rombongan Simpul Relawan Inisiatif (SRI) dan rekan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI).
Bagaimana aku bisa ikut liburan bersama mereka?, Perkenalan
ini dimulai saat aku menjajal magang kurang lebih 2 bulan di tempat filantropi
tersebut. Dan jika aku menceritakan bagaimana kisah magangku di sini, tentu
kita akan merelakan kisah perjalanan
bertandang ke Gulamo. Dan aku tidak mau itu terjadi. Kita lanjutkan.
Keberangkatan dimulai pukul 9 lewat, ini rencana yang
terpeleset dari jadwal yang sudah disusun sebelumnya, namun siapa bisa menahan supaya
langit Pekanbaru tak hujan hari itu, tidak ada, sekalipun membawa pawang hujan
(bagi yang percaya). Pada jam-jam sebelumnya sudah sudah panik, aku kira Septa
bakal tak ikut, sebab sejak pukul 7. 20 wib sebagaimana yang ia janji bakal
sudah menjemput, namun tak jua kelihatan hilalnya. Sialnya, pagi itu juga aku
tak punya pulsa dan paket dataku habis.
Alamak, pukul 8 lebih hujan pun tak jua reda, makin kencang
anginnya, makin deras air, makin becek perjalanan Septa menuju rumahku. Aku
hanya mondar mandir sambil memeriksa tasku, kali saja ada barang yang
terlupakan. Waktu pagi hari jadi terasa
cepat, sebab ragu ketidakdatangan Septa, akhirnya aku mengeluarkan motorku,
nekad bakal pergi sendiri.
Setelah sudah aku panaskan motor, akhirnya dari kejauhan terdengar suara knalpot motor mendekat, yang bunyi knalpotnya menelisik bising di tengah bunyian tetes hujan, Septa akhirnya datang. Sampai di depan pintu, Septa berulang kali bilang maaf, maaf diterima sebab hujan. Jadilah, aku dan Septa dalam perjalanan “Healing”, sebagaimana banyak orang menyebutnya, akan dimulai.
Naiklah aku dan Septa di motor, langsung saja menarik gas dalam, kecepatan sudah dimulai. Kami menuju SPBU, sebagaimana kesepakatan kami kumpul bersama. Aku tak enak bila rombongan lain sudah menunggu kami bermenit-menit. Hemat kupikir, mereka tak akan telat, soalnya mereka mengendarai mobil dan itu anti hujan.
Saat sampai sana, aku mengoreksi lebih tepatnya menduga yang mana satu mobil yang digunakan rombongan. Kami berputar, mengintari SPBU mengamati mobil, mungkinkah mobil yang terparkir dekat tugu, atau yang berteduh dekat pengisian minyak, tapi sepertinya tidak.
Mobil teman rombongan rupanya telat. Kami putuskan berteduh sejenak di dekat pos bengkel kecil, tempat biasanya memperbaiki ban-ban yang bocor atau kurang angin. Jam sudah menunjukan pukul 9 lewat, akhirnya aku bisa menghubungi rombongan, mereka terlambat namun tidak lagi lama akan sampai di lokasi pertemuan. Sembari menunggu rombongan yang lain berdatangan. Aku dan Septa, banyak bercerita bagaimana bentuknya gulamo itu ya, apalagi hari hujan. Kami berharap tempatnya bakal memuasakan mata dan hati.
Akhirnya rombongan yang lain pun sampai. Instruktur liburan
mengumpulkan kami, sempat ada sedikit rundingan untuk kami, aku dan Septa,
supaya menaiki mobil mengingat hari
hujan, takutnya berbahaya. Tapi tampaknya Septa dan aku sudah mantap, walau
tahu perjalanan menuju ke sana menghabis waktu dua jam, tapi kami mau perjalanan liburan ini pakai motor. Dan ya,
instruktur liburan mengizinkan.
Perjalan dua jam yang sangat menarik, tak menduga bakal
sejauh itu namun selama perjalanan motor,
hati takjub luar biasa, treknya sama sekali tak terduga. Ada banyak tebing
dan tanaman hutan di sepanjang bibir tebing. Pohon-pohon besar dan
tikungan tajam, terlihat pula para penambang batu dengan godamnya, mobil-mobil
besar beserta bising klaksonnya, cuaca mendung jadi lebih bersahabat. Itu
benar-benar memuaskan, namun itu tak cukup puas sebab gulamo belum terlihat.
Tak ada hambatan sepanjang perjalanan, syukurnya semua
baik-baik saja hingga sampai di dermaga. Tempat inilah awal kami bertolak
menuju gulamo. Kami bentangkan lembar flyer yang ukurannya tak lebih dari 1
meter, tertulis “Rihlah Simpul Relawan Inisiatif” berwarna hijau dan hitam.
Semua bersiap, senyum, cekrekk! Begitulah, swafoto bersama
pertama seluruh rombongan. Teman rombongan pagi itu jadi sangat ribut, langkah
kaki jadi makin rapat dan cepat, ingin buru-buru menyambangi gulamo. Pandangan
kami tertuju pada kapal yang sudah terparkir di dermaga, ada dua kapal yang panjangnya kira-kira sekitar 10 meter ini akan
membawa rombongan Rihlah ke sana.
Satu kapal untuk rombongan laki-laki dan rombongan perempuan
satu kapal yang lain. Saat itu jam sudah menunjukan pukul 12 lewat. Dalam
perjalanan ini, kapal dipandu oleh dua orang (aku tak kenal namanya, sebab
hanya ada waktu sedikit untuk bercerita-cerita, jadi aku akan menandai dengan
warna pakaian yang dipakai mereka hari itu ya). Satu orang berperawakan kurus
tinggi, dengan baju pink, dan satu lagi berperawakan berisi berbaju hitam.
Mereka berbagi tugas, ada yang mengarahkan kapal dengan
dayung, dan satu lagi bertugas mengengkol lokomotor baling-baling, supaya kapal
berjalan. Saat sudah di atas kapal, seluruh pemandangan rata dengan air, ini
aliran sungai yang sangat luas, tenang juga cuaca dingin.
Gerimis turun lagi, kapal tetap melaju. Aku dan Septa yang
duduk paling depan tidak bisa toleransi, sedikit banyak mulai basah terkena air.
Perjalanan di kapal tak berisik, semua diam mungkin dalam hati mengamati. Aku
melihat di pinggir-pinggir sungai, ada pohon-pohon tinggi, rumput liar dan
pakis yang besar, di air sungai banyak tunggul timbul bekas pepohonan. Menurut
informasi, dahulu sebelum menjadi sungai, kawasan ini adalah hutan. Dalam hati
aku membayangkan kalau begitu seberapa dalam sungai ini, mengingat pucuk
pohon saja masih kelihatan.
Derap langkah terdengar melaju ke depan, rupanya itu suara
kaki abang pemandu, maju ke depan, mengambil dayung guna mengarahkan kapal.
Sampailah kami di air terjun pertama. Air terjun palimbek.
Air terjun palimbek, punya pinggiran air yang tidak dalam,
kisaranya sekitar 10 sentimeter saja, atau sama dengan ketinggi mata kaki. Menurut abang pemandu, air di sini biasanya
jernih dan dasarnya bisa terlihat, namun karena hujan air jadi tampak keruh.
Penjelasannya bisa diterima. Bila sudah sampai di air terjun palimbek, kamu juga akan lihat pinggirannya terdapat
batu-batu, dan tentu saja pasir kuningnya yang memadati sepatu yang dikenakan. Kami tak banyak menghabiskan
waktu di sana, mungkin hanya 15 menit sembari mengambil beberapa dokumentasi
bersama.
Setelah dari air terjun palimbek, kami bertolak menuju air terjun gulamo. Sebelum akhirnya sampai ke air terjun ini kami disapa dengan plang tulisan besar, berwarna merah yang tersusun “ Selamat datang di Wisata Air Terjun Gulamo”, kurang lebih begitu. Terlihat dua aliran jalan terbelah dengan tebing yang kokoh, ke kiri Cikio (maaf kurang tepat, soalnya gak kelihatan), ke air terjun gulamo, tentu saja kapal mengarah ke kanan.
Kecepatan kapal dikurangi, tidak terlalu kencang sebab ada
beberapa kapal lain hilir mudik mengantarkan pendatang. Para penumpang di kapal
sudah tak sabar, termasuk aku yang sudah gementar. Mengalihkan perasaan tak
sabar, mata jadi tertuju ke dekat tebing-tebing, terlihat lebih dekat, hijau
kecoklatan nan lembab, lumut-lumut membungkus
kulit tebing, menjuntai pula akar-akar serabut pepohonan yang basah oleh mata
air, di saat bersama memantulkan suara gemericik
menunjukan bahwa air terjun gulamo sudah dekat.
Dan sampailah kami ke air terjun gulamo, airnya jatuh menghantam ke bawah, bercampur dengar air sungai. Tapi kami tak sesumbar ingin lekas menjeburkan diri. Terlebih dahulu kami isoma bersama rombongan, mulai makan dan salat. Waktu untuk isoma kami habiskan kurang lebih 25 menit, dan tak berhenti di situ perjalanan menikmati air terjun gulamo bakal jadi list terakhir kami pulang.
Tak terasa waktu berlalu, kapal memasuki semacam lorong, tidak betul-betul tertutup laiknya gua, hanya saja dinding tebingnya yang tinggi. Aku melihat ke arah langit, luar biasa. Daun-daun di atas tebing seperti bersalaman satu sama lain, meneduhi pendatang secara tidak langsung dari paparan matahari. Inilah Green Canyon.
Bagi pendatang pemula, betul-betul serasa seperti disihir dengan elokan pemandangan alam yang terbentang di sini. Tidak perlu usaha jauh, untuk merasakan dimensi hutan Amazon di Amerika sebab negeri serambi mekah-nya Riau, Kampar, sudah punya satu yaitu Green Canyon.
Suasana yang kental dengan dengan vibe hutan hujan tropis ini, sangat sayang bila dilewatkan tanpa mengabadikannya di swafoto tercetak. Buru-buru beberapa kawan mengambil posisi, untuk mengabadikan momen di sini, bergantian. 20 menit lamanya kami berhenti di sini, kemudian melanjutnya perjalanan ke lokasi yang lain.
Kapal diengkol, kata abang pemandu, kami sedang melaju ke tempat biasanya orang menghabiskan tenaga melawan arus di aliran sungai atas. Namun, waktu kami berkunjung waktu itu, arus makin deras, jadi semakin buat penasaran.
Terlihat di antara dua tebing yang kuceritakan sebelumnya, di tengahnya ada tebing yang tingginya hampir 13 meter, dan diameter batu sangat lebar. Lokasi ini dinamai batu petak. Pada bagian sisi depannya sengaja dipasang sebuah tangga besi nan curam, bukan main curamnya. Tangga besi dengan warna merah menyala ini jadi akses penghubung pendatang menaiki sisi atas tebing, membantu pengunjung menikmati pemandangan aliran sungai dari ketinggian, dengan pengalaman luar biasa berbeda. Terdengar deru air sungai makin jelas dari atas, buat yang berbicara mesti dua kali lipat mengeluarkan suara seperti berteriak.
Sebab batu petak ini termasuk ikonnya wisata gulamo, seluruh rombongan menaiki tebing tersebut, ingin mengabadikan kebersamaan Rihlah SRI ini. Tapi karena air lumayan deras, beberapa kawan ada yang kesulitan untuk sampai ke tangga tebing. Lucunya, ada satu teman, di jago berenang katanya. Namun saat coba menyebrang, dirinya hampir hanyut terbawa arus sungai. Cepat-cepat dijulurkan tangannya, nafas sudah tersengal-sengal, matanya memerah. Terakhir, dia bilang terima kasih sudah membantu. Aku menduga, sepertinya alam terpingkal, terpingkal karena geli. Sungai geli karena kejagoannya cukup di simpan di kawasan kolam renang saja. Tak perlu di alam.
Setelah seluruhnya sudah terkumpul di batu nan kokoh ini, teman-teman mengambil posisi, tersebar mulai di atas batu hingga duduk di anak tangga yang curam itu. Momen pun di abadikan. Satu, dua, tiga, cekrekkkk! (Terima kasih abang pemandu, sudah bantu fotoin kita).
Karena aliran air cukup deras, aku sendiri hanya berenang di pinggiran sungai dengan banyak batu-batunya, itu sedikit menghalau derasnya arus. Di sini, waktu seakan jadi hal yang mistis, tak terlihat dan gaib. Senang, dan main sana-sini, waktu sudah menunjukkan pukul 5.
Waktu yang panjang habis tergadaikan dengan pesona alam indah di sini, mata terperanjat, diam-diam perut keroncongan. Paling cocok menyantap yang hangat-hangat. Syukurnya di wisata air ini ada kedai kecil, berjualan beraneka makanan siap saji.
Saat itu aku memesan kopi dan mie goreng pedas seporsi beserta telur mata sapi setengah matang. Kami mengantri. Tiba giliran pesanan kujadi, bau mie goreng menyambar rongga hidung, perut makin bergejolak tak aman. Duduklah aku bersama kawan-kawan lain, di atas batu. Mie goreng yang masih mengebul uap panasnya itu langsung bersahabat di mulut yang menggretek kedinginan. Wahh, mantap betullah pokoknya.
Setelah itu, seluruh rombongan kembali berkumpul, mentadaburi alam dan hikmah dari Rihlah ini. Di sini pula dibahas perjalanan pulang, sebab ada beberapa perempuan yang bawa motor (termasuk aku dan Septa), jadi instruktur sarankan untuk menaiki mobil saja. Perjalanan pulang akan terasa lelah, batinku. Jadi tak mengapa bila kami menaiki mobil. Itu ide yang bagus.
Akhirnya kami mangkat dari batu petak, dan mampir kembali di air terjun gulamo. Kapal tak buru-buru, perjalanan santai. Abang pemandu meminggirkan kapal dekat batu, lebih dekat dengan air terjun. Saat sebelum mendekat, aku sudah lebih dulu menjeburkan diri. Tak seorangpun kawan perempuan yang mau, sayang sekali.
Luar biasa, air lebih dingin di sini. Terapung aku di bawah air terjun, siapa sangka tepat di bawah air terjun ini berbeda. Biasanya air terjun di bawahnya kontur daratannya lebih dalam tapi tidak air terjun gulamo. Di bawah air terjun ini ada batu yang bisa diinjak, jadi pendatang bisa berdiri di jatuhan air terjun. Mantap bukan?. Silahkan banyak-bayak berswafoto, itu bakal jadi momen yang ciamik.
Setelah menghabiskan waktu di sini, kami pun bergegas kembali. Matahari makin menurun menandakan waktu akan segera gelap. Abang pemandu yang lain bilang, kita harus lebih cepat, sebab kalau hari sudah gelap kapal tak bisa melihat jalan. Kami pun mengijuti instruksinya.
Perjalanan pulang waktu itu sudah pukul 6, sampai setengah oerjalanan tersebut terdengar samar suara azan yang syahdu dengan iringan bising mesin kapal. Kami yangbsedari tadi bermain air, mengigil tak tahan. Saat diperjalanan itu, aku bisa melihat dua atau tiga kali jembatan penghubung jalan raya.
Air sore semakin dingin, aku rapatkan kaki dan melioat tanganku. Melepas pelampung semakin membuat aku kedinginana rupanya. Akhirnya aku pasang kembali pelampung itu. Dalam hati mengumbar, cepatlah sampai, Langit pun semakin gelap, burung-burung di langi berkicauan. Sempat pula di tengah perjalan, sekelompo monyet ekor panjang, duduk dan bergelantung melihat langit yang ingin buru-buru berpamitan. Perjalanan luar biasa, semoga dalam 3 bulan mendatang ada liburan lagi.
| dok. Pribadi Lokasi: Air Terjun Palimbek |
| dok. SRI lokasi: Air Terjun Palimbek. Foto bareng akhwat SRI kecuali yang pakai jas hujan hijau |
| dok. Pribadi Lokasi: Green Canyon |
| dok. SRI Lokasi: Batu Petak |
| dok. Pribadi Lokasi: Air Terjun Gulamo |

masyaallah ukhtea..
BalasHapusAlhamdulillah bisa main2 Diannn <3
BalasHapus